Menu Close

Barokah Day Jilid 2

0Shares

Sulit bagi saya menemukan kata yang pas untuk mewakili perasaan saya saat ini. Bukan indah tapi lebih dari indah. Tidak bahagia, namun lebih dari rasa bahagia yang paling bahagia. Bersebab kelemahan dan keterbatasan saya, maka satu-satunya cara untuk meluapkan rasa ini adalah dengan cara bersyukur, bersyukur lagi, lagi dan lagi.

Tahun 2017 ini seperti menjadi tahun keberkahan bagi saya. Di ujung keputus-asaan, akhirnya asa itu datang. Di saat patah hati tak berkesudahan, hadirlah ‘hati’ yang baru, yang menyambung, membawa lem perekat bernama cinta.

Sudah lima tahun lebih saya menjadi bagian kecil dari Jamaah Maiyah. Lima tahun itu pula saya continue ngangsu ilmu dan kawruh kepada Sesepuh Marja’ Maiyah. Saya benar-benar ‘jatuh cinta’ kepada Mbah Nun. Jatuh cinta terhadap pemikiran-nya, kepekaan sosialnya, keluasan jiwanya, karya-karyanya, baik yang berupa lagu, pementasan drama-teater maupun tulisan-tulisan tangan beliau. Untuk karya yang terakhir saya sangat-sangat mengagumi. Angkat topi saya Mbah.

Mbah Nun sendiri sudah aktif menulis sejak usia remaja. Belajar dan menimba ilmu kepenulisan di sebuah wadah komunitas bernama Persada Studi Klub (PSK) yang bermarkas di Malioboro Yogya. PSK diasuh Sang Maha Guru Umbu Landu Paranggi. Maaf, panjang kawan jika kisah diatas mesti diceritakan di sini. Intinya bahwa Mbah Nun telah berkontribusi besar terhadap perkembangan dunia tulis menulis- khasanah sastra serta jagat literasi di Republik ini. Baru sadar saya, ternyata menulis itu sebuah budaya bernilai tinggi.

Berkat membaca, menyelami dan mendalami tulisan-tulisan karya Mbah Nun, saya jadi ketularan rajin menulis. Sejak SMP memang sudah suka nulis, tapi hanya sekedar curhatan di buku Diary tentang cinta monyet dan kisah patah hati. (hehe)

Barulah lima tahun terakhir ini saya berani lebih serius dan jeli dalam menuangkan ide-ide, gagasan, serta pengalaman-pengalaman hidup ke dalam bentuk tulisan.

Saya belajar banyak dari Mbah Nun tentang bagaimana niat, tujuan dan kearifan dalam menulis. Menulis bukan semata untuk jadi penulis. Menulis itu seperti bertutur jujur melalui aksara, kata dan kalimat. Menulis merupakan pekerjaan akal juga hati. Akal dan hati mesti connect saling mengisi dan melengkapi. Akal berhubungan erat dengan logika sedangkan hati bertugas menehi-memberi roso pada tulisan. Logika bisa dijangkau dengan ilmu, tapi roso terkadang tidak. Maka alat yang digunakan untuk memberi dan menemukan roso dalam tulisan adalah dengan cinta dan kelembutan.

Ada satu tempat ‘sakral’, tempat dimana kita bisa merekam jejak ke-penulis-an Mbah Nun sejak era 70-an silam. Tempat untuk kita belajar secara live, membaca puluhan bahkan ratusan koleksi buku dari berbagai penulis ternama negeri ini. Tentu yang paling banyak adalah kumpulan tulisan karya Emha Ainun Nadjib. Bukan hanya buku, ada juga album foto, kliping, piala tanda jasa, jubah penghargaan yang tersimpan rapi di rak almari. Rumah yang beralamat di Jalan Wates km. 2,5 Gang Barokah 287, Kadipiro, itu menjadi tempat favorit, tempat yang membuat saya jatuh cinta dan selalu rindu untuk mengunjunginya. Perpustakaan EAN menjelma ‘kawah candradimuka’ bagi saya dan siapa saja yang ingin belajar baca tulis (Iqra’ – Qalam).

Desember 2016 lalu saya pernah menulis Esai berjudul BAROKAH DAY di rubrik Banyu Mili milik Suluk Surakartan. Dan keajaiban itu datang. Mukjizat Tuhan tetiba menghampiri saya. Pada paragraf akhir Esai  BAROKAH DAY yang saya tulis kala itu berbunyi:

“Lantas saya pun bergumam, iseng bilang sama Tuhan ; Ya Allah, kalau saja, mbok menowo ada seorang perempuan yang bernama Barokah, maka Barokahi-lah ia untuk menjadi istri saya, pendamping hidup saya, di dunia dan akhirat. Amiiin.”

Puji Tuhan,

Allahu-Akbar,

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Jeda waktu 4 bulan pasca tulisan itu, tepatnya di bulan April 2017 kemarin, Tuhan menjawab ‘keisengan’ saya. Saya dipertemukan dengan perempuan yang bernama depan: Barokah. Lengkap-nya Barokah Nur Fitriani (25th). Saya terperangah. Percaya nggak percaya. Ini seperti mimpi yang jadi nyata. Oleh Tuhan kami di pertemukan dalam satu lingkup pekerjaan. Saya tidak mencarinya, dia-pun tak membayangkan-nya. Pertemuan ini murni inisiatif Tuhan. Tuhan benar-benar Maha Bekerja (Fa’alun lima yuriid). Dan kejadian ini menyadarkan saya kembali bahwa ucapan itu adalah doa. Doa yang kemudian didukung oleh semesta dan di angkat ke meja redaksi Tuhan. Hingga KUN! tertitah dari Tuhan.

Awalnya memang ada rasa canggung ketika saya coba mengenalnya. Dengan mantra Bismillah, saya coba beranikan diri untuk menyapa dan mendekatinya. Istilah anak zaman sekarang, pedekate.

Lambat laun hubungan kami semakin dekat dan akrab. Ada rasa nyaman ketika ngobrol bersama. Mau diskusi apa saja nyambung, cocok dan mesra. Entah soal agama, hobi, pendidikan, sosial, latar belakang keluarga, ekonomi, cita-cita sampai urusan pribadi kita bisa sama-sama mengerti. Hal ini yang membuat saya begitu yakin bahwa dia adalah jodoh saya.

Usai acara Mocopotan 17 Juni 2017 lalu, saya sowan ke Simbah Guru. Sungkem dalam rangka nyuwun doa-restu. Dengan mata nanar, hati gemetar, saya kisahkan kepada Mbah Nun perihal ‘keajaiban’ dan kebarokahan yang menimpa saya.

“Mbah, lima tahun sudah saya ngangsu ilmu di Maiyah, belajar hidup dan cinta di Gang Barokah. Ajaib bin Alhamdulillah, saat ini saya dipertemukan oleh Tuhan seorang perempuan yang bernama Barokah. Apakah ini kebetulan? Saya rasa kok tidak mbah, tidak ada yang kebetulan, ini jelas hadiah dari Gusti Allah. Menurut panjenengan pripun?”

“Apik kuwi mas, yo kuwi hidayahé Allah. Yen wis dikasih yo dijaga, dirawat, dielus-elus. Pokoké Bismillah terus, mugo Gusti Allah paring barokah.”

Penuturan lembut dari Mbah Nun membuat hati trenyuh dan mripat ini nge-luh (menangis).

Pertemuan singkat dengan Simbah, dipungkasi dengan jabat dan pelukan erat.

Alhamdulillah, hari Rabu tanggal 28 Juni 2017 kemarin bertepatan dengan 4 Syawal 1438 H, kita telah melangsungkan prosesi lamaran dan tukar cincin. Kenapa mesti tanggal 28? Ada alasan-nya. 10 adalah tanggal lahir saya dan 18 tanggal lahir dia. Karena kita wong jowo, percaya ilmu othak-athik gathuk maka kalau di gathukne: 10 + 18 = 28.

Ya Allah,

Nikmat mana lagi yang kami dustakan, padahal semua yang ada dan melekat pada kami ini adalah nikmat-Mu.

Segala puji bagi-Mu Ya Allah,

KAU telah ajarkan ‘cinta’ di gang Barokah dan KAU kirimkan “cinta” bernama Barokah.

Barakallah.

Sragen, 30 Juni 2017

Oleh: Muhammmadona Setiawan

Tulisan terkait