Menu Close

Buah Tangan dari Jombang

0Shares

Nettbook milik istri masih menyala. Terpapar jelas game Zuma level dua belas. Jemari tangan kanan saya masih sibuk ‘klak-klik’ mengarahkan butiran-butiran telur Zuma ke warna-warna yang sama supaya nantinya terjadi ledakan dan telur-telur itu habis tak tersisa. Istri saya berada di belakang saya. Setengahnya memberikan dukungan, setengahnya lagi memberikan ancaman. Bahwa kalau saya tidak berhenti dan melanjutkan aktivitas menulis, maka jangan tanya jika nantinya akan terjadi hal-hla yang tidak diinginkan. Misalnya, boikot untuk tujuh malam ke depan. Pegel rek!

Karena itu dengan semangat membakar jiwa pada hari Jumat pagi menjelang siang itu, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menuntaskan game yang dilaknat istri saya ini. Di samping itu game jadul, sebenarnya tidak perlu bersusah payah untuk menyelesaikannya. Tidak butuh waktu lama juga sampai berhari-hari seperti yang saya lakoni. Berarti memang kecerdasan saya yang tidak kompatibel. Game yang mudah saja saya tidak bisa menyelesaikan, apalagi persoalan bangsa dan negara ini. Ah, mustahil.

Sembari menunggui saya menyelesaikan Zuma, istri saya juga asyik dengan gawai di tangannya. Gawai milikku yang juga miliknya. Gawai kami satu untuk berdua. Se-gawai berdua. Pokoknya kami romantis harmonis kinyis-kinyislah. Jadi jangan ngaku romantis kalau suami dan istri terpisah gawainya. Tidur saja seranjang. Masa hape sampai terpisah. Ah, akad lagi sana. Nggak ding. Aslinya ya dalam rangkat iritasi alias proses pengiritan.

“Yah, ada we-a dari mas Helmi.”

“Sapa? Hilmy?”

“Mas Helmi Proggres.”

“Apa?”

“Katanya, Mas nggak kepengen ke Jombang?”

“Oh jawab aja, ya pengen banget mas.”

“Udah gitu aja?”

“Udah.”

Saya fokus ke Zuma sembari mengingat-ingat ada apa tanggal 8 Juli 2017 di Jombang? Oh ternyata acara di Menturo, Sumobito, Jombang. Acaranya milad Cak Fuad kakak dari Cak Nun sekaligus Pengajian PadhangMbulan. Oalah. Tapi Jombang jauh je. Saya pernah ke sana sekali kalau nggak salah tahun 2009 apa ya? Pokoknya bertepatan dengan meninggalnya Gus Dur. Dan saya mestinya lupa jalan menuju Menturo.

“Ini dibales sama mas Helmi lagi. Nih.” Istrinya memberikan gawai.

Intinya saya secara tidak langsung diundang untuk hadir bersama tim caknun.com. Rencananya akan ada rapat kecil di sana membahas fakta-fakta aktual seputar website yang belakangan baru saya ketahui kalau website tersebut rata-rata dikunjungi satu juta pengunjung per bulan.

Respon pertama saya langsung tertuju kepada istri.

“Ini aku diminta ke sana. Piye ay?”

“Ya udah berangkat aja.” Istri merespon balik dengan intonasi tidak seperti ‘ya udah’nya perempuan yang baru saja diputus pacarnya. Biasa saja.

“Eh,” istri saya melanjutkan, “tapi aku ikut nggak?”

Dengan sigap saya merespon, “Nggak usah. Bakalan sulit nyari tempat istirahat. Ayah berangkat sendiri aja.”

“Oh gitu ya.” Respon istri dengan intonasi tidak seperti ‘oh gitu’nya perempuan yang sedang dirayu cowok tapi tidak mempan.

Bukan tanpa alasan. Karena bagi saya tujuan utama ke sana adalah bukan tamasya apalagi piknik ceria. Kumpul di sana berarti ada sesuatu yang besar yang menanti di depan mata. Jadi jangan sampai berpikir bahwa akan ada penyambutan kedatangan, penjemputan, akomodasi, ranjang empuk hotel berbintang, atau makanan mewah beserta buah-buahannya. Saya cukup paham itu. Karena itu ada baiknya kalau saya sendiri saja.

“Kamu ridho nggak?”

“Aku bukan Ridho. Aku Ani…”

“Ay sadar ay…”

“Hehehe… iya ridho dong.”

“Kalau bunda ridho, ayah langsung nyari tiket ke Purwosari buat kepulangannya. Berangkatnya pakai bus aja. Karena nanti jam tiga sore ada tamu ke rumah.”

Iya. Saya sekarang sering kedatangan tamu. Dengan jam berkunjung yang tidak kenal ruang dan waktu. Datang jam setengah sepuluh malam pulang jam tiga dini hari. Oke itu masih normal. Dua hari kemudian datang lagi jam sebelas malam pulang jam tujuh pagi. Oke, kalau itu kalian anggap masih normal berarti kita bukan teman. Anehnya saya nggak capek. Malah tamu saya yang lemah gemulai. Saya nggak capek. Ngantuk iya. Pakai banget.

Setelah kami sama-sama menyetujui perjanjian Jombang, pergilah kami mencari tiket kereta api dengan jadwal keberangkatan hari Minggu tanggal 9 Juli 2017 dari stasiun Jombang tujuan stasiun Purwosari. Memang saya tahu arah dari stasiun Jombang ke Menturo? Memang saya ngerti jalan dari Menturo ke stasiun Jombang? Tidak. Sungguh sama sekali tidak kisanak. Saya asal beli tiket saja. Masalah bagaimana-bagaimananya nanti dipikir belakangan.

Meski begitu saya masih mencari teman barengan. Siapa tahu saja ada yang berangkat ke Jombang selain saya. Dan alhasil sementara saya mengantongi tiga nama. Gus Fauzi, Ustaz Prawoto, dan Gus Yus. Baiklah. Saya tidak sendiri. Gus Yus berangkat mendahului katanya mau ziarah dulu. Tinggal kami bertiga berangkat dengan memakai bus ekonomi AC tarip biasa jurusan Yogya – Surabaya. Namanya Sugeng Rayahu. Dan kalian tahulah itu bus apa. Nggak perlu saya ceritakanlah ya. Bus yang memiliki mekanisme promosi doktrinasi yang cukup bagus. Begitu bus berangkat diputarlah dua lagu dangdut campursari dengan lirik seputar kelebihan-kelebihan dan keutama-keutamaan jika menggunakan jasa bus itu. Bagus. Menyuapi tanpa membuat sadar yang disuapi kalau dia sedang disuap. Bahkan sambil joget.

Sepanjang perjalanan kami berdiskusi banyak hal. Termasuk perkembangan lingkaran kecil kami di Solo. Bahwa setiap kepala punya isi yang kadang lebih banyak berbedanya ketimbang samanya. Bahwa setiap pikiran punya kemesraan logika yang tidak begitu saja langsung harmonis bersanding dengan pikiran yang lainnya. Kalau kau bicara A, kemudian ditangkap B, lalu muncul kesimpulan bahwa itu bukan A bukan B melainkan AB atau BA, hal yang demikian itu sangat mungkin saja terjadi. Beda latar belakang, beda penerimaan. Beda jadwal pengiriman, kadang bisa sama jadwal kedatangan tergantung paketan jenis mana yang dipilih. Masih banyak hijab yang belum tersingkap kawan-kawan.

Pembicaraan kami terkadang terhenti selama beberapa menit. Kemudian sibuk dengan batin masing-masing. Saya masih sibuk mengurai, bahwa kedatangan saya dengan niat belajar. Tidak boleh lelah. Apalagi sampai ambruk dan kalah. Setidaknya setiap dihantam, saya tidak langsung jatuh. Kalau pun terpaksa jatuh, dengan segera saya harus berdiri. Saya rasa, sayang sekali kalau sudah jauh-jauh ke Jawa Timur sampai sana tidak mendapatkan apa-apa dan hanya menuruti ngantuk saja. Maka selama di bus saya manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Saya harus rileks. Untungnya istri saya membekali saya dengan bantal leher. Sesekali mata ini terpejam. Sekarang setiap perjalanan hidup yang saya lakoni saya niati sebagai upaya napak tilas DNA. Apa itu? Napak tilas fungsi sejarah. Karena sampai sekarang saya tidak tahu nasab saya dengan jelas. Jadi saya pikir yang saya lakoni sekarang ini mungkin pernah dilakoni oleh leluhur saya. Kalau pun tidak begitu ya bodoh amat. Daripada otak saya nganggur?

Termasuk ketika sudah sampai di Menturo dan berkumpul bersama teman-teman redaksi dan penulis caknun.com saya tetap merasa bahwa leluhur saya dulu juga pernah begini. Adegannya juga mirip-mirip begini. Pemilihan tempatnya juga mirip-mirip begini. Harus melewati sawah dan perkebunan tebu yang luas. Lokasi pertemuannya juga mirip-mirip begini. Di serambi tempat peribadatan menjelang Maghrib.

Yang menarik ketika mas Helmi dari caknun.com yang saat itu kurang sehat tubuhnya mengungkapkan bahwa sebenarnya sudah ditetapkan adanya tujuh orang yang akan aktif nyengkuyung caknun.com. Disebutlah tim tujuh. Cak Zakky menambahkan diharapkan nanti akan ada semacam tim redaksi supaya muatan-muatan yang ada di caknun.com sesuai dengan ide-ide dari Cak Nun. Tim tujuh itu disiapkan untuk menyambut ide-ide beliau terkait dunia warta dan berita. Khususnya dunia tulis. Serta menenerima dan mencari teman-teman yang memilki potensi menulis yang belum terasah atau masih kurang percaya diri untuk menuangkan gagasannya. Nanti akan ada lebih banyak penulis yang dijaring. Asiknya, saya tidak termasuk yang ada di tujuh itu. Jadi saya semacam additional player di sana. Kalau tambah saya bukan lagi tim tujuh seperti tema PadhangMbulan yang serba ‘tujuh’. Saya disiapkan untuk sesuatu yang khusus. Berasa special agent iki. Agen gas elpiji. Tapi tetap, rasanya leluhur saya juga pernah mengalami hal semacam ini. Datang sebagai tambahan dengan tugas khusus di luar kesatuan. Asik. Mungkin dia seorang ksatria hebat dengan seragam pelayan. Setiap kali kerajaan menang perang, tidak ada satu pun yang tahu bahwa dia adalah salah satu faktor penentu kemenangan itu. Bahkan sang Raja juga tidak tahu karena ksatria tersebut tidak ada di dalam daftar pasukan penerima lemburan perang. Asik.

Pertemuan singkat itu ditutup dengan pembagian tugas masing-masing. Dan dimasukkannya ke dalam grup we-a mereka. Kan hapeku ora iso kakehan grup? Tapi tak apa. Leluhurku mungkin juga pernah seperti ini.

Selepas Isya, jamaah mulai memadati area pengajian. Nomor-nomor Ummi Khoultsum yang merupakan lagu favorit dari Cak Fuad sudah disiapkan oleh KiaiKanjeng. Nomor pertama berjudul ‘Sukaro’. Acara dipandu oleh Kiai Muzammil dengan bahasa Arab. Saya pura-pura ngerti. Aslinya, embuh. Disusul sambutan-sambutan oleh perwakilan Kenduri Cinta Mas Fahmi Agustian. Kemudian Mbak Putri dan sambutan dari Syaikh Nursamad Kamba yang diwakilkan karena tidak dapat hadir malam itu. Sambutan lagi dari perempuan asal Polandia yang juga satu tim di Dewan Bahasa Arab di Kerajaan Saudi dengan Cak Fuad, yaitu Prof. Dr. Barbara Michalak Pidulska. Satu-satunya perwakilan dari benua Eropa. Ada orang Polandia, perempuan, jadi guru besar Sastra Arab. Saya tidak kaget. Leluhur saya mungkin pernah ketemu orang berkemampuan seperti itu. Saya kan sedang napak tilas DNA. Lalu ada persembahan dari Maneges Qudrah dan Gugur Gunung dan penjelasan tafsir Lir-Ilir oleh Dr. Mustofa.

Kemudian Cak Nun, Mas Sabrang, Cak Fuad, Kiai Muzammil, Dr. Edot satu persatu berada di panggung. Bahasan mereka apa? Sip. Tentang nasib-nasab. Keturunan-DNA-RNA-genetika. Saya teklak-tekluk di sebelah barat panggung. Mungkin leluhur saya pernah mengalami seperti ini. Duduk sambil terkantuk-kantuk mempertanyakan siapa leluhurnya. Kalau saya mempertanyakan siapa leluhur saya, kemungkinan leluhur saya juga mempertanyakan siapa leluhurnya. Jadi daripada saya sering bertanya, lebih baik saya dengarkan. Siapa tahu leluhur saya juga ikut mendengarkan. Mau siapa dia yang sebenarnya? Terserah-serah Engkau Gusti. Karena perjalananku sudah cukup jauh.

Yang saya yakini, leluhur saya juga suka menulis nggak jelas seperti ini. Demikian buah tangan ini yang dapat saya dan leluhur saya sampaikan. Ada benarnya itu datang dari Tuhan. Ada salahnya, mungkin itu leluhur saya.

Oh lupa.

Saya dan leluhur saya berterima kasih kepada Cak Fauzi, Ustaz Prawoto, dan Cak Yus. Suwun sampun ditraktir maem.

Oleh: Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait