Menu Close

Merangkai Romansa

0Shares

Gara-gara Simbah. Semua ini gara-gara Simbah. Gara-gara mendengar ceramahnya, saya sekarang jadi dilema.

Diberbagai acara Maiyahan, Mbah Nun seringkali membahas tentang topik pernikahan. Dan yang paling seru adalah ketika Mbah Nun dengan nada guyon coba mengkritisi tentang istilah SAMARA atau SAMAWA. Samara adalah singkatan dari SAqinah-MAwaddah-RAhmah. Sedangkan SAMAWA singkatan dari SAqinah-MAwaddah-WArohmah. Cuma beda tipis penyebutan-nya tapi maksudnya sama.

Ungkapan tersebut sering kita dengar, kita jumpai bahkan tak jarang kita sendiri pun pernah mengucapkan/ menuliskan kata-kata itu. Misalnya begini : ketika ada teman, sahabat atau sanak family kita yang sedang menikah, maka kita akan memberi ucapan selamat kepada sang mempelai. Kurang lebih begini ucapannya :

“Selamat menempuh hidup baru ya, semoga menjadi keluarga yang Saqinah-Mawaddah-Warohmah.”

Biyen leh isik dewe gawe ukoro iki yo sopo.., nak aku dadi Gusti Allah, tersinggung aku rek.”

Seperti itulah kelakar Mbah Nun dalam banyak kesempatan ketika menyikapi adanya istilah; semoga menjadi keluarga yang Saqinah-Mawaddah-Warohmah. Menurut pandangan beliau, ungkapan semoga menjadi keluarga yang Saqinah-Mawaddah-Warohmah itu kurang tepat. Surat Ar ruum ayat 21 menjadi rujukan pertama yang mesti benar-benar kita pahami setiap makna kalimatnya.

Allah SWT berfirman:

Wa min aayaatihii an kholaqo lakum min anfusikum azwaajal litaskunuuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddataw wa rohmah, inna fii zaalika la’aayaatil liqoumiy yatafakkarun.

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa saling memiliki dan kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

(QS. Ar-Rum: Ayat 21).

Menurut penjelasan Mbah Nun, Saqinah itu kata benda yang artinya tenang/tenteram. Kata kerjanya adalah litaskunuu yang berarti meraih ketenangan/ menuju ketenteraman. Tenang itu bersifat dinamis, tidak ajeg atau menetap. Dan untuk mencapai posisi Saqinah itu diperlukan usaha terus menerus sehingga pasangan (suami & istri) selalu merasa krasan-nyaman- mesra dan pomah hidup berumah tangga. Maka disini Saqinah sangat pantas disemogakan.

Berbeda dengan Rohmah dan Mawaddah. Rohmah adalah segala sesuatu yang diberikan Allah kepada seluruh manusia dan makhluk-Nya. Semua yang ada dan melekat pada diri kita ini adalah bentuk Rohmah yang di anugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Sebab Allah sendiri bersifat Rahman dan Rahim. Nikmat iman-islam- kesehatan-rizqi-oksigen-panca indera adalah beberapa contoh Rohmah dari Allah yang nampak oleh mripat kita. Dan Rohmah sudah pasti dimiliki oleh setiap manusia/ makhluk.

Sedangkan mawaddah adalah daya magnetik alami, yaitu rasa saling ingin menyatu antara laki-laki dan perempuan. Sampai mereka dipertemukan lalu dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Yang namanya alami pasti tumbuh dengan sendirinya, tanpa dibuat atau dicapai. Mawaddah itu timbul disetiap jiwa manusia selaras dengan pertambahan usia dan kedewasaan seseorang. Jadi rahmah dan mawaddah itu tidak tepat kalau disemogakan sebab Allah sudah pasti memberinya sejak kita lahir sampai jatah hidup kita ini berakhir.

Jika memakai bahasa-nya Mbah Nun, bahwa Saqinah itu adalah tujuan, sedangkan rahmah-mawaddah itu merupakan alat, sarana atau kendaraan yang kita punya dan kita gunakan untuk mencapai/ menuju tujuan tersebut.

Menurut Mbah Nun bahwa kalimat ; “Semoga menjadi keluarga yang Saqinah-Mawaddah-Warohmah itu lebih tepatnya diganti saja dengan kalimat : “Semoga menjadi keluarga yang saqinah dengan bekal rohmah dan mawaddah yang telah diberikan oleh Allah SWT. Atau dengan bekal rohmah-mawaddah yang telah diberikan Allah, semoga menjadi keluarga yang saqinah.”

Gara-gara Simbah. Gara-gara mendengar ceramah dari Simbah, saya merasa dilema. Antara senang tapi juga bimbang. Menjelang hari pernikahan saya pada sabtu depan (9-9-17), sudah banyak teman, kerabat, saudara dan rekan kerja yang memberi ucapan selamat sekaligus mendoakan. Doa mereka kurang lebih sama.

“Selamat ya, semoga menjadi keluarga yang saqinah, mawaddah, warohmah.”

Mendengar ucapan selamat dan doa diatas, saya hanya bisa balas mengucapkan terimakasih sembari tersenyum ironi. Berterima kasih sangat karena telah didoakan, tetapi juga kurang nyaman mendengar paketan doa tersebut. Saya pribadi memang lebih setuju dan sepaham dengan ungkapan doa pernikahan yang kerap disampaikan Simbah di berbagai forum Maiyah. Tapi mau bagaimana lagi, mosok doa mau diklarifikasi. Jangan begitu doanya tapi begini. Kan nggak etis. Yowislah ndak apa-apa. Yang penting doa berasal dari niat yang baik InsyaAllah akan memberi fadhilah yang baik pula. Semoga.

Alhamdulillah, dari istilah Saqinah, Mawaddah dan Rohmah, saya mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi. Puisi yang kemudian saya kombinasikan dengan nada dan melodi. Hingga terciptalah sebuah lagu sederhana, yang saya beri judul : ROMANSA. Akronim dari ROhmah (nikmat Allah)-MAwaddah (rasa saling menyatu) ialah kendaraaN untuk menuju SAqinah. Judul diatas mengandung maksud bahwa dengan bekal rohmah-mawaddah kita berjuang bersama-sama untuk meraih Saqinah (ketenteraman). Buat saya karya ini terasa spesial, karena nantinya lagu ini akan saya nyanyikan di hari yang spesial, untuk saya persembahkan kepada perempuan yang spesial.

Berikut lirik lagu tersebut ;

“ROMANSA”

Cinta, dimana kau? Aku menantimu

Lagu ini untukmu, dengar alunan hatiku

Sempurna, arti hidupku bila engkau milikku

Bersama kita satukan hati, meraih bahagia

 *Reff

Jaga, kita jaga keharmonisan

Suasana dalam hidup berumah tangga

Jaga, kita jaga keromantisan

Sejak awal jumpa, hingga menutup mata

Sempurna, arti hidupku

Bila engkau milikku, berdua kita padukan hati, merangkai ROMANSA

Teman, kawan, sahabat dan saudaraku semua. Mohon doa terbaik dari kalian. Semoga pernikahan kami diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kami diizinkan untuk menjadi keluarga yang setia merangkai ROMANSA.

5 September 2017

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait