Menu Close

Tidak Ada Yang Tidak Religi

0Shares

Setiap mendengar lagu-lagu dari band Letto, entah kenapa selalu membuat saya mengernyitkan dahi lalu diam sejenak. Kernyitan dahi tersebut adalah bentuk rasa heran dan ketidakfahaman saya. Sedangkan diam itu maksudnya berfikir, mencoba memahami apa maksud dari setiap baris lirik yang tertulis. Buat saya memang tidak cukup sekali mendengar lagu-lagu Letto agar bisa tahu dan paham makna apa yang terkandung di dalamnya. Butuh mendengar berulang-ulang kali untuk sanggup mencerna dan ngonceki isinya. Itu semua tidak lepas dari seorang lelaki genius yang paling berperan dalam menulis lirik di hampir semua lagu karya Letto selama ini. Dialah Sabrang Mowo Damar Panuluh atau kita lebih mengenalnya dengan nama Noe Letto.

Kepiawaian Noe dalam menulis lirik lagu memang sudah tidak di ragukan lagi. Selain ia mengenyam dan lulus dengan predikat cumlaude di perguruan tinggi Canada, Noe lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang agamis, berbudaya dan berintelektual tinggi. Seperti kita ketahui bersama di mana Ayahanda Noe adalah seorang budayawan besar Indonesia sekaligus sang kiai, meskipun beliau tidak mau di sebut kiai. Muhammad Ainun Nadjib atau akrab di sapa Cak Nun sebagai seorang ayah telah mewarisi darah seni tingkat tinggi pada sang anak serta mengajarkan kecerdasan logika, pola pikir, kepekaan rasa dan nilai-nilai sosial.

Hampir semua lagu Letto tersaji indah dan sarat filosofi. Ada beberapa nomor yang saya suka, baik dari sisi aransemen nada maupun bait lirik-liriknya. Di antaranya; Sebelum Cahaya, Sandaran Hati dan Memiliki Kehilangan. Tak di pungkiri memang bahwa musik/ lagu adalah bahasa universal, cair dan luas. Tidak ada aturan maupun pijakan baku untuk menginterpretasikan-nya. Setiap orang bebas dan merdeka untuk memahami serta memaknai sebuah lagu menurut cara pandang masing-masing. Begitu juga dengan saya, sebagai penikmat lagu serta pengagum karya Letto, saya mencoba untuk sedikit menyumbang pemahaman tentang lagu-lagu karya Letto sejauh yang mampu saya pahami.

Pertama adalah nomor Sebelum Cahaya. Melihat judul lagu ini saja kita sudah dipaksa untuk berfikir. Ada dua kata pada judul di atas; sebelum dan cahaya. Kata sebelum mungkin mudah untuk kita pahami tetapi untuk kata cahaya, kita harus jeli menimbang-nimbang lagi. Kata cahaya di atas mengandung banyak arti. Sebelum saya coba memaparkan makna lirik versi saya, mari kita baca dengan seksama penggalan lirik lagu Sebelum Cahaya berikut ini;

“Ku teringat hati yang bertabur mimpi, kemana kau pergi cinta

Perjalanan sunyi yang kau tempuh sendiri, kuatlah hati cinta

Reff

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya

Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra

Yang kan membelaimu cinta

Kekuatan hati yang berpegang janji, genggamlah tanganku cinta

Ku takkan pergi meninggalkanmu sendiri, temani hatimu cinta”

Menurut hemat saya, lirik di atas menggambarkan tentang dialog antara dua kubu, yaitu Aku dan cinta. Di mana Aku di sini sebagai Tuhan sedangkan cinta adalah makhluk yang di cintai Tuhan. Lalu pertanyaan-nya adalah siapakah makhluk yang paling di cintai Tuhan? Siapakah gerangan orangnya?? Dan saya mantap memilih satu nama yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Beliau-lah makhluk yang paling di cintai oleh Allah SWT. Nur Muhammad adalah cipratan Cahaya Tuhan. Selanjutnya pada kalimat “perjalanan sunyi” menyiratkan sebuah pesan. Pesan dimana Allah telah memperjalankan Baginda Nabi pada malam hari, yang mana kita kenal dengan peristiwa Isra’ dan Miraj. Isra’ ialah perjalanan horisontal dari Haram ke Aqsa. Sedangkan Miraj merupakan perjalanan vertikal, dari bumi menuju Singgasana Tuhan di Sidratul Muntaha. Nabi memperoleh perintah agung dari Allah SWT untuk menegakkan sholat 5 waktu. Muhammad yang seorang manusia biasa tentu merasa takut sekaligus takjub ketika mengalami perjalanan spiritual nan magis tersebut. Nalar, logika, ilmu pengetahuan, tekhnologi tak akan mampu untuk menjangkaunya. Iman adalah satu-satunya cara untuk meyakini bahwa peristiwa Isra’ dan Miraj itu real, nyata, benar adanya.

Allah hendak meyakinkan pada Kanjeng Nabi jika Dia (Allah) tidak akan membiarkan cinta-Nya sedih-susah-berduka sendiri. Dia akan selalu membersamai, menemani perjalanan-nya. Jadi bisa kita maknai bahwa judul Sebelum Cahaya adalah momentum malam buta sebelum munculnya cahaya yaitu sinar surya. Dan pada malam buta tersebut terjadilah peristiwa maha penting yaitu Isra’ Miraj.

Yang kedua lagu berjudul Sandaran Hati. Kebanyakan dari kita jika bicara tentang sandaran hati atau sejenisnya maka kita selalu beranggapan jika yang di maksud sandaran hati adalah pacar, kekasih hati atau pasangan hidup. Memang tidak ada yang salah dengan anggapan seperti itu, namun lirik dalam lagu Sandaran Hati memiliki makna yang lebih dari itu, lebih dalam, lebih nggreget dan lebih tinggi. Mari kita simak liriknya berikut ini;

“Yakinkah ku berdiri di hampa tanpa tepi bolehkah aku mendengarmu

Terkubur dalam emosi tak bisa bersembunyi aku dan nafasku merindukanmu

Terpurukku di sini teraniaya sepi dan ku tahu pasti kau menemaniku

Dalam hidupku kesendirianku

Reff

Teringat ku teringat pada janjimu ku terikat hanya sekejap ku berdiri ku lakukan sepenuh hati

Peduli ku peduli siang dan malam yang berganti sedihku ini tak ada arti jika kaulah sandaran hati

Inikah yang kau mau benarkah ini jalanmu hanyalah engkau yang ku tuju

Pegang erat tanganku bimbing langkah kakiku aku hilang arah tanpa hadirmu

Dalam gelapnya malam hariku”

Nilai yang saya tangkap dari lirik di atas lebih menjelaskan tentang seorang manusia sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan Rabb’-Nya. Hidup di dunia ini tentu banyak lika-likunya, berbagai cobaan, ujian bahkan musibah seringkali menghampiri kita. Saat kita jatuh dan terpuruk dalam menjalani hidup maka hanya ada satu cara agar kita tetap bisa survive. Yaitu kembali mengingat, mengimani dan percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dialah yang menggenggam nyawa, rezeki, jodoh, hidup-mati kita. Semua yang ada pada kita sekedar pinjaman dari-Nya dan pasti akan kembali kepada-Nya (Innalillahi wa inna ilaihi raji’un). Kita ingat dan ikat hati kita dengan kalimat syahadat. Kita tegakkan sholat pada siang dan malam hari dengan sepenuh hati sebagai bentuk penghambaan kita. Dan tak lupa terus berdoa memohon petunjuk agar langkah kaki kita di bimbing ke jalan lurus-Nya (Ihdinas syiraattol Mustaqiim). Pada intinya segala kesedihan dan kesusahan hidup kita ini tidak akan berarti jika Allah-lah yang menjadi Sandaran Hati kita.

Mungkin seperti itulah benang merah yang bisa kita ambil dari lagu Sandaran Hati.

Dan lagu yang ketiga adalah Memiliki Kehilangan. Judul lagu ini sangat menggelitik hati saya, mari kita telaah bersama-sama lirik di bawah ini;

“Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada

Matimu tetap merasa masih memilikinya

Rasa kehilangan hanya akan ada

Jika kau pernah merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna

Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa

Rasa kehilangan hanya akan ada

Jika kau pernah merasa memilikinya

Lagu ini sangat syahdu-merdu mengalun. Sangat memanjakan telinga dan suasana jika kita mendengarnya. Terlebih lagi saat malam tiba. Poin penting dari lagu Memiliki Kehilangan dapat kita temukan pada bait lirik;

“Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya”.

Hal ini mengajarkan kita tentang nilai yang teramat mahal, yaitu kita sebagai manusia sejatinya memang tidak memiliki apa-apa. Seluruh yang melekat pada diri kita dari ujung rambut sampai kaki adalah milik Allah sepenuhnya. Mata, telinga, mulut, tangan, jantung, hati, darah, ginjal, tulang, kulit, kaki kita adalah kepunyaan-Nya. Harta, tahta dan nyawa kita juga semua milik Allah. Lalu bagaimana mungkin kita merasa memiliki itu semua, kita hanya sekedar di pinjami sementara. Di pinjami bukan dititipi. Ini beda. Kalau di titipi seolah Allah yang butuh kita (makhluk), padahal Allah sedikit-pun tak membutuhkan apa-apa dari kita. Kita-lah yang butuh Allah, karena kita butuh Allah maka kita wajib meminta, memohon, mengharap karunia dan kasih sayang-Nya Allah. Dengan begitu semoga Allah berkenan meminjami apa saja yang kita butuhkan. Jika kita sudah di pinjami maka tugas kita satu ; bersyukur dan menjaga pinjaman itu. Jika suatu saat pinjaman tersebut di ambil oleh Yang Punya, maka kita harus legowo mengembalikannya. Jangan pernah merasa memiliki apapun jika kita tak ingin merasakan apa yang namanya kehilangan. Semakin kita merasa memiliki sesuatu maka potensi rasa kehilangannya akan semakin besar.

Yang saya kemukakan diatas hanyalah secuil dari luasnya makna dan nilai yang terkandung di dalam lagu-lagu karya Letto. Jadi maafkanlah atas keawaman dan keterbatasan saya. Semua lagu Letto memiliki arti, pesan, filosofi, petuah bijak, pembelajaran dan hikmah yang mendalam. Pantas saja ketika ada wartawan yang bertanya ;

“Apakah Letto tidak berkeinginan untuk membuat lagu atau album religi?”

“Tidak ada yang tidak religi lagu-lagunya Letto.” – Jawab mas Sabrang singkat. (Modaar).

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait