Menu Close

Bersua Adik Kesayangan (Bag. 2)

0Shares

Yang dimaksud adik kesayangan Simbah pada tulisan pertama kemarin tidak lain adalah beliau Ibu Nadlrotus Sariroh (bu Roh). Kenapa saya sebut demikian, karena faktanya memang demikian. Bu Roh yang menceritakan sendiri kepada saya tentang kedekatan dan pertautan hati antara beliau dengan Cak Nun.

Ibu Roh telah sangat setia menemani hari-hari perjalanan Simbah sejak dari Jombang hingga menetap di Yogyakarta sekarang. Bu Roh dengan telaten ngopeni dan memenuhi segala keperluan Simbah, baik saat dirumah maupun ketika keluar bermaiyah. Beliau yang selalu peka untuk membuatkan kopi atau teh manis untuk Simbah. Bu Roh juga yang senantiasa mengingatkan teman-teman Managemen agar turut memperhatikan dan menjaga kondisi kesehatan Mbah Nun. Jangan sampai lupa membawa madu, vitamin, pakaian ganti kala bepergian berhari-hari.

Terkadang ketika CNKK maiyahan di luar kota, ujug-ujug bu Roh datang di tempat transit atau malah mlipir di belakang panggung. Seketika Mbah Nun melihatnya dan tersenyum.

Kon numpak opo mrene?

“Uwislah Cak, ora sah dipikir. Sing penting slamet tekan kene.”

Apa yang dilakukan bu Roh tersebut adalah wujud katresnan beliau kepada Simbah. Iseng-iseng memberi surprise. Dan Cak Nun selalu gembira ketika melihat sang adik tercinta tiba-tiba mengunjunginya.

Bu Roh adalah pribadi yang rendah hati. Pembawaan-nya lembut, santun dan anggun. Saya begitu kagum kala berhadapan langsung dengan beliau. Namun di sisi lain ternyata bu Roh juga bisa galak dan ‘medeni’. Galak-nya bu Roh tentu dengan alasan. Misalnya, ada tamu/ jamaah maiyah yang sowan dan mengajak diskusi Simbah. Ketika Simbah sudah nampak ngantuk atau lelah maka bu Roh dengan segera akan meng-cut obrolan tersebut. Sebenarnya Cak Nun sendiri enjoy saja, mau ngobrol sampai jam berapa pun akan dilayani. Ndak masalah. Tetapi bu Roh punya pertimbangan lain. Kenapa di-cut? Karena mungkin besok Simbah ada agenda ke luar kota. Dan ini sudah wanci-nya istirahat. Jadi harus ada yang tegas mengingatkan demi kebaikan semua. Kadang bu Roh juga merasa kasihan ketika melihat Simbah berdiri berjam-jam untuk meladeni jamaah yang pengin bersalaman. Kalau dirasa sudah over waktunya atau memang Mbah Nun sudah super kecapekan, tak segan bu Roh pun berusaha memberi kode untuk menyudahi prosesi salaman.

Ada kisah menarik dan ajaib yang sempat diceritakan bu Roh kepada kami kala itu. Pernah dulu bu Roh bersama bu Via mencari tanah dan rumah di area kota Yogya. Setiap ada info iklan tanah / rumah yang dijual baik di koran maupun radio, maka beliau berdua langsung mendatangi lokasi tersebut. Singkat cerita, setelah mencari kesana kemari, mubeng seser berhari-hari akhirnya mereka mendatangi lokasi tanah dan bangunan yang beralamat di seputaran Kadipiro. Letaknya strategis berada didekat jalan raya. Tanahnya cukup luas dan terdiri dari 12 kamar. Milik seorang chinese juragan kain rajut. Karena terlilit hutang bank, akhirnya usahanya bangkrut, gulung tikar. Dijual-lah tanah berikut bangunan-nya kepada bu Via dengan harga yang sangat miring kala itu sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah (250 jt). Alhamdulillah. Ajaibnya, lokasi tanah dan bangunan tersebut berada di jalan Barokah. Jan barokah temenan. Barokah sak kabehane.

Seiring berjalan-nya waktu, kini bangunan yang berdiri di Kadipiro tersebut dinamakan Rumah Maiyah. Disanalah pusat, markas sekaligus kantor redaksi yang menaungi segala rupa kegiatan CNKK. Rumah Maiyah juga menjadi tempat latihan bagi Kiai Kanjeng, Letto dan para seniman-seniman Yogya pada umumnya. Rumah Maiyah menjelma sebagai gedung serba guna. Bermacam kegiatan kerap digelar disana. Mulai dari workshop, diskusi, sholat jumat, menjamu tamu hingga menjadi ‘rumah singgah’ bagi para Jamaah Maiyah yang sedang berkunjung ke Yogyakarta. Pintu Rumah Maiyah selalu terbuka bagi siapa saja dan kapan saja. Tak lupa disana terdapat sebuah gudang ilmu, museum sejarah, laboratorium literasi yang menyajikan berbagai tulisan-tulisan, kliping, album foto, buku-buku karya Emha Ainun Nadjib dan para penulis lainnya. Perpustakaan EAN digagas, dirawat dan diberdayakan oleh Ibu Sariroh agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan sekitar. Syukur-syukur bisa bersodaqoh ilmu untuk Indonesia.

Ibu Nadlrotus Sariroh memang pribadi yang rendah hati. Namun jiwanya tangguh, kukuh menjalani hidup. Si anak perempuan tertua yang mampu menggantikan peran seorang Ibunda. Ibu Roh dengan rela mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengangkat, mendorong, membantu perjuangan keluarga dan Simbah dalam rangka menegakkan keadilan, nggedekké atine rakyat dan setia menyebarluaskan kasih-sayang.

Tidak ada orang hebat didunia ini. Yang hebat hanya Allah dan Rasulullah. Kalau ada orang yang hebat, sejatinya ia hanya dipinjami kehebatan oleh Allah.

Berulang kali atau mungkin sudah tak terhitung lagi Mbah Nun selalu katakan : “Jangan pernah mengagung-agungkan saya apalagi mengkultuskan-nya. Saya ini sama seperti kalian. Sama-sama hamba Allah, sama-sama bermakmum kepada Baginda Rasulullah.”

Semoga pesan dari Mbah Nun tersebut dapat kita camkan bersama-sama. Kalau-lah memang Mbah Nun kita anggap ‘orang hebat’, ternyata Mbah Nun tidak bisa hebat sendirian. Ada orang-orang hebat yang mendampinginya. Ada orang-orang baik yang menopangnya. Ada orang-orang yang tulus-ikhlas mencintainya. Mohon maaf, saya rasa mungkin itulah makna Maiyah yang sejak dulu diajarkan didalam keluarga Ibunda Chalimah. Maiyah ialah bebrayan, guyub, tulung tinulung dan katresnan.

Sragen, 17 September 2017

 

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait