Menu Close

Ndherek Kersané Gusti Allah

0Shares

Yang paling enak dan membahagiakan dalam hidup ini adalah mendapatkan kejutan/ surprise. Yaitu memperoleh sesuatu yang tak disangka-sangka dan datangnya tak terduga. Bisa kapan saja, dimana saja dan dari siapa saja. Seperti yang menimpa saya beberapa hari lalu. Begini ceritanya, selasa kemarin tepat tanggal 1 Agustus 2017, saya dan si calon istri pergi ke Solo. Sepulang sekolah, sekitar pukul setengah dua, kami meluncur dari Gemolong menuju Nonongan untuk membeli souvenir pernikahan. Dengan mengendarai kuda besi berplat AD 5295 ARE,  tepat pukul tiga sore kami sampai di TKP (baca. Nonongan).

Di lokasi kami sudah ditunggu kakak istri saya dan suaminya. Penelusuran pun dimulai. Satu persatu toko souvenir yang berjajar di sepanjang jalan Nonongan kami singgahi. Kita berdua sepakat untuk membeli kipas sebagai souvenir di acara resepsi nanti.

Toko pertama kami masuki. Saya berjalan pelan dibelakang si Cinta membuntuti langkahnya. Oh ya maaf, bukan-nya alay apalagi lebay. Semenjak tunangan, saya sering memanggil sang calon istri dengan sebutan cinta. (Haha)

Setelah memilah dan memilih, ada satu model kipas yang cocok dengan budget dan selera kita. Harga satu kipasnya senilai Rp. 2.500,-. Jika membeli 600 pcs maka total harganya tinggal dikalikan : 600 pcs x Rp. 2.500,- = Rp. 1.500.000,-. Saat dompet dibuka ternyata uang kita masih kurang untuk membayar total harga kipas tersebut. Uang yang ada didompet hanya Rp. 1.100.000,-. Itu artinya masih kurang Rp. 400.000,-. Alhasil kami urungkan niat untuk membeli kipas tersebut. Bersebab duit kurang, kami beralibi itu ini, lalu permisi keluar dan berpindah ke toko sebelah.

Masuk di toko kedua, kita tidak mendapati kipas yang diinginkan. Entah itu modelnya maupun harganya. Lantas kita beralih ke toko selanjutnya. Di toko yang ketiga, ada kipas yang lumayan bagus dan masuk harganya. Tapi sialnya di toko tersebut stok barangnya terbatas. Kita memutuskan keluar dari toko dan berunding sebentar. Si cinta mengajak kembali ke toko pertama, sambil berharap semoga bisa memberi DP dulu sebagai panjer atau tanda jadi (deal). Sedangkan kakaknya bilang masih ada satu toko yang belum dimasuki. Apa kita coba dulu kesana. Akhirnya kita ber-empat sepakat menuju ke toko yang dimaksud. Apes bin ngenes. Tetiba disana para pegawai toko sudah menarik pintu rolling door. Tanda toko mau tutup. Benar saja toko closing, jarum jam di tangan telah menunjukkan pukul 16.00 tepat.

Tanpa pikir panjang, kami beranjak cepat menuju ke toko yang pertama. Alhamdulillah toko masih buka. Segera saya dan si Cinta nego dengan pegawai toko.

“Maaf mbak, kalau pakai DP dulu bisa ndak ya mbak?” – tanya si Cinta.

“Gak bisa mbak, harus cash bayarnya.” – jawab si Mbaknya (pegawai toko)

“Ini kan uang-nya kurang, kalau kita ambil ke ATM sebentar saget nunggu ndak mbak?” – pinta si Cinta dengan nada memelas.

“Ini dah mau tutup itu mbak, kalau disuruh nunggu kita gak bisa. Atau besok aja mbak-nya kesini lagi.” – jelas si penjaga tokonya.

Kami pun lantas pulang, dan terlihat jelas raut kecewa di wajah si Cinta. Saya genggam tangan-nya dan bicara pelan padanya:

“Bismillah, mungkin Allah belum izinkan beli sekarang. Ndak papa, kita berbaik sangka saja sama Allah. Besok kita ke Solo lagi sembari menunggu ‘surprise kecil’ dari-Nya”

Esok harinya (Rabu, 02-08-2017) saya dan si Cinta cus ke Solo. Berangkat dari Gemolong pukul satu seperempat dan sampai di Nonongan pukul setengah tiga. Toko yang menjadi jujugan kita bukan toko yang kemarin nyaris kita transaksi. Tetapi toko yang mau kita masuki adalah toko terakhir yang menutup gerbangnya kemarin.

Setelah melihat-lihat, tak berselang lama si Cinta mendapati sebuah kipas berbentuk minimalis namun terkesan elegan. Enak dipandang, enak juga saat digunakan. Dan ketika si Cinta memperlihatkan kipas itu kepada saya, saya hanya menganggukkan kepala.

“Mbak, kalau yang ini harganya berapa ya?” – tanya si Cinta

“Yang itu persatunya Rp. 2000,- mbak.” – jawab si penjaga

Alhamdulillah Ya Allah….
Puji Tuhan, kami berdua tersenyum girang. Berarti kami cukup membayar uang sebesar Rp. 1.200.000,- (Rp. 2.000,- x 600 pcs). Itu artinya kita berhemat tiga ratus ribu. Kan lumayan. Lumayan buat beli serabi Notosuman. (Hehe)

Kita punya kehendak. Allah juga punya kehendak. Sudah barang tentu kehendak Allah-lah yang berlaku. Dan kehendak Allah pasti yang terbaik untuk kita semua. Sudahlah, yang paling enak itu kalau apa-apa ndherek kersané Gusti Allah.

 

Sragen, 07 Agustus 2017

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait