Menu Close

Para Pejalan Gaya Surakartan

0Shares

Sampai tidak terasa. Sudah tiga belas tahun saya gentayangan di wilayah Surakartahadiningrat. Datang dari kota Pati hanya berbekal ‘menyenangkan hati’ orang tua mendapatkan gelar sarjana, akhirnya waktu tertebas begitu saja hingga belasan tahun lamanya. Harga bensin premium masih dua ribu lima ratus rupiah untuk satu liternya. Akhir tahun 2004 saya sudah sampai di Solo dengan gambaran tujuan hidup yang serba blur. Sanak kadang di rumah menyarankan agar saya mengikuti ujian masuk perguruan tinggi di Universitas Negeri Sebelasmaret (seharusnya begini tulisannya supaya orang tidak salah sangka bahwa UNS adalah Universitas Negeri Surakarta). Soalnya kakak saya sebentar lagi lulus dari sana. Dipikirnya kalau kakaknya bisa kuliah di UNS, paling tidak adiknya juga bisa. Kalau bapaknya polisi, dipikirnya anaknya dengan mudah akan menjadi polisi. Kalau ibunya dosen dipikirnya anak perempuannya akan dengan mudah mendapatkan suami dosen. Kalau bapaknya presiden dipikirnya anaknya akan dengan mulus menjadi Gubernur.

Saya dibebaskan untuk memilih kuliah di jurusan apa saja asal di universitas negeri. Bagi kami, orang Pati, atau lebih tepatnya para pengangguran struktural setara SMA, kuliah keluar kota adalah harga diri tersendiri. Baik bagi si pelaku mau pun bagi keluarga si pelaku. Menjadi mahasiswa rantau adalah lebih baik daripada memelihara dan merawat sapi dan kambing di rumah. Menjadi mahasiswa adalah lebih bermartabat daripada menginjak-injak tanah sawah sendiri. Maka tidak heran jika sering terdengar cerita orang jual sawah, orang jual sapi untuk bekal mengkuliahkan anaknya supaya kelak menjadi ‘orang’ tidak sekedar manusia saja. Menjadi ‘orang’ yang ketika lebaran pulang membawa kendaraan pribadi dan segudang cerita tentang keberhasilan dan kesuksesan hidup. Wajar, karena di Pati tidak ada universitas yang dipandang cukup berkompeten menghasilkan lulusan yang berkualitas unggul, berakhlak mulia, siap bersaing di era globalisasi, dan memiliki wacana keislaman yang mumpuni, serta berlabel world class university. Di Pati, hanya ada Nasi Gandhul Pak Sardi.

Karena tidak memiliki bekal pengetahuan yang mumpuni, dengan sangat ngawur saya memilih dua jurusan. Pilihan pertama Sastra Inggris, dan pilihan kedua Pendidikan Bahasa Inggris. Damn it! Betapa saya memilih jurusan yang dengan segala perhitungan dari segi mana pun mustahil saya bisa lolos diterima. Sama seperti mendapat tendangan pinalti tanpa gawang. Tak akan pernah ada gol. Tetapi keluarga saya memberi dukungan yang luar biasa. Sampai-sampai saya harus mengikuti bimbingan belajar di Prima**** yang letaknya dulu di seberang boulevard UNS. Dengan rasa yang tak menentu saya harus melakoni episode menjemukan dalam hidup. Setiap sore selama Senin sampai Jumat belajar mengerjakan soal-soal menjelang SMPTN. Lupa kepanjangan dari apa. Kecamuk mendera. Rasa berontak merangsek menghantam rongga dada. Kecewa mendewa. Ingin marah tapi harus dialamatkan kepada siapa. Sejak kecil sampai SMA saya anti terhadap les dan bimbingan belajar. Nyinyir saya dengan yang begituan. Untuk apa? Mending main gitar di beranda rumah atau main sepak bola di tanah lapang. Shit!

Di SMA N 2 Solo saya mengerjakan soal SMPTN dengan kondisi lutut dijahit karena beberapa hari sebelumnya saya terjatuh dari motor ketika melakukan perjalanan dari Pati menuju Solo. Saya bersama teman saya terjatuh di daerah Kayen. Dan luka di lutut harus dijahit. Lakon yang tidak enak sebenarnya ini. Ruang ujian di lantai dua dan saya menahan sakit sambil menaiki tangga. Sampai di ruangan yang saya lakukan adalah satu, berdoa. Yang kedua, saya lingkari secara acak soal-soal yang dibagikan oleh pengawas. Semua saya kerjakan tanpa melihat soal. Pokoknya saya ingin segera selesai dan keluar dari ruangan. Sejak SMA setiap ujian semester saya selalu keluar ruangan mendahului teman-teman saya. Mereka mengira saya pinter. Padahal tidak sama sekali. Saya kerjakan soal dengan cepat sekali. tujuan saya satu, supaya segera keluar dari ruangan dan bisa mengambil buah talok di depan kelas. Hasilnya, pasti remidi. Bodoh amat!

Begitu pengumuman hasil SMPTN keluar di koran, saya cari-cari nama saya. Baik pilihan pertama mau pun kedua, semuanya tidak ada yang lolos. Keluarga cukup syok. Kakak saya bingung untuk mencarikan alternatif di mana adiknya harus melanjutkan studi. Karena lulusan SMA bisa apa? Lulusan SMA mau kerja di mana? Lulusan SMA? Memang bisa hidup dengan sekedar ijazah SMA? Akhirnya setelah beberapa pertimbangan, Solo tetap menjadi pilihan. Dua kakak saya dulu menimba ilmu di Solo. Bapak saya sempat menjadi public relations di pabrik Jamu Air Mancur dengan wilayah Solo Raya sebagai sasaran marketingnya selama hampir sepuluh tahun. Jadi, mungkin kalau saya tetap di Solo, saya akan aman atau gampang pengawasannya.

Alhasil, kesasarlah saya di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia atau yang sering diplesetkan menjadi Sekolah Tanpo Sinau Iso) Surakarta. Kakak pertama saya mengira saya kuliah di STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik) yaitu salah satu sekolah tinggi yang memiliki ikatan kedinasan. Nek lulus, paling ora dadi pewage negri. Kakak saya bungah tiada terkira. Setelah saya jelaskan lebih detail, ada nada sedikit kecewa.

“STSI mas. Dudu STIS. Sekolah Seni iku. Dudu sekolah statistik.”

“Lha jurusane opo?”

“Etnomusikologi.”

“Opo iku? Nek lulus dadi opo?”

“Musik. Nek lulus ya embuh. Mlebune lagi ae kok we takok lulus. Yo gak reti aku.”

Ibu saya tidak bertanya lebih banyak. Yang penting kuliahnya di negeri dan tidak terlalu memakan biaya yang banyak. Memang biayanya tidak seberapa, tapi durasi kuliah saya yang agak istimewa. Delapan tahun sembilan bulan. Sekedar informasi, STSI adalah cikal bakal ISI. Institut Seneng-Seneng Indonesia. Nek seneng.

Dengan durasi kuliah yang cukup nggilani lamanya itu, ternyata saya dipertemukan dengan berbagai macam manusia. Khususnya manusia-manusia dengan model peradaban gaya Surakartan. Tentu saja gaya Surakartan ini berbeda dengan gaya Pati. Misalnya, hanya di Solo ini saya menemui ada bos, tetapi malah jadi suruhan.

“Bos, jupukne kae bos.”

“Bos, bayari sek ya bos.”

Menurut kaca mata saya sebagai orang Pati, orang Solo itu lembut-lembut dan ramah perilakunya, serta halus tutur katanya. Tidak gampang marah. Semanak. Pokoke cepet dadi sedulur. Saya, sedikit membuktikan itu dulu. Saya sering numpang makan di rumah teman-teman kuliah saya yang asli Solo. Bahkan numpang makan di rumah pacarnya teman saya juga. Saya jadikan langganan.

“Mboke yangmu masak opo? Kowe ora dolan rono?”

Antara mereka memang baik atau kasihan melihat tubuh kurus saya.

Banyak saya dapatkan sedulur di Solo ini. Karena saya pikir, setiap bagi setiap pendatang tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada tambah paseduluruan. Satu hal yang cukup langka dan mahal harganya saat ini mengingat begitu heterogennya masyakart Solo. Berbagai macam aliran ada. Berbagai macam mahzab ada. Tetapi pemenang pemilihan wali kota selalu dari partai yang itu saja. Ini kan aneh pemirsa?

Hingga suatu malam saya ketemu sedulur tua saya yang sekarang tinggal di Jogja. Beliau berpesan dua hal kepada saya. Satu, tetap menjaga istiqomah menulisnya. Yang kedua, tolong temani sedulur-sedulur di Solo.

Oh begituuuu, baiklah kisanak. Saya ambil kuda dulu. Segera saya tunaikan tugas itu. Hiyaaa hiyaaa hiyaaa….”

Dan sejak saat itu saya dipertemukan dengan Para Pejalan Gaya Surakartan……

“Boooosss, bayari sek bossss…..”


Oleh: Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait