Menu Close

Berbagi Sejak Dini

0Shares

Beberapa hari yang lalu ada kejadian yang cukup menggelikan namun sarat pembelajaran. Begini ceritanya; siang itu keponakan saya yang bernama Isya (2,5 th) sedang makan siang ditemani simbah putrinya, yang biasa dipanggil Uti. Disebuah piring plastik berwarna merah terdapat secuplik nasi putih dan sepotong telur ceplok goreng sebagai lauknya. Meski baru berumur 2,5 tahun, Isya mau-nya makan sendiri dan selalu berontak jika Uti-nya hendak menyuapinya. Isya termasuk balita aktif. Aktif bicaranya, aktif gerak-geriknya bahkan cenderung hyperaktif ketika sedang ngutek-ngutek mainan-nya. Saya yang saat itu sedang duduk santai diruang sebelah, sesekali mengamati Isya dari kejauhan yang tengah sibuk makan siang diserambi rumahnya. Karena Isya tidak mau disuapin, Utinya masuk kedalam rumah untuk menyapu. Isya dibiarkan makan sendiri. Karena dia memakai sendok orang dewasa, maka setiap kali mau memasukkan nasi kedalam mulutnya, hanya sebagian saja yang masuk dan sebagiannya lagi jatuh berantakan. Alhasil butir-butir nasi itupun berceceran dimana-mana. Saya cuma nyengir sendiri menyaksikan tingkah lucu keponakan saya itu.

Selain aktif, Isya juga anak yang cerdas dan memiliki daya ingat yang kuat. Meski baru berumur 2,5 tahun, Isya sudah tahu banyak nama hewan dan sangat jelas menyebut nama-nama hewan, seperti ; ayam, cicak, semut, tikus, burung, sapi, nyamuk, anjing, embek (menyebut kambing) dll. Saat lagi asyiknya makan, tiba-tiba Isya dihampiri seekor induk ayam. Spontan Isya memanggil-manggil si induk ayam lantas melemparkan potongan-potongan telur dengan maksud memberinya makan. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Tak disangka hal tersebut mengundang ayam-ayam yang lain untuk ikut nimbrung “makan siang” bersama Isya. Hebatnya Isya tidak merasa risih atau takut ketika dirinya dirubung oleh genk Ayam. Ia justru dengan setia membagi nasi dan telurnya kepada ayam-ayam yang seolah teman karib-nya tersebut. Saya yang masih duduk dikursi ruang sebelah lagi-lagi hanya mesem dewe dan tak lupa mengambil gambar Isya dengan kamera handphone.

Kini nasi dan telur diatas piring sudah habis. Habis bukan karena habis dimakan Isya, tetapi habis dibagi-bagikan kepada teman-temannya (baca; Ayam). Tak lama kemudian, Simbah Utinya menghampiri Isya. Beliau nampak gembira ketika melihat piring didepan Isya sudah bersih.

“Waah.., pinter tenan putuku wedok..”
Puji sang Simbah kepada cucunya itu. Namun Isya nyerocos, seakan memberitahu Utinya kalau nasi dan telurnya habis dimakan ayam.

“Teyung√© di mam ayam Ti..,

teyung√© di mamam ayam Ti..”

Kalimat tersebut meluncur polos dari mulut Isya dengan aura gembira. Sontak simbah Utinya nggrundel ndak karuan, bengak-bengok memprotes. Ternyata telurnya ndak dimakan Isya tapi malah dikasihkan sama Ayam.

“Piyee tho nduk-nduk, kok malah diwehne ayam ki..,, terus kowe mam opo?’

Wis pokoke besok didulang Uti wae.”

Gerutu mbah Uti jengkel sambil memunguti butiran nasi yang menempel di baju dan kaki Isya. Dan saya terus mengamati kejadian lucu tersebut sembari menahan tawa sekaligus bangga.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa diatas?. Realita yang terjadi sekarang ini, banyak dari kita selalu lebih dulu menilai negatif atas sesuatu. Lebih gampang mencari keburukan atas kejadian/ peristiwa. Sangat mudah untuk membicarakan kejelekan orang lain. Padahal hakikat hidup didunia ini selalu berpasangan/ berjodoh. Ada negatif ada positif. Ada buruk ada baik. Ada hitam ada putih dan seterusnya.

Kembali pada konteks cerita diatas, kenapa Utinya Isya nggrundel atas kelakuan Isya yang membagi makanannya buat ayam. Kenapa menilai negatif dulu, kenapa kok langsung marah dan menyalahkan. Kenapa kok tidak melihat dari sisi baik atau positifnya dulu. Kalau kita nilai dari sisi positif dulu, maka apa yang dilakukan Isya itu sangatlah mulia. Ia dengan sukarela, tanpa paksaan, tanpa diminta mau membagi makanan-nya kepada si ayam. Padahal notabene ayam adalah seekor binatang. Bukankah berbagi itu sangat mulia, terlebih lagi kepada selain manusia.

Terlepas bahwa Isya masih balita, belum njowo, belum paham benar dengan apa yang dilakukannya itu, tapi paling tidak kita bisa belajar kepadanya (Isya) tentang kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Peka untuk senang berbagi dan memberi.

Dan hari ini saya belajar dari seorang balita berumur 2,5 tahun, keponakan saya sendiri. Detik ini juga, mari bersama-sama kita mulai ajarkan kepada anak-anak kita, adik-adik kita, murid-murid kita untuk membudayakan sikap berbagi sejak dini, agar kelak mereka menjadi pribadi yang peka, santun, solider dan bermanfaat bagi yang lain. Dan mulai dari sekarang, perlahan-lahan kita ubah mindset kita, cara pandang kita, untuk selalu berbaik sangka (positif thinking) dalam menilai seseorang, sesuatu atau peristiwa apapun.

11 Juni 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait