Menu Close

Yang Sejatinya Sejati

0Shares

“Rindu kami padamu Ya Rasul

Rindu tiada terperi

Berabad jarak darimu Ya Rasul

Serasa dikau di sini

 

Cinta ikhlasmu pada manusia

Bagai cahaya suwarga

Dapatkah kami membalas cintamu

Secara bersahaja…”

 

Bait kalimat di atas adalah penggalan lirik lagu religi berjudul: RINDU RASUL yang sempat populer di bawakan oleh grup vokal Bimbo.

Entah ada daya magis apa, setiap kali mendengar lagu tersebut saya mendadak trenyuh dan tak bersuara. Bahkan airmata ini tumpah dengan sendirinya. Tidak hanya pas mendengarkan saja, pun ketika saya coba melantunkan syair demi syair lagu tersebut, seketika dada ini sesak di ikuti sekujur tubuh merinding dan gigil.

Ya Nabi salam ‘alaika, sungguh kami rindu padamu Ya Nabi, rindu yang tiada terperi. Sholawat dan salam kami haturkan selalu kagem baginda Nabi Muhammad SAW. Memang benar, antara Kanjeng Nabi dan kami terpaut berabad jarak, namun sungguh aura, figur dan cinta kasihmu nyata kami rasakan hingga saat ini.

Muhammad adalah kekasih Allah. Barang siapa mencintai kekasih Allah maka Allah akan balas mencintainya. Nur cahaya Muhammad telah menerangi kegelapan dunia, telah merahmati alam semesta. Sejatinya umat manusia sekarang tinggal enaknya saja. Tinggal mengikuti apa-apa yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi maka selamat kita. Namun sayang sekali, masih banyak manusia enggan memilih jalannya Nabi dan mungkin termasuk saya ini. Maafkan kami Yaa Rasul, kami sangat mencintaimu namun masih semu, kami juga teramat rindu padamu meski terasa palsu.

Alhamdulillah, sudah hampir 7 tahun saya menjadi bagian kecil dari Jamaah Majelis Masyarakat Maiyah. 5 tahun menjadi Jamaah Kenduri Cinta Jakarta dan sekarang rutin ngangsu kawruh  di Majelis Mocopat Syafaat Yogyakarta. Saya merasa beruntung luar biasa digiring Allah untuk ‘keblasuk’ di Majelis Maiyah. Memang, pada awal melingkar dan sinau bareng di Forum Maiyah muncul perseteruan sengit dalam benak saya. Di saat hasrat mendambakan menjadi orang terkenal, di Maiyah saya direm untuk menahan diri. Saya nusang jempalik untuk meraih predikat dan gelar agar disegani orang, tapi di Maiyah diajarkan bahwa semua manusia sama dan sejajar. Ketika saya mati-matian untuk menunjukkan eksistensi buah karya saya selama ini, lagi-lagi di Maiyah saya diwejangi agar menempuh jalan sunyi.

Apa-apaan ini, kenapa Maiyah serasa mencekal misi dan mimpi tinggi saya. Jelas ini bertolak belakang 180° dengan obsesi saya selama ini. Cobaan apa lagi ini Tuhan. Gerutu saya pada awal nyemplung di Forum Maiyah. Dan Allah benar menunjukkan kebesaran-Nya. Pelan-pelan saya disawuri ilmu-ilmu baru, sedikit demi sedikit tapi continue saya mampu untuk belajar menyerap-mencerna-memahami apa itu ilmu “menahan diri” dan menempuh “jalan sunyi”. Saya diajari langsung, ditatar, dipoles, digembleng habis-habisan oleh pelaku utama jalan sunyi. Tidak lain dialah Simbah guru Jamaah Maiyah Nusantara ; Muhammad Ainun Nadjib atau akrab di sapa Cak Nun. Dan saya pribadi lebih nyaman dan mesra memanggil beliau Mbah Nun.

Mbah Nun memilih jalan sunyi, jalan yang sepi, yang tidak banyak orang mau melewati. Beliau menjauh dari mainstream dan panggung hingar-bingar. Simbah menghabiskan waktunya untuk melayani masyarakat se-antero bumi Indonesia bahkan belahan dunia. Tanpa lelah, tanpa transaksi dan tanpa ekspos sorot media. Simbah turun gunung, keluar masuk kampung, melayani kaum lapisan bawah dan siapa saja untuk ndandani pikiran, hati, moral, sikap hidup demi keberdaulatan anak-cucu bangsa Indonesia.

Di mata saya, Simbah adalah multi-talenta. Beliau seorang guru, pemimpin, penasehat sekaligus ayah, simbah dan sahabat bagi semua. Mengajarkan nilai-nilai agama, sosial-kemasyarakatan, seni budaya, politik dan hampir seluruh lini kehidupan di sampaikan beliau dengan cerdas dan mencerdaskan. Baik melalui tulisan-tulisan (puisi-esai-kolom-buku), forum diskusi, pementasan dan juga seabrek karya lagu bersama grup Kiai Kanjeng yang di asuhnya. CNKK menjelma menjadi “klinik” berjalan yang senantiasa ngobati larane ati menungso, mengguyub-rukunkan perselisihan, mencairkan ketegangan serta menjelma “bak sampah” atas segala keluhan berbagai permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Namun hebatnya Simbah tak pernah mengeluh, ndak nggresulo sedikit-pun. Beliau tetap melayani dengan welas asih. Membalas kebencian dengan cinta, menjawab fitnah dengan cinta, bersedekah cinta pada Indonesia padahal bangsa ini masih punya ‘hutang’ kepada Simbah. Bahkan orang-orang yang sempat menyantetnya dan ingin membunuhnya tetap di elus-elusnya. Itulah Mbah Nun,  sosok sederhana tanpa gelar, titel atau pangkat yang melekat pada namanya. Bukan pejabat, bukan konglomerat, bukan pula selebriti. Juga tak mau disebut ulama, da’i, ustadz ataupun kiai.

Maka tak bisa di pungkiri, bahwasanya yang dilakukan Simbah selama ini mirip dengan apa yang di lakukan Kanjeng Nabi pada masa dulu. Berdakwah, mengajak umat untuk sama-sama belajar mencari apa yang benar bukan siapa yang benar, sinau menuju jalan Tuhan (shirattal mustaqim). Mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mengajak dengan cinta bukan paksa. Merangkul dengan cinta tanpa dakwa. Sudah amat langka sosok seperti Emha di Republik ini. Seorang yang rela jiwa-raga memberikan apa saja untuk kemuliaan dan keselamatan hidup anak-cucu bangsa.

Saya dan mungkin kita semua rindu pada figur guru dan pemimpin laksana Baginda Nabi. Pemimpin yang lembut, santun dan berbudi. Guru yang mendidik lewat teladan yang mulia. Kepengin sangat rasanya diri ini bisa nggondheli klambine Kanjeng Nabi. Tapi apa mungkin bisa, engkau kini telah di peluk mesra sang Illahi sedangkan kami masih kotor, najis dan njijiki.

Syukur Alhamdulillah. Kini ada satu cara untuk sedikit mengobati haus rindu saya kepada keindahan akhlak Baginda Nabi. Semoga ini tidak berlebihan, lebay, pamer apalagi mengkultuskan. Tidak! Semoga Allah berkenan mengampuni kelancangan saya. Dapat saya temukan sosok satu level di bawah Nabi atau wali pada diri Mbah Nun. Bagaimana tidak, sepanjang hidup terus menebar kebaikan meski dibenci, dihina, difitnah, dimanipulasi dan mau diapakan saja beliau terima. Sebab apapun yang beliau kerjakan hanya untuk mengharap cinta-Nya Allah dan Rasulullah. Bukan puja-puji manusia, bukan untuk obsesi pribadi, golongan dan juga bukan bab urusan dunia semata.

Ya Allah, Ya Rahiim

Engkau tetaplah Tuhanku.

Ya Nabi, Ya Muhammad

Engkau tetap junjunganku.

Kalau sekarang saya belum bisa mencium mesra Nabi, maka saya bisa menciumi pipi Simbah kanan-kiri sebagai pelampias rindu yang tak terperi.

Jika saya belum mampu memeluk harum tubuh Nabi, maka saya bisa mendekap erat-erat tubuh Simbah sebagai wujud tresno yang membuncah.

Saya selalu gagal untuk membendung airmata, tatkala mendengar, membaca, merenungi jalan panjang perjuangan beliau. Entah dari tulisan, cerita orang, video rekaman lebih lagi saat menyimak langsung dari kesaksian beliau.

Saya atau siapa saja yang ingin mengikuti jalan cahaya Nabi, maka kita bisa meniru jejak Simbah untuk menempuh jalan sunyi, jalan untuk mencari, menemukan yang sejatinya sejati.

Sragen, Jumat 16 Juni 2017

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait