Menu Close

Memulangi Kefitrahan

0Shares

Saya pernah bertanya kenapa puasa itu diwajibkan? Apa ia punya kedudukan sama dengan diharamkannya memakan daging babi? Jadi saat itu kesimpulan saya adalah berpuasalah karena itu diwajibkan, dan janganlah seorang yang beriman memakan daging babi karena itu diharamkan. Seiring berjalannya waktu saya mendapati ustadz-ustadz modern yang mencoba menguak rahasia di balik keharaman daging babi di mana dalam kesimpulan penelitian (entah dari mana sumbernya) bahwa di dalam daging babi terdapat cacing pita berbahaya yang mana (konon dalam hasil penelitian tersebut) tidak dapat mati meskipun direbus di dalam air mendidih seberapa pun lamanya. Saat itu saya kemudian berkesimpulan, ya, oke, sekarang ketemulah jawaban mengapa babi tak boleh dimakan? Karena Tuhan tahu bahwa daging babi sangat berbahaya bagi manusia.

Tidak lama setelah itu saya mendapati dari hasil ulasan penelitian modern bahwa daging sapi juga mengandung unsur yang berbahaya. Daging sapi merupakan sumber dari adanya jenis kuman mematikan yang disebut E. Colli O157:H7 yang dapat menyebabkan terjadinya keracunan makanan yang cukup serius. Selanjutnya hasil penelitian lain menjelaskan bahwa mengonsumsi daging sapi melebihi takaran 300-600 gram per minggu dapat memicu tumbuhnya sel kangker. Dari situ saya kembali bertanya-tanya, “Loh, kok daging sapi tidak haram? Padahal bahaya juga, tidak kalah dengan bahaya daging babi”. Akhirnya untuk mencari selamat sementara waktu saya kembalikan pemahaman saya tentang halal/haram daging babi pada ketundukan terhadap teks perintah dan larangan dalam kitab suci.

Nah, untuk perintah puasa saya mencoba tetap mencari tahu. Mengapa sebenarnya manusia harus berpuasa? Lagi-lagi saya yang agak hobi mendengar ceramah ini mendapat berbagai penjelasan dari ustadz-ustadz modern yang katanya puasa itu membuat kita jadi sehat, puasa itu mengajarkan kesederhanaan, puasa itu melatih kesabaran, dan masih begitu banyak lagi tentang keutamaan pun fadilah-fadilah puasa yang diumbar di mimbar-mimbar Ramadan, bahkan bertebaran di sosial media. Saya cukup merasa mendapat penjelasan, hanya saja terkait puasa ini kesimpulan saya berbeda dengan saat saya mendapat penjelasan bahwa daging babi mengandung cacing pita. Saat mendengar kandungan daging babi, saya sempat setuju dengannya sebagai sebab keharaman, meskipun akhirnya saya kembali kepada prinsip ketundukan. Namun, tentang wajibnya puasa ini saya justru menolak 100% semua penjelasan ustadz-ustadz tersebut saat itu. Semua itu sangatlah bertentangan dengan realita yang saya alami sendiri. Puasa menjadikan kita sehat? Oke, mungkin ini benar, tapi mana yang lebih menjadikan sehat antara berpuasa dengan mengonsumsi makanan gizi berimbang? Jika sehat adalah tujuan puasa, maka perintah wajib puasa tidak lagi berlaku bagi orang yang sudah menerapkan perintah makan dan minum yang halalan tayyiban. Kemudian puasa mengajarkan kesederhanaan? Kesederhanaan yang mana? Mungkin ini hanya terjadi pada saya, jadi anggaplah ini sangat subjektif. Jadi yang saya alami sendiri saat berpuasa sebulan penuh, pengeluaran saya bisa mencapai 135% dari anggaran bulanan. Ini artinya bagi saya puasa sama sekali gagal mengajarkan kesederhanaan. Di hari biasa makan tahu tempe, teh manis pun jarang, kalau ada biasanya cukup kopi yang tidak begitu manis. Lalu saat puasa justru menunya luar biasa, mulai dari kolak, teh manis, buah-buahan, daging ayam, dan lain sebagainya.

Puasa melatih kesabaran? Oya? Bukankah saat orang lapar itu justru mudah khilaf ya? Saat di jalan di bulan puasa (apa lagi menjelang berbuka) saya tidak melihat orang jadi terlihat sabar dalam berkendara. Rata-rata pengguna jalan main srobot, bunyi klakson lebih riuh dari biasanya mulai dari klakson konvensional sampai klakson telolet. Sungguh penjelasan mengenai fadilah-fadilah puasa tak memberi saya jawaban saat itu. Kembali seperti halnya keharaman daging babi, saya mengembalikan perihal wajibnya puasa pada teks dalam kitab suci.

Penghujung Ramadan kali ini saya bertanya kembali, mengapa harus berpuasa? Saya coba mentadaburi teks perintahnya, di sana disebutkan la’allkum tattaqun yang dalam terjemahan standar kementrian agama diartikan agar kalian bertakwa. Saya terus berpikir, jadi tujuan puasa adalah bertakwa. Apa hubungannya lapar dengan takwa? Apa iya jawaban paling tepat adalah ketundukan terhadap perintah? Jika seseorang telah memutuskan untuk tunduk pada perintah atau larangan Allah bukankah itu yang disebut dengan takwa? Wah kalau benar begitu ya sudah tidak usah dicari-cari lagi penjelasan panjang lebar tentang puasa. Dengan begitu ustadz-ustadz yang mengisi kultum di masjid-masjid itu sebaiknya juga jangan menambahi beban umat dengan penjelasan-penjelasan yang justru sangat memungkinkan menjadi perusak ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya. Ah, tapi ya masak begitu? Setahu saya Islam itu agama rasional meskipun arti Islam itu sendiri memang ketundukan. Saya masih terus mencoba bertanya, hingga akhirnya saat ini sampailah saya pada pentadaburan mengenai ending dari puasa selama sebulan, yaitu hari raya Idul Fitri.

Idul Fitri terdiri dari dua kata ‘ied yang artinya kembali dan fitri artinya fitrah yang jika kita tengok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan. Jadi Idul Fitri adalah kembalinya manusia kepada kesejatian. Manusia yang sejati sesuai bakat dan potensi aslinya. Apa hubungannya dengan puasa? Oke berikut adalah hasil tadabur saya sementara.

Pertama manusia secara jasad dan naluri sama seperti binatang namun pasti berbeda. Persamaannya binatang lapar manusia lapar, binatang mengantuk manusia pun sama, binatang bersyahwat manusia tak kalah, dan masih banyak lagi. Nah, perbedaannya adalah kemampuan manusia untuk menahan yang tidak dimiliki oleh binatang. Binatang hanya memiliki insting untuk melampiaskan, sementara manusia memiliki potensi untuk melampiaskan atau menahan. Saat binatang merasa lapar ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan makanan entah dengan cara mengambil di tempat yang cukup berbahaya, menyerobot milik temannya, atau bahkan ada yang memangsa sesamanya. Manusia bisa saja seperti itu, tapi pada dasarnya ia mampu untuk tidak seperti itu. Kesadaran kemanusiaan dan kekhalifahan tentu akan mengarahkan kepada potensi menahan jika memang kondisinya demikian.

Kedua manusia terpetakan menjadi kanak-kanak dan dewasa. Saat masih kanak-kanak potensi menahan masih belum dimiliki oleh seseorang. Kemudian seiring bertambahnya dewasa maka akan mulailah muncul kemampuan untuk menahan yang merupakan kesejatian manusia itu. Makin dewasa seseorang maka makin mampu ia menahan diri terhadap apa pun. Saat masih kanak-kanak seorang bocah akan menangis atau mengamuk jika keinginannya tidak terpenuhi. Ia bisa saja mengancam sekitarnya selain suaranya yang bising ia juga memungkinkan merusak benda-benda di sekelilingnya. Lain halnya dengan orang dewasa yang mampu menahan diri. Manusia dewasa akan sangat mampu memosisikan diri kapan harus melampiaskan dan kapan saatnya harus menahan atau bahkan mengubur keinginan. Manusia dewasa akan mengolah segala sesuatunya dengan pertimbangan manfaat dan maslahat.

Lantas mengapa harus berpuasa? Di sini saya mendapatkan jawaban yang mudah-mudahan merupakan jawaban sementara. Jadi manusia yang fitrahnya mampu menahan itu terkadang lupa diri. Mungkin karena faktor lingkungan, tuntutan, dan keadaan menjadikan manusia (lebih-lebih manusia modern) kehilangan kesejatiannya. Manusia kehilangan kendali hingga akhirnya ia tak berbeda dengan binatang yang terus melampiaskan syahwat keduniaan. Manusia sering kehilangan kedewasaan hingga ia tak ubahnya anak-anak kecil yang marah jika keinginannya tidak tercapai. Oleh karena itu demi mengembalikan kemanusiaan dan kelayakan untuk terus menjadi khalifah, maka Tuhan sengaja memberikan perintah berpuasa sebagai ajang reinstal bagi manusia. Puasa akan mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Puasa memberikan kesadaran bagi manusia akan pentingnya menahan. Kesimpulan sementara saya tentang menahan ini sekaligus akan membenarkan fadilah-fadilah bahwa puasa itu membuat orang sehat, puasa mengajarkan kesederhanaan, puasa menjadikan seseorang penyabar dan lain sebagainya. Itu semua terkandung sebagai dampak dari kemampuan menahan diri.

Perintah berpuasa akan terus diulangi setahun sekali, karena sama halnya sistem komputer yang tentu akan dipenuhi file sampah atau virus dalam kurun tertentu memerlukan instal ulang. Nanti setelah 30 hari berpuasa manusia akan mendapati Idul Fitri, kemudian perjalanannya selama satu tahun akan dipenuhi dengan sampah-sampah yang mengotori kefitrahan, setelah itu Tuhan mempertemukannya kembali dengan Ramadan untuk scaning virus dan instal ulang, begitu dan begitu seterusnya. Bismillah.

Oleh: Kenyot Adisattva

Tulisan terkait