Menu Close

Perjalanan Mengenal Maiyah

0Shares

Sebelum saya menceritakan tentang perjalanan saya mengenal Maiyah, saya sejenak mengingat seseorang teman saya , waktu itu saya masih bekerja di Surabaya, teman saya berkata pernah ikut Bangbang Wetan. Saya bertanya apa itu Bangbangwetan, dia menjawab pengajian Cak Nun. Saya tidak paham soal itu, tempatnya saja saya tidak tahu apalagi Cak Nun atau Bangbang Wetan.

Beberapa bulan lagi saya pindah kerja, saya kembali ditanya teman saya dan diajak ikut Maiyahan. Memang saya belum kenal Maiyah, siapa Cak Nun dan juga Kiai Kanjeng. Awal mula saya kenal Maiyah diajak teman saya, tapi tidak langsung diajak Maiyahan atau sinau bareng, saya belum kenal itu apalagi mendengar Cak Nun berbicara atau Kiai Kanjeng melantukan musiknya, wajah Cak Nun saja belum pernah tahu apalagi wajah personil Kiai Kanjeng.

Teman saya hanya mengajak mengikuti akun caknun.com dulu waktu itu, katanya biar mengerti Maiyah itu apa dan siapa saja yang berada di dalam Maiyah itu. Saya manut saja dengan ajakannya karena sudah punya niat saya ingin merubah hidup ini menjadi lebih baik dari kemarin. Teman saya bilang setiap orang habis ikut maiyahan atau sering membaca tulisan-tulisan di caknun.com itupun saya belum tau tulisan-tulisannya seperti apa, lha wong saya aja baru mengikuti akun tadi di medsos.

Di lain waktu saya buka akun caknun.com sudah otomatis saya tahu wajah siapa Cak Nun dan personil Kiai Kanjeng bahkan lihat fotonya acara maiyahan itu seperti yang sudah saya lihat di akun tersebut. Baru melihat foto saja saya sudah tertarik untuk datang karena begitu dekat sekali seorang Cak Nun dengan yang hadir di acara maiyahan, tidak seperti yang sudah saya lihat di acara sholawatan  pakai pagar begitu juga konser artis apalagi orkes dangdut juga pakai pagar mengelilingi panggung. Saya heran acara maiyahan Cak Nun ini tidak pakai pagar mengelilingi panggung itulah yang membuat saya ingin datang ke acara maiyahan.

Saya kembali melihat lihat di akun caknun.com setiap hari ada tulisan daur, khasanah, menek blimbing itu apa, maksudnya saya belum paham karena saya belum baca satu per satu. Saya kembali tanya kepada teman saya apa itu daur, khasanah dan menek blimbing, teman saya malah menjawab lha itu kamu baca satu per satu dan kamu cari jadwal agenda Cak Nun kalau kamu ingin ikut maiyahan, nanti kalau kamu baca daur ataupun yang lainnya suatu saat kamu akan mengerti maksudnya di tulisan tersebut apalagi kamu bisa hadir di acara maiyahan lebih cepet lagi nanti kamu akan perlahan berubah sikap ataupun sifat-sifatmu(dalam hati saya berkata, apa memang benar kata temenku ini kok bisa bilang begitu apa dia sudah mengalami hal tersebut dan apa yang terkandung dalam tulisan di daur ataupun yang lainnya, siapa Cak Nun itu ya kok berani berhadapan langsung dengan jamaah tanpa ada pembatas pager seperti yang saya ceritakan tadi, bahkan sama jamaah Cak Nun bersalaman langsung, foto fotonya juga dekat dengan jamaah, tidak seperti acara sholawatan tidak ada acara salaman apalagi konser artis band juga orkes dangdut diajak bersalaman cuma kena pucuk tangan saja tapi kalau Cak Nun kok berani). Rasa hati ini tambah penasaran lagi segera ingin hadir di acara maiyahan Cak Nun.

Kembali saya baca di akun Cak Nun, baca daur dulu saja satu per satu dari Daur-I • 01 dan seterusnya. Perasaan heran lagi karena belum paham maksudnya apa di dalam tulisan daur yang sudah saya baca satu per satu tadi, terus terang saya tidak paham. Mending saya lihat jadwal agenda saja ada jadwal dimana bulan ini, kebetulan sekali ada jadwal acara deket dari tempat saya bekerja meski harus menempuh jarak 1 jam perjalanan dulu, karena memang sudah niat saya setelah waktunya tiba saya berangkat ke acara maiyahan sendiri tidak mengajak teman sekalipun

Sampai di lokasi memang benar tampak disekitar panggung tidak ada pembatas sekalipun, yang hadir malam itu sudah agak padat mungkin karena waktu sudah melewati Isya’, bermodalkan nekad saya permisi-permisi terus kepada orang-orang yang sudah hadir karena ingin melihat Cak Nun dan Kiai Kanjeng agak dekat, dapatlah tempat buat duduk meski tidak di depan karena buat panitia yang hadir malam itu.

Ketika acara sudah dibuka dengan pembacaan Ayat Suci Al Qur’an, kata demi kata disampaikan oleh panitia Kiai Kanjeng hadir menyambut semua yang hadir malam itu dengan sholawat-sholawatnya. Rasa senang hati ini muncul ketika mendengar sholawat yang dibawakan oleh Kiai Kanjeng karena sudah lama mulut saya ini tidak melantunkan sholawat kepada Kanjeng Nabi. Tampak ramai-ramai disamping panggung ternyata Cak Nun sudah hadir dengan sejumlah kyai-kyai atau habib setempat.

Cak Nun mengajak yang hadir juga berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian dilanjut untuk menyapa Kanjeng Nabi bersholawat bersama-sama. Kata demi kata, ilmu-ilmu Cak Nun sampaikan kepada para jamaah dan lagu-lagu juga cak Nun persembahkan, sempat mata ini bergelimang air mata saat lagu Kuncine Lawang Suwargo dilantunkan oleh Kiai Kanjeng. Apalagi pertama terdengar lagu One More Night yg dipersembahkan oleh Kiai Kanjeng, tambah perasaan senang campur menangis,ungguh benar-benar tidak berarti apa-apa saya ini saat mendengar lagu pada saat itu.Kembali saya mendengarkan apa yang disampaikan Cak Nun saya cuma terdiam benar benar menyimak sampai akhir acara ditutup dengan doa.

Kemudian dilanjut salaman dan saya lihat juga salaman sampai selesai,Cak Nun juga melayaninya sampai selesai tidak ada yang salaman lagi.Saya berpikir memang benar tidak seperti di acara-acara pengajian lainnya ada acara salaman sampai mau melayani semua orang yang hadir pada malam itu.

Seperti yang sudah disampaikan teman,saya kembali membaca daur dan tulisan-tulisan yang di akun Cak Nun yang sampai saat ini selalu saya baca terus setiap ada tulisan dari dari beliau, juga tidak lupa setiap ada jadwal acara maiyah yang masih bisa ditempuh 3 jam atau 4 jam saya niati berangkat setelah selesai juga langsung balek lagi ke tempat kerja saya, juga tidak menyurutkan niat saya karena ingin lebih baik dari kemarin-kemarin saya yang belum pantas disebut orang muslim ini.

Banyak perubahan-perubahan terjadi pada hidup saya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya setelah mengikuti maiyahan dari berbagai tempat, banyak kebenaran yang terjadi seperti apa yang sudah Beliau sampaikan kepada semua yang hadir di maiyahan kalau malam ini anda tidak paham apa yang disampaikan beliau atau mungkin anda tertidur di lain waktu akan loading sendiri di hati anda masing-masing. Memang benar apa yang sudah disampaikan beliau suatu saat kita akan mengerti seperti yang sudah saya alami.

Saya bersyukur sekali sudah diajak teman saya mengenali apa itu Maiyah, Siapa Cak Nun dan Kiai Kanjeng, juga bersyukur sekali bisa bertemu Beliau dan Kiai Kanjeng yang selalu memberikan kado kado berupa ilmu-ilmu yang tidak pernah berhenti mengalir kepada semua jamaah maiyah, jarang sekali saya mendapat ilmu-ilmu yang disampaikan Beliau. Bahkan Beliau rela menemani jamaah maiyah sampai berjam jam yang pernah saya alami di maiyah.Banyak kejadian-kejadian baik juga dengan yang saya alami setelah ikut maiyah, saya juga bersyukur sudah kenal Beliau-beliau Kiai Kanjeng bahkan pernah saya bujuk rayu agar mau ngopi di rumah teman saya waktu acara maiyah di wonogiri beberapa bulan yang lalu. Tidak saya sangka Allah memberikan kejutan yang tak terduga duga pada saat seluruh rombongan Kiai Kanjeng mau mampir ngopi di rumah teman saya,Barokallah.Syukur Alhamdulillah yang bisa saya ucapkan.

Tidak lupa saya selalu membisiki Cak Nun setiap salaman kepada Beliau, semoga sehat terus nggih mbah kemudian Beliau menepuk nepuk pundak saya kembali. Tidak cukup kata terima kasih saja dari saya untuk Beliau karena memang sayangnya beliau kepada jamaah maiyah dan cintanya kepada Indonesia begitu terlihat sekali hampir setiap malam menemani orang-orang desa di berbagai tempat.

Sempat saya melihat Beliau meneteskan air mata tapi beliau tahan pada waktu itu, mungkin siapa saja bagi jamaah tidak cukup untuk menceritakan pengalamannya setelah ikut maiyahan dan berbeda beda cerita lagi. Semoga Cak Nun selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Terima kasih mbah Nun selalu memberi kado-kado ilmu kepada kami yang tidak pernah berhenti mengalir kepada kami. mugi sehat terus nggih mbah.

Jepara,11 Oktober 2017

Oleh: Galih Indra Pratama

Tulisan terkait