Menu Close

Reborn Soetharnov

0Shares

2 tahun ini jagad perfilman Indonesia dihebohkan kembali dengan dimunculkan kembali warkop bertajuk Reborn. Segala ingatan orang akan Warkop tentu tak akan lepas dari lawakan trio jebolan prambors itu. Lalu minggu kemarin muncul momentum nostalgia juga buat saya, mungkin juga untuk generasi 90’an. Betapa tidak, sebuah band yang vakum cukup lama, band yang dulu sangat sering menghiasi dinding telinga, bahkan bajakannya beredar dipasar-pasar, mulai tampil kembali. Animonya jangan ditanya, konser yang live disalah satu televisi swasta tersebut mampu menempati Top Trending Topic di salah satu media sosial terkemuka. Padi Reborn konser tersebut dinamai.

Berbicara soal Reborn atau kelahiran kembali memang tidak sekedar soal kenangan yang dihadirkan kembali, namun juga soal pembaruan yang dibawa oleh proses perjalanan yang dialami.

Dalam berbagai hal di alam kita banyak melihat bagaimana pohon pisang terus berganti pelepah, ulat menjadi kupu, rekahan-rekahan pohon trembesi, atau ular nlungsungi semua punya kesadaran berproses untuk menuju kesempurnaan, menuju kesejatian puncaknya kembali kepada Sang Pemilik Semesta.

Manusia tentu tak lepas dari itu semua dalam berbagai ajaran banyak kita temukan soal Reborn memakai istilah reinkarnasi, karma, kelahiran baru, taubat, dll. Seperti ada gelombang besar yang ditangkap oleh orang-orang suci “bahwa manusia harus semakin baik setiap detiknya”. Manusia selalu berproses setiap detiknya dihantam berbagai kejadian, masalah, berkat, dan skenario-skenario lain yang sudah disiapkan, yang mau tidak mau manusia harus benar-benar hati-hati memilih lakonnya. Reborn selalu terjadi dan dinanti pertanggungjawabannya kelak ketika manusia dipanggil kembali.

Meski ternyata reborn tak selalu positif, yang menuju arah negatif juga semakin tak terbendung, seperti dalam sebuah kelakar Cak Nun, Roh Gusdur bertemu dengan Roh pak Harto,

Sakniki teng truk-truk kathah gambare jenengan kalih tulisan “Piye le lak sik penak jamanku tho?”

Lah kok isa Gus? Tanya pak Harto

Lha nggih wong jaman biyen Suharto ne mung jenengan, sakniki do Pingin dadi Suharto kabeh.

Demikian kelakar banyaknya persoalan negeri yang silang sengkarut dan tergerus materialisme, yang kadang saya sebagai rakyat harus tertawa keras ketika ada tokoh sakti yang sakit ketika dipanggil lembaga pemeriksa, namun bisa datang dikondangan raja. Atau soal korupsi tugu pemberantasan korupsi, kan dhagelan, tapi mungkin rakyat malah asik menikmati dagelan, sudah terbiasa melihat fail reborn yang begitu-begitu. Atau kita suruh pak Harto Reborn lagi saja biar jelas siapa rahwananya ? Enggak ding, becanda. 😀

Sragen, 14 november 2017

Indra Agusta

Tulisan terkait