Menu Close

Surga di Toilet

0Shares

Sebelumnya tolong maafkan saya. Yang sedang saya tuliskan ini adalah tentang pengalaman pahit sekaligus menggelitik. Pengalaman konyol yang bikin hati dongkol. Kisah ini terjadi dan berlangsung sekitar tiga tahun lalu. Jika ada kata-kata yang kurang enak, bau yang tak sedap. Sekali lagi saya minta maaf.

Pagi itu senin 13 Oktober 2014, seperti biasa saya berangkat kerja dari rumah pagi-pagi sekali sekitar pukul 05.00 WIB. Setiap hari senin saya pasti berangkat lebih awal dari hari biasanya. Itu semua demi menghindari kemacetan di jalan, yang mana sudah lazim terjadi jalanan macet parah di setiap awal pekan.

Saya tinggal di Perumahan Villa Anggrek, Karang Satria, kota Bekasi. Maaf, bukan tinggal ding. Lebih tepatnya numpang. Numpang makan, tidur dan eek di rumah kakak saya (hehe). Sedangkan kantor saya ada di daerah Mangga Dua Jakarta utara. Sehari-hari saya bekerja di salah satu perusahaan Tekstil sebagai Staf Administrasi dan sudah 2 tahun ini saya banting tulang mengais rupiah di sana.

Dari rumah saya kendarai motor menuju stasiun Bekasi, kurang lebih sekitar 25 menit sampai dilokasi. Dan perjalanan dilanjutkan dengan menaiki KRL Commuter line tujuan stasiun Jakarta Kota. Ketika sampai di depan loket, antrian sudah tampak mengular. Dan saya ikut berjajar rapi, antre di sana. Hampir 15 menit lamanya, akhirnya dapat juga saya beli tiket. Masuklah saya ke peron dan seperti biasa gerbong KRL sudah penuh sesak dijejali lautan manusia. Saya masuk dan berdesak-desakan dengan para penumpang lain yang sama-sama akan menuju Jakarta. Hidup adalah perjuangan kawan! Teriak batin saya.

Tak berselang lama kereta pun berangkat. Saya berdiri persis di depan pintu kereta sambil berpegangan besi tiang tempat duduk penumpang. Kereta melaju dan sampai di Stasiun Kranji. Pintu kereta terbuka dan calon penumpang membludak tak terkira. Mereka semua berusaha masuk dan aksi saling dorong pun tak terhindarkan. Badan saya tergencet oleh badan para penumpang lain. Tak berkutik saya karena memang tidak ada space lagi untuk bergerak. Alhasil saya cuma bisa berdiri pasrah dan berharap “penderitaan” ini akan segera berakhir.

Kereta merapat di Stasiun Cakung. Saat pintu terbuka para calon penumpang berebut hendak naik ke dalam kereta sambil berteriak:

“Geseeeerr….oe…..”

“Geseeerrrr dikit oee….”

Kapasitas gerbong memang sudah overload, dan mereka pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rangkaian gerbong kereta.

Kereta kembali melaju menuju Stasiun Klender Baru dan lanjut ke Stasiun Buaran. Di stasiun inilah “penderitaan” saya yang lain muncul. Tiba-tiba perut ini mules ndak karuan. Maaf, lubang di bawah ini (baca; anus) berulang kali mengeluarkan bunyi yang pelan namun Naudzubillah bau-nya kayak setan alas roban. Saya hanya bisa menahan nafas sambil nutupin hidung dan seolah tidak terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja. Padahal perut terus meronta. Mungkin orang-orang juga mencium aroma njijiki itu. Tapi karena saya pasang muka biasa-biasa saja, mereka pun acuh nggak mau tahu. Dalam hati, saya terus teriak dan mengumpat :

“Ayo cepaaat….

Kereta cepaaaat…….

Gue mau buang hajaaaaaaat!!

Kampret…!!

Sialann…!!!

Cepaaaat………. B***sat!!

Sepertinya kereta tidak bisa diajak kompromi dan masinis juga tak peduli. Kereta berjalan lamban sekali. Saya terus misuh dalam hati.

Tiba di Stasiun Klender kereta berhenti dan saya masih terus memegang perut yang semakin melilit setengah mati. Peluh terus jatuh, menetes deras seiring lantun kereta menuju stasiun berikutnya.

Akhirnya kereta pun mandeg di Stasiun Jatinegara. Saat pintu terbuka saya langsung meloncat keluar dan berlari kencang mencari dimana toilet berada. Saya tak peduli lagi dengan orang yang lalu lalang di peron kereta. Sampai di toilet ada tiga pintu berjajar dan sialnya pintu itu tertutup semua. Saya tanya kepada abang penjaga :

” Ude lama ini bang yang di dalam??”

“Tungguin aje, ntar juga keluar.”

Jawab dia enteng.

“Brengsek kataku pelan, nggak tau apa gimana tersiksanya nahan berak berjam-jam.”

Kamprettt!!

Saya coba ketok satu per satu pintu toilet tapi tak ada respon dari dalam. Mungkin saja mereka sedang jongkok penuh konsentrasi tinggi untuk mengeluarkan segumpal hajatnya. Saya ketok lagi itu pintu dan tetap nggak ada suara yang menjawab, rasanya pengen saya keluarin hajat ini sekarang juga.

“Bang, ada toilet lagi kagak disini? -tanya saya.

“Ada noh di ujung dekat musholla.” –jawab si abang singkat.

Saya langsung lari terbirit menuju toilet lain-nya. Sampai di sana saya melihat ada dua ruang toilet, yang satu pintunya tertutup dan yang satunya lagi pintunya kebuka tapi di atas pintu terpampang tulisan : TOILET WANITA.

“Sori bang, boleh saya masuk toilet yang sebelah kagak?” udah nggak nahan nih…” Ucap saya memelas.

Dan si abang penjaga toilet bilang;

“Jangan itu buat cewek.”

“Plisss bang.., ini dah mau keluar, saya diare bang..”

Rayu saya lagi dengan muka pucat pasi. Pas saya mau nyelonong masuk toilet wanita tiba-tiba ada perempuan paruh baya pakai kerudung cokelat yang juga mau buang hajat. Dia bilang permisi saat lewat di depan saya dan langsung masuk ke toilet wanita. Ampun, saya cuma bisa ngalah dan bersandar lemas di tembok dengan masih memegang perut sembari mengelap keringat yang mengucur deras.

Selang 5 menit, ibu tadi keluar dan saya bergegas ambil dompet di dalam tas kecil, saya tarik satu lembar 10 ribuan dan saya sodorkan ke abangnya.

“Sori bang, nggak kuat lagi!

Saya buru-buru masuk toilet wanita, lepas celana, jongkok dan

“Jrooott……..pretttt…….brotttt…..

“Soorrr……. Sooorrrrr…………brettt…..brettt…….bretttt…… … Soooorrrr……sooorrrr

Keluarlah segala kemulesan dan kotoran itu. Penderitaan panjang selama di kereta seketika sirna usai hajat keluar lancar tak bersisa.

Oh lega rasanya. Merdeka saya. Serasa melayang-layang di udara. Bagai berada di taman surga. Padahal saya hanya jongkok di ruangan sempit berukuran 1 x 2 meter, bau dan kotor. Tapi di situlah saya merasakan dan mendapatkan apa yang namanya “surga”. Keluar dari toilet saya ucapkan banyak terimakasih kepada si abang penjaga.

Perjalanan saya lanjutkan menuju Stasiun Kota. Dan sudah pasti saya terlambat masuk kantor. Tapi mau bagaimana lagi, buang hajat jauh lebih penting dan mendesak dari urusan macam apapun.

Usai kejadian konyol nan tragis itu, saya belajar tentang hikmah. Tentang pelajaran besar dan berharga. Ternyata, untuk merasakan atau mendapatkan surga itu tidak harus menunggu mati atau kiamat dulu. Menurut saya surga dan neraka itu bisa kita nikmati sekarang juga. Saat kita masih hidup di dunia. Kalau kita menikmati segala sesuatu dalam hidup ini dengan tenang, ikhlas, rasa syukur maka kita sudah mendapatkan apa itu ‘surga’. Pun sebaliknya apabila kita hanya bisa mengeluh, protes dan marah pada keadaan, maka kita sudah me’neraka’kan diri kita sendiri. Dan ini persis dengan apa yang disampaikan oleh Guru sepuh saya di forum Majelis Kenduri Cinta Jakarta. Mbah Nun pernah berpesan :

“Kowe kabeh iso gawe suwargo lan neroko-mu dewe-dewe. Suwargo iku ono ning njero atimu. Ojo mbok goleki tapi temukno-rasakno nganggo akal lan atimu.”

Dari pengalaman di atas, saya telah merasakan ‘neraka’ sekaligus ‘surga’ hanya dalam kurun waktu satu jam. Neraka yang saya rasakan adalah ketika perut mules pengen BAB dan saat itu hanya bisa misuh dan marah pada keadaan. Itulah neraka yang saya ciptakan dan rasakan sendiri.

Dan ketika saya berhasil menemukan toilet wanita, kemudian masuk, jongkok mengeluarkan kotoran demi kotoran dari dalam perut. Maka Subhanallah, saya pun telah merasakan betapa nikmat dan lezat-nya ‘surga’. Ya, surga di toilet.

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait