Menu Close

Terkunci Di Syurga

0Shares

Hari yang biasa saja. Tidak tampak kegejala-gejala yang mencurigakan. Matahari masih istiqomah terbit dari barat. Dan kicau burung mulai bersahutan dengan latar semburat mentari menelusup di antara hijau dedaunan.

Dan seperti yang sudah-sudah, jam-jam setelah Shubuh adalah permulaan untuk melakukan aktivitas berangkat ke tempat kerja. Saya melakoninya sejak tiga tahun yang lalu. Menjadi pekerja yang hampir selalu terlambat datangnya. Menjadi pekerja dengan kepala yang dipenuhi dengan ribuan pertanyaan tentang kehidupan. Di antaranya, kenapa manusia-manusia ini mau-maunya melakukan aktivitas secara bersamaan. Para pelajar berangkat sekolah bebarengan dengan karyawan-karyawan berangkat ke kantor. Nanti jika fix diterapkan sekolah lima hari sekolah dengan durasi 7-8 jam setiap harinya, para pelajar dan karyawan bertemu di jalanan tidak hanya di waktu pagi. Mereka juga akan bertemu pada waktu senja. Pada saat mereka pulang ke rumah berkumpul dengan sanak kadang masing-masing. Jika weekend melanda, jalanan semakin tumpah ruah yang tekadang memicu lahirnya sumpah serapah karena saling berebut jalanan. Hampir setiap pagi, sebelum berangkat pertanyaan-pertanyaan sejenis itu menggelayut di pikiran saya. Tapi saya belum tahu, untuk apa pula saya bertanya?

Selalu, istri tercinta menjaga saya agar tidak terlelap lagi setelah Shubuh. Dia tahu, saya adalah tipe laki-laki yang kurang akrab dengan apa itu kerajinan. Kurang sanak dengan apa itu ketekunan. Dan memang kekurangan saya pada bagian-bagian itu. Untuk kelebihan, mungkin saya kelebihan stok imajinasi. Sering membayangkan yang tidak-tidak. Kapan ada mobil terbang tanpa ban? Kapan ada motor tanpa pajak? Kapan ada angkutan yang ngerong dengan jalur di bawah tanah di kedalaman tertentu? Dan kapan ada kekuasaan tanpa kerakusan? Saya mengkhayalkan itu semua. Dan istri saya adalah perempuan yang siap sedia menampung segala jenis kekonyolan imajinasi saya. Seperti pertanyaan di bawah ini.

“Besok kalau anak kita SMP apa diperbolehkan naik motor ke sekolah?” tanya saya.

“Lebih baik jangan.”

“Aku tahu solusinya supaya anak kita pas SMP nggak minta naik motor sendiri ke sekolah.”

“Gimana yah?”

“Nggak usah sekolah.”

Begitu waktu menunjukkan pukul enam pagi, saya sudah harus bergegas masuk ke kamar mandi. Karena tubuh saya punya mekanisme yang saya tidak bisa mencegah untuk memajukan atau memundurkannnya barang semenit atau dua menit. Setiap pagi, alhamdulillah masih diperkenankan untuk lancar buang kotoran. Kalau belum buang kotoran tingkat keikhlasan saya untuk menjalani hidup berkurang tujuh puluh persen. Jadi begitu masuk kamar mandi yang saya lakukan hanyalah hal yang sederhana. Jongkok. Setelahnya biar berjalan sewajarnya saja.

Plung plas plung plas byuuuuurrrr byuuuuuurrrr….

Sudah seperti mencicipi nikmatnya syurga kawan……

Emang sudah pernah ke syurga? Lha siapa tahu aja sudah pernah. Perkara nanti rasanya ternyata tidak seperti itu, urusannya belakangan. Karena kenikmatan di dunia sudah cukup lama identik dengan nuansa syurga. Nuansa keleluasaan. Nuansa keluasan yang menghampar. Nuansa permintaan yang dikabulkan tanpa itung-itungan. Nuansa yang aaaahhhh….

Emang tahu nuansa syurga? Lha kalau ternyata masih salah lagi ya, lagi-lagi itu urusannya nanti. Yang penting selama masih bisa plung plas plung plas setiap pagi, disyukuri saja. Daripada nggak bisa keluar? Emang enak masuk terus tanpa keluar? Mleba-mlebu ora metu-metu ya repot lek.

Untuk urusan masuk-keluar ini saya punya formulasi sendiri. Dan saya menjadi tahu perbedaannya orang yang menjalin hubungan dengan lawan jenis setelah menikah dan sebelum menikah atau ketika dalam proses pacaran. Kalau orang pacaran yang penting asal bisa keluar. Kalau orang yang sudah menikah, yang penting harus masuk dulu. Penerapannya seperti apa? Silakan ditadabburi oleh  jamaah sekalian. Kok ya kurang gawean men mentadabburi temuan ora cetha ngene iki.

Masih dalam urusan masuk-keluar ini pula, di suatu pagi yang biasa saja tadi dengan Jokowi masih sebagai presiden RI, saya mengalami kejadian yang naas. Kejadian yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Kejadian yang saya harus memberanikan diri dan mengumpulkan sekuat energi untuk menuliskannya.

Saya,

Terkunci,

Di kamar mandi….

Kronologinya, gagang pintu kamar mandi rumah kontrakan saya memang dalam kondisi yang sangat tragis. Tahu kan ya, gagang pintu yang kalau bagian tengahnya dipencet langsung otomatis mengunci. Karena pantat sudah mengeluarkan bunyi ‘sirine’ disertai aroma yang menurunkan selera makan, dengan buru-buru saya masuk ke kamar mandi dan menutup pintu cukup keras. Pintu tertutup dengan meninggalkan rambatan bunyi seperti ada bagian yang patah atau rusak. Perasaan saya sudah berkecamuk. Tapi hasrat hajat harus dituntaskan. Setelah dirasa cukup, yang biasanya saya langsung menyambungnya dengan mandi, tapi karena perasaan saya sudah berprasangka yang bukan-bukan, saya kembali berpakaian dan langsung memegang gagang pintu. Saya mencoba memutarnya. Saya coba. Saya coba lagi. Saya coba terus. Saya coba memutarnya bertubi-tubi.

Bajindul!

Deal! Saya terkunci di kamar mandi. Saya gedor-gedor pintu namun tak ada respon dari istri saya. Mungkin dia ketiduran di kamar dan tidak mendengar saya berteriak-teriak. Saya mencari cara, tapi tak ada apa-apa di dalam kamar mandi selain sebatang sabun, dua sikat gigi, dan satu pasta gigi. Satu lagi, buku bacaan. Karena buang air besar disertai membaca kenikmatannya ganda. Barang-barang tersebut tidak cukup membantu. Dari sini saya jadi tahu, buku meski pun gudang ilmu, tapi kadang juga menjadi tak laku untuk mencongkel pintu. Iki aku kudu piye Gusti….

Saya berusaha seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi hasilnya nihil. Saya panik dan akhirnya berteriak-teriak memanggil-manggil istri saya. Akhirnya istri saya merespon. Kemudian dia mencoba membuka pintunya dari luar. Sayang, masih tidak bisa terbuka. Akhirnya saya bekerja sama dengan istri entah bagaimana caranya supaya pintu kamar mandi bisa terbuka. Saya memegang gagang pintu dari dalam, istri saya memegangnya dari luar. Kami putar-putar secara bergantian. Untungnya karena kondisi gagang pintu yang sudah menyedihkan, maka setelah beberapa kali putaran, perjungan kami menampakkan hasil. Gagang pintu kamar mandi mulai menunjukkan tanda-tanda dapat dibuka.

“Alhamdulillah yah. Kok ayah bisa terkunci di dalam sih?” tanya istri.

“Ya nggak tahu. Kalau tahu akan terkunci di dalam kamar mandi, ya ayah nggak mungkin masuk dong. Mana udah jam segini lagi. Telat lagi.”

“Biasanya emang gimana?” istri meledek.

“Iya telat. Sekalian ijin saja. Mau memperbaiki gagang pintunya.”

“Heleeehhh…”

Untunge ayah sing kekunci bun. Ora bunda.”

“Hihihiii….”

Baru terkunci di dalam kamar mandi saja paniknya sudah na’udzubillah. Kemudian imajinasi saya melanglang buana. Bagaimana kalau terkunci di dalam neraka? Tidak bisa keluar. Gagang pintunya rusak. Malaikat Malik tidak bisa membukanya. Para penghuni di dalamnya apalagi. Minta bantuan malaikat Ridwan, malaikat Ridwan sedang bertugas di pintu syurga. Iya kalau gagang pintunya kecil, kalau gedenya seplanet Uranus? Mau disongkel pakai apa? Paku bumi?

Itu kalau terkunci di neraka. Kalau terkunci di syurga? Lebih enak? Saya rasa yang namanya terkunci di mana pun kok nggak ada yang enak. Apalagi terkunci di syurga, tanpa pernah diijinkan bertemu dengan Rabb-nya….

Itu imajinasi saya semata… maaf ya…

Oleh: Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait