Menu Close

Saling…

0Shares

Tugas suami adalah menafkahi istri. Sedangkan tugas seorang istri adalah melayani suami. Statement atau pernyataan diatas benar dan telah belasan tahun saya mempercayainya. Namun belum lama ini, akhirnya pernyataan tersebut saya patahkan sendiri. Kenapa? Kok bisa? Apa alasannya? Tenang, mari pelan-pelan kita urai bersama.

Sepekan pasca menikah, saya dan istri sepakat untuk mengontrak rumah sendiri. Dengan pertimbangan ingin belajar hidup mandiri serta mencari kebebasan dalam me-manage ritme, kebutuhan, kegiatan dan segala administrasi-birokrasi kehidupan rumah tangga. Dan yang paling penting, kalau sudah punya panggonan sendiri mau ngapain saja bebas. Ameh mlumah, ameh tengkurep, bahkan mau njengking sekalipun silahkan. Tidak ada yang melarang. Mau tidur dan bangun jam berapa saja woles. Pokoknya ndak ada ewuh-pekewuh lagi. Sebab dirumah hanya tinggal berdua. Tidak ada yang lainnya.

Selang sebulan pernikahan, timbul gejala rada aneh pada istri saya. Dia sekarang ngantukan, gampang capek, dikit-dikit mual, susah makan dan minta dielus-elus terus.

Alamaakkk….. manja.

Kebiasaan ini berubah total dengan dulu saat sebelum dan awal-awal kita menikah. Dia adalah perempuan sekaligus istri idaman. Dan saya sangat beruntung memilikinya. Awal menikah, saya dilayani luar biasa sebagai seorang suami. Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi.

Setiap pagi selalu dibuatkan menu sarapan, teh hangat atau kopi panas. Seragam dan sepatu kantor juga disiapkan. Nanti sepulang sekolah dibuatin lagi secangkir kopi berteman kudapan-kudapan kecil.

Kalau ada pakaian dan perabot kotor ; gelas, piring, wajan, sendok, panci, langsung dia cuci. Kalau lagi ndak malas, saya sekedar bantu nyapu. Hampir seluruh pekerjaan rumah, dapat diselesaikan dengan baik oleh istri saya. Dan lagi-lagi saya bersyukur mendapatkan-nya.

Mengetahui ‘keanehan’ yang terjadi pada istri, saya pun berasumsi. Apa jangan-jangan itu ya. Lekasan maksud saya. Setelah sharing dan berunding, kami pun segera pergi ke Apotek untuk membeli tespack. Dan hasil tes urine sang istri menunjukkan dua strip pada alat tes kehamilan tersebut. Artinya itu pertanda positif. Senang tapi masih bimbang. Belum yakin benar karena strip yang kedua masih terlihat samar.

Esoknya kami pergi ke rumah sakit. Periksa untuk memastikan apakah benar positif atau negatif. Menurut keterangan sang bidan, hormon HCG yang terdapat dalam rahim masih sedikit. Sehingga gumpalan darah (janin) belum begitu nampak. Dua minggu ke depan disuruh datang periksa lagi. Pesan bu bidan, mulai sekarang harus lebih hati-hati. Tidak boleh capek, kerja berat, dan harus mengatur pola makan. Makan makanan yang alami, higienis, dan bernutrisi tinggi. Intinya kondisi janin masih riskan, sehingga mesti dijaga sebaik-baiknya.

Setelah mendengar penjelasan dari dokter dan bidan, saya pun tersenyum dalam. Senang tak tertanggungkan. Namun juga sedikit menyimpan beban. Mungkin bukan beban. Tapi InsyaAllah akan diamanahi tanggung jawab yang lebih oleh Tuhan.

Melihat sang istri sekarang yang gampang capek, sering muntah, mual, ndak selera makan, hati ini rasanya ndak tega. Sumpah kasihan. Mau tidak mau, suka nggak suka saya pun ganti mengerjakan tugas-tugas yang biasanya dilakukan-nya. Mulai dari nggodhog banyu, memasak, nyapu, isah-isah, mencuci baju, belanja itu-ini dan apa saja yang dia inginkan selalu saya coba penuhi. Saya juga yang setiap malam selalu menemani tidurnya. Sembari mijeti leher, pundak, geger dan kedua kakinya. Pokoknya ndak mau ditinggal sebelum matanya terpejam. Tak lupa pula, ia selalu minta di ngajikan dan dirapalkan doa-doa.

Sebulan sudah saya merasa dilayani istri dan seminggu terakhir ini gantian saya yang belajar melayani istri. Tidak apa-apa. Dan tidak jadi masalah. Saya berusaha untuk melakukan segala pekerjaan dan tugas rumah tangga dengan hati gembira. Rasa malas, capek, pegel, ngantuk kalah dengan perasaan senang hati saya yang InsyaAllah akan dikaruniai momongan. Semoga.

Disaat sang istri rewel, manja dan tiba-tiba minta ini, pengin itu, saya cukup senyum dan meng-iyakannya.  Tanpa membantah atau menolaknya. Saya teringat konsep cinta yang pernah diajarkan oleh Mbah Nun diforum Maiyahan. Bahwa konsep cinta sejati itu bukan take and give. Kalau take and give itu hukum jual beli alias dodolan. Dan cinta bukanlah peristiwa jual-beli. Cinta adalah give dan give. Memberi, memberi dan memberi. Melayani, melayani dan melayani. Itulah wujud implementasi cinta yang tertinggi. Rumus tersebut yang kemudian saya jadikan pedoman bahwa mencintai itu memberi. Mencintai itu melayani. Memberi  dengan cinta, dan melayani dengan cinta pula.

Dan jangan pernah merasa berkorban dalam melayani istri atau apapun. Ketika diri ini merasa berkorban dalam melakukan suatu hal, maka itu belum disebut cinta. Cinta tidak ada yang dikorbankan. Cinta juga tidak menyebabkan orang lain menjadi korban. Cinta ya cinta. Kalau sudah cinta lakukan, kerjakan semuanya dengan cinta.

Benar bahwa : “ngelmu iku kelakone kanthi laku”.

Kita akan tahu dan mengerti sesuatu jika kita telah mengalaminya sendiri. Nglakoni dewe. Kita akan tahu pedasnya sambal, jika kita telah mencicipi rasanya sambal. Kita akan tahu dingin-nya hawa gunung, bila kita sudah menginjakkan kaki diatas gunung. Dan kita akan tahu bagaimana suka-duka dalam berumah-tangga, apabila kita sudah menikah dan menjalaninya.

Dari pengalaman diatas, Alhamdulillah saya menemukan ilmu baru. Bahwa suami-istri tidak dapat berdiri sendiri. Benar tugas suami adalah menafkahi istri, namun adakalanya istri juga berkesempatan menafkahi suami. Sudah kewajiban memang seorang istri melayani dengan baik suaminya. Namun tak menutup kemungkinan, suami pun berpeluang besar untuk melayani istri tercinta.

Saya menemukan kata yang pas untuk menggambarkan-nya. Suami-istri adalah pasangan. Yang memiliki ikatan-ketersambungan. Jelas mereka tak bisa hidup sendiri. Baiknya, mereka saling menafkahi, saling melayani dan saling mencintai

 

Gemolong, 14 Okt 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait