Menu Close

Merdeka Disana

0Shares

Hari Rabu tanggal 16 Agustus 2017, saya sampai dirumah pukul 10 malam. Mata ngantuk, badan rasanya mau remuk. Setelah seharian muter kota Solo untuk mencari baju dan menyebar undangan. Saking capek-nya tak sempat lagi buat mandi. Sekedar ganti baju dan langsung tepar diatas tikar. Biasanya ketika lelah-ngantuk campur jadi satu, tak butuh waktu lama untuk mapan turu. Tapi semalam beda. Beda rasanya. Mata saya merem tetapi ndak bisa tidur. Pikiran ini terus nggrayang, hati juga tak tenang. Ada sesuatu yang ngganjel, mengganggu pikiran saya. Seakan-akan badan saya di hoyak-hoyak orang biar ndak tidur beneran. Mlumah gak enak. Mengkurep apalagi. Miring kanan juga ndak nyaman. Miring kiri pun tidak memuaskan.

Hingga subuh menjelang, mata tetap tak terpejam meski memejam. Tiba-tiba ada yang menggedor pintu rumah depan.

“Mas, mas…”

“(Kaget terbangun) Sopo kuwi..?”

“Kiki, metuo sik mas.”

“Ono opo ki?” (sembari membuka pintu)

Dengan terbata dan bercucuran airmata, si Kiki bilang kalau mas Sentot (kartolo) terbujur kaku. Tanpa pikir panjang saya langsung lari ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Para tetangga dan sebagian warga telah ramai berkumpul disana. Di dalam rumah jerit tangis pecah. Saya langsung menghampiri Kartolo yang terbaring kaku. Saya pegang dari ujung kaki sampai atas. Sudah tidak bernafas. Jantung dan nadi tak berdetak lagi. Telapak kaki dingin. Meski badan hingga kepala masih terasa hangat. Saya bacakan Al fatihah berkali-kali. Belum bahkan tidak percaya jika Kartolo akan pergi secepat ini.

Sentot aka Kartolo adalah sedulur sekaligus teman dekat saya. Sosok tentangnya pernah saya tuliskan di Esai Banyu Mili yang berjudul : Kasihanilah Ia. Alhamdulillah, sudah beberapa kali dia saya ajak Mocopotan dan sekali melingkar di Suluk Surakartan.

Sebenarnya Kartolo tidak punya riwayat sakit keras. Hanya saja pasca rumah tangganya mengalami goncangan ia ikut-ikutan goncang. Pikiran-nya budrek, badan-nya drop akhirnya nggeblak jatuh sakit. Setelah 2 kali masuk rumah sakit, kondisinya naik turun. Kadang ya waras-wiris, tapi kadang juga cuma bisa nggletak dikamar. Meski ia tengah merasa sakit, Kartolo tetaplah Kartolo. Mulutnya masih seneng bercanda. Teman-teman yang datang menjenguknya pun dibuat tertawa, ngguyu cekakakan oleh banyolan khas dirinya. Begitulah Kartolo. Seorang pribadi humoris yang selalu bisa menyegarkan suasana.

Mungkin, saya termasuk salah satu sedulur sekaligus konco kentel-nya Kartolo. Sering kemana-mana berdua. Ya dolan bareng, nongkrong bareng, kumpulan bareng, ngaji bareng dll. Diantara kita sudah tidak ada jarak lagi. Wis ra nganggo itungan meneh. Udutku yo udutmu. Kopimu yo kopiku. Madang siji yo madang kabeh. Pokoké sing duwe duit mbayari. Tidak ada lagi yang namanya iri atau dengki. Bahkan saking raketnya pertemanan kita, seringkali kita saling menghina. Mencaci maki satu sama lain. Pisuh-pisuhan setiap hari, setiap bertemu langsung atau cuma sebatas via pesan singkat.

“Asu kowe kar…” – kata-kata ini sering terlontar dari mulut saya. Dan seketika Kartolo membalas dengan umpatan : “Kowe ki jan-jané ndhlogok og don.”

Meski kita saling misuhi, saling caci maki tapi tidak pernah ada kebencian dan kemarahan diantara kita. Budaya misuh yang terjadi pada kami bukan didasari permusuhan. Justru yang demikian itu adalah cara kami untuk saling menyayangi, mengasihi dan nresnani. Misuhi adalah wujud keakraban dan kemesraan kita berdua.

Wagu dan tabu rasanya misalkan saya bertemu Kartolo dijalan lantas bilang :

“Subhanallah, mas Sentot badhe jum’atan.” – kok aneh ya kedengaran-nya, dan justru tidak mesra. Beda kalau yang saya ucapkan begini :

“Jum’atan cuk! Manggon ngarep dewe kono ben oleh Ontö.” –

Kartolo pasti akan menjawab : “Ontö ndasmu!”

Rasa-rasanya percakapan yang kedua itu jauh terdengar lebih enak dan mesra ditelinga.

Pagi itu, setelah beberapa jam tak sadarkan diri, akhirnya Kartolo dibawa ke rumah sakit terdekat. Dengan mobil bak terbuka, saya dan lima kerabat lain turut mengantarkan-nya. Sesampai dirumah sakit, segera dilakukan tindakan medis. Badan Kartolo di “setrum” dengan alat pacu jantung namun tetap tak ada reaksi. Grafik dilayar monitor nampak flat-lurus, tidak ada getaran naik-turun. Tanda bahwa Kartolo sudah tak bernyawa. Innalillahi waina’ilaihi ra’jiun.

Akhirnya jenazah mas Sentot dibawa pulang. Alhamdulillah, saya diizinkan Tuhan untuk menemani dan mendampingi hari akhir kepergian beliau. Mulai dari mengangkat jenazah ke dan dari rumah sakit, lalu memangku ketika dimandikan, menyolatkan, menemani saat keranda dimasukkan ke Ambulance menuju ke pemakaman. Dan setiba di sarean saya turut mikul di depan sampai ke liang peristirahatan.

Prosesi penguburan dan tabur bunga telah usai. Para warga yang mengantar satu per satu pulang. Makam kembali lengang. Saya memilih duduk, diam sejenak disamping pusara almarhum. Masih belum percaya dan ndak tega rasanya meninggalkan ia (alm. Kartolo) terbaring sendirian. Kembali saya rapalkan doa-doa untuk mengiring kepergian almarhum menghadap Sang Pencipta.

Selamat jalan kar.

Sebenarnya masih banyak yang hendak saya tuliskan disini. Karena memang banyak cerita dan kisah yang dulu pernah kita lewati bersama. Dari cerita yang pekok-konyol sampai pengalaman yang religius dan mendalam.

Kita pernah maiyahan di Yogya dan ketika pulang ban motor kami bocor. Alhasil jam tiga dinihari kita nyurung motor bergantian sampai ngos-ngosan.

“Dancuk, moto ngantuk malah kon ndorong motor.” – gerutu saya.

“Sabar bos, iki ujian.” – timpal Kartolo

Selang setengah jam kemudian barulah kita temui tukang tambal ban dipinggiran jalan Jenderal Soedirman.

Pernah juga pada suatu malam hari kita mlaku-mlaku bengi. Golek wangsit cerita-nya. Golek wangsit kok berdua. Ada-ada saja. (Haha)

Tepat pukul 1 dinihari, kita mulai berjalan. Dari ujung timur sampai ujung barat kampung. Kita keliling desa nyeker alias ndak pakai sandal. Biar tambah afdhol lelaku prihatin kita. Setelah rata menjelajahi setiap sudut desa, kami memutuskan leyeh-leyeh di cakruk tengah kampung. Ngudut sambil ngobrol ngalor-ngidul. Tak terasa dzan subuh menggema, kita bergegas menuju musholla.

Banyak sekali kegiatan maupun kebiasaan yang sudah saya dan Kartolo lakukan selama ini. Satu diantaranya adalah kita selalu rutin datang tahlilan apabila ada warga yang meninggal. Kedatangan kami pertama dalam rangka silaturahmi (nyambung sedulur), kedua turut berduka cita kepada keluarga yang ditinggalkan dan yang ketiga ndherek ngirim doa bagi sang Almarhum.

“Idep-idep kita nyelengi kar, sebab wong sing wis ninggal kuwi mung butuh didoakan.” – pesan saya kepadanya.

Dan saya rasa, celengan amal Kartolo selama hidup sudah cukup untuk bekal menuju perjalanan berikutnya.

Apapun yang pernah kita alami, suka-duka, adem-panas, ngelih-wareg akan menjadi kenangan indah tak terlupakan. Tak akan lekang dimakan zaman. Tawamu, gojekmu, pisuhanmu, polahmu, pekokmu akan terus terekam rapi didalam lubuk sanubari.

Terakhir,  jelas saya berduka karena berpisah dengan sahabat tercinta. Namun saya juga gembira, sebab kembalimu ke jalan Tuhan pada hari yang istimewa (17 Agustus 2017).

Kawan, sakitmu didunia kini telah purna. Semoga kau hidup tenang dan MERDEKA DISANA.

Penghujung Agustus 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait