Menu Close

Bersua Adik Kesayangan

0Shares

Setiap melakukan kegiatan atau acara, ada baiknya kita menyusun perencanaan terlebih dahulu. Rencana berfungsi sebagai rambu-rambu, pegangan serta pedoman bagi kita dalam melaksanakan alur kegiatan. Agar ketika eksekusi nanti, segala yang direncanakan bisa berjalan lancar, baik dan berhasil. Namun ada baiknya juga dalam merencanakan sesuatu, tak perlu detail banget apalagi saklek. Harus begini atau begitu hasilnya. Jangan! Sebab kita ini manusia. Maqom-nya sebatas berencana. Tidak kuasa untuk menentukan hasil akhir. Hanya Allah yang mampu dan mutlak untuk memutuskan-nya.

Hari minggu kemarin (6-8-2017), saya dan calon istri melawat ke Yogyakarta. Tepatnya kami hendak sowan ke Rumah Maiyah dalam rangka silaturahmi berikut nyaosi serat undangan nikah kagem Simbah (CN). Bismillah, InsyaAllah bulan depan kami akan melangsungkan prosesi akad nikah dan resepsi.

Kami atur rencana. Sehari sebelum berangkat ke Yogya, saya menjalin komunikasi dengan mas Jamal via WA. Saya ingin ketemu beliau langsung untuk menitipkan undangan tersebut. Mas Jamal pun memberitahu jika hari minggu besok kemungkinan besar beliau ada di Yogya. Dikarenakan pada malam harinya akan ada acara Maiyahan di Sleman.

“Mas, besok pagi saya otw Yogya. Semoga saget kepanggih panjenengan ya.” – pesan singkat saya kepada mas Jamal.

“Iya mas, InsyaAllah ketemu di TKP saja.” – balasnya.

Yang dimaksud TKP adalah Dusun Krapyak, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman.  Tempat dimana Maiyahan minggu malam akan di gelar.

Minggu pagi, tepat pukul 08.00 WIB saya dan calon istri meluncur ke Yogya mengendarai kuda besi. Rencana telah tertata rapi. Kami pergi dengan perasaan hepi. Sepanjang perjalanan, aktivitas kendaraan tak seperti biasanya. Kala itu jalan raya cukup lengang. Lancar dan bebas hambatan. Selang satu setengah jam, kami tiba di Klaten kota. Kami singgah sejenak di SPBU untuk buang air kecil dan menunaikan sholat dhuha. Usai sholat kami kembali melanjutkan perjalanan.

Awalnya, saya pengin bertemu dengan mas Jamal di Kadipiro saja. Lebih enak dan nanti bisa sekalian numpang baca buku disana (Perpus EAN). Karena hari minggu, kantor Kadipiro off. Sepi ndak ada orang, kata mas Jamal. Beliau lagi-lagi menawarkan untuk ketemuan di TKP saat hari menjelang maghrib. Karena waktu mepet, saya coba cari alternatif lain untuk bisa menyerahkan surat undangan tersebut. Akhirnya saya coba menghubungi Mbak Ririn. Beliau adalah petugas/staf di perpustakaan EAN.

“Maaf, mbak Rin lagi dimana?”

“Saya lagi ada acara mas, jagong diluar.”

“Oh, bisa ketemuan ndak.., saya mau nitip surat undangan.”

“Sepertinya ndak bisa mas. Kalau mau jenengan ke Kadipiro saja, nanti ketemu dengan bu Roh.”

Singkat kata, kami pun tiba didepan Rumah Maiyah. Pintu gerbang tak terkunci, kami ucapkan salam lalu permisi masuk ke dalam. Suasana Kadipiro tampak suwung. Sepi tak berpenghuni. Kami langsung menuju ruang tengah sembari saya jelaskan satu persatu gambar yang terpajang di dinding kepada sang calon istri.

Lelah cukup mendera, kami rebahkan badan diatas sofa. Tak berselang lama muncul seorang ibu-ibu berkerudung putih menghampiri kami. Terperanjat, kami pun berdiri seraya menyalami.

“Ibu, mohon maaf kami JM dari Sragen. Ngapunten, sepindah kulo sowan mriki badhe silaturahmi. Ingkang kaping kalih, badhe nyaosi serat undangan kagem Mbah Nun sekalian.”

Ibu tersebut menyunggingkan senyum dan mempersilakan kami duduk kembali. Kami pun terlibat obrolan ringan, akrab dan menyenangkan. Saya ceritakan ke beliau, bahwa saya benar-benar mendapatkan kebarokahan selama nyebur di Maiyahan. Hingga yang paling spesial, Tuhan menghadiahi saya perempuan bernama Barokah sebagai pasangan hidup, pelengkap iman. Perbincangan kami pun kian menarik. Namun sebenarnya ada satu hal yang sedari tadi mengusik. Mengusik pikiran, tentang siapa sejatinya ibu yang ada dihadapan saya tersebut.

“Maaf, ibu asli sini ya?”

Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut saya.

“Saya adik-nya Cak Nun mas.”

Mendengar jawaban itu, saya shock berat. Sejenak termangu. Merasa sangat bersalah, seolah telah melakukan satu dosa besar. Betapa awamnya saya ini. Astaqhfirulloh’aladziiiim. Ternyata ibu yang menemui kami, yang menyalami kami, mempersilakan kami dan njagongi kami itu adalah Ibu Nadlrotus Sariroh (Ning Roh).

Mengetahui bu Roh adalah adiknya Simbah, saya bersyukur Alhamdulillah. Tak akan saya sia-siakan kesempatan langka ini. Secara spontan, saya menanyakan banyak hal kepada beliau. Diantaranya tentang silsilah keluarga besar Mbah Nun, sejarah Maiyah, gang barokah, perjalanan sunyi Simbah, karya-karya dan seterusnya. Kepada kami berdua, bu Roh bercerita penuh sahaja.

“Kami 15 bersaudara, dan saya anak perempuan pertama dari rahim Ibunda Chalimah. Sekarang tinggal 13, yang 2 sudah meninggal. Saya sudah menemani Cak Nun sejak di Patangpuluhan dulu hingga sekarang. Saya tinggal disini (Kadipiro) dan sitik-sitik ngewaki Simbah. Perpustakaan itu berdiri atas inisiasi saya dalam rangka nguri-uri, mengarsip, merawat karya-karya tulisan Simbah agar terdokumentasi dengan rapi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi 20 atau 30 tahun ke depan.”

“Dulu Cak Nun meminta saya untuk kuliah jurusan ilmu kepustakaan di UGM. Setelah lulus saya coba dirikan perpustakaan EAN dan menetap tinggal di Kadipiro.”

“Hidup Simbah dulu susah mas. Saat sedang kere, ndak punya duit sepeser pun, beliau rela menjual mesik tik-nya sekedar buat makan. Padahal mesin tik adalah satu-satunya ‘senjata’ yang tersisa untuk mencari uang. Kalau mesin tik dijual, bagaimana akan lahir tulisan-tulisan. Itu sama saja bunuh diri pelan-pelan.”

“Sejak kecil Cak Nun memang tidak pernah berfikir dan bersikap materialistis. Stay humble dan istiqomah hidup dalam kesederhanaan. Tidak pernah ambil pusing soal fee tulisan yang dimuat koran-koran dan juga royalti dari buku-buku yang beredar. Kalau pihak media massa/penerbit menghubungi Cak Nun untuk menanyakan nomor rekening bank, maka beliau asal menyebutkan digit angka sekenanya. Aneh tapi nyata.”

“Pernah suatu hari ada salah satu pihak Bank swasta yang menawari Cak Nun agar uang fee dan royalti beliau selama ini di kurskan ke dolar. Lagi-lagi karena Cak Nun ndak mau ambil pusing atau dasarnya memang awam soal dunia perbankan, beliau-pun mengiyakan saja tawaran tersebut.

Wis sakarepmu kon.”

Keajaiban terjadi. Kala itu tahun 1998/1999, Indonesia dilanda krisis hebat. Krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kepemimpinan. Bangsa Indonesia dalam masa transisi. Kursi Soeharto mulai digoyang arus dan gejolak reformasi. Kekuasaan selama 32 tahun hampir mencapai titik nadir. Kondisi dan situasi Nasional memanas, carut-marut, kacau-balau disegala lini. Tak terkecuali yang Cak Nun alami. Pada kisaran tahun 1998 silam Cak Nun sempat menghubungi Sabrang anaknya bahwa saat itu kondisi keuangan-nya tengah kritis. Dan sepertinya tidak sanggup lagi untuk mensubsidi biaya kuliah Sabrang di Canada. Sabrang memahami kondisi Ayahanda dan bersedia pulang balik ke Indonesia dengan satu syarat.

“Oke yah, saya pulang. Tapi saya tidak mau melanjutkan kuliah di Indonesia.”

“Lohh, kenapa brang?”

“Ya pokoknya nggak mau.”

Jawaban mas Sabrang yang masih mengambang, menggelitik hati saya untuk menanyakan langsung apa sebenarnya alasan beliau tidak mau kuliah di Indonesia. Nanti kapan-kapan saja.

Keajaiban itu benar terjadi. Cak Nun iseng menghubungi pihak Bank swasta yang dulu pernah mengurus uang fee dan royaltinya selama ini.

Aku lagi butuh duit, kiro-kiro isih ono duitku piro ning kono?

“Banyak Cak, kan sudah dikurskan menjadi dolar.”

“Ohh, yowis kene...”

Konon, jumlah uang royalti milik Cak Nun tersebut lebih dari cukup untuk membiayai kuliah Sabrang di Canada hingga lulus wisuda. Untung dulu dikurskan menjadi dolar Cak. Rumus Min haitsu layahtasib berlaku di momen yang tepat.

Sebenarnya masih banyak cerita, pengalaman dan petuah bijak yang saya dapatkan dari obrolan panjang bersama bu Roh di Kadipiro. Sebagian masih tak simpan, masih tak eman-eman. Tidak cukup kalau dituliskan dalam satu judul tulisan.

Rencana awal, kami ingin bertemu dengan mbak Ririn atau mas Jamal. Tapi gagal. Tapi tak apa. Kami tak menyesal. Malah Alhamdulillah, karena dapat bersua dengan adik kesayangan Simbah.

(Bersambung)

Sragen, 20 Agustus 2017

Oleh

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait