Menu Close

Antara Rokok, Aku, dan Kekasihku

0Shares

Hampir 90% saya percaya jika mayoritas perempuan di Indonesia tidak suka kepada lelaki perokok. Bagi mereka (baca. 90% perempuan) rokok adalah racun. Karena dianggap racun maka rokok harus dimusuhi, dijauhi syukur-syukur dimusnahkan dari muka bumi. Ekstrem-nya lagi bahkan ada yang men-judge rokok itu haram. Kalau sudah dicap haram maka hukumnya “wajib” ditinggalkan. Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, menurut saya rokok tidak berada pada ranah halal-haram. Menurut saya lho ya. Salah satu alasan-nya adalah dimana bahan dasar dari rokok adalah tembakau (tetumbuhan). Mbako sing nukulke Gusti Alloh. Mosok mbako haram, ya ndaklah. Proses sederhana-nya adalah tembakau dikeringkan, kemudian diracik, dikasih ‘bumbu-bumbu’ , dikemas dan jadilah batang-batang rokok. Sebaik-nya bagi yang tidak merokok jangan melarang-larang orang untuk merokok. Dan yang merokok jangan pula menganjurkan orang lain untuk merokok. Adil kan? Gitu aja kok repot. (Hehe).

Jujur, saya seorang perokok aktif. Aktif ngebul sejak berseragam putih-biru (SMP) hingga saat ini berusia menginjak tiga puluh. Mohon dengan sangat perbuatan ini JANGAN DITIRU! Wabil qusus buat adik-adik yang masih bersekolah. Nanti kalau sudah bisa cari uang sendiri silakan. Tapi kalau masih nyadong wong tuo, ojo. Mesakno.

Dan gara-gara rokok jua-lah saya dihadapkan sebuah dilema. Dilema ini muncul manakala saya berkenalan dengan seorang wanita. Wanita yang sungguh memikat jiwa. Jiwa saya terpesona. Memandang pertama kali wajahnya, saya langsung jatuh cinta. Halah gombal! Beneran. Sumpah beneran! Ini bukan gombal, sebab gombal saya sudah habis di “obral” ketika masa SMA dan kuliah silam. Wanita yang memikat jiwa itu terasa spesial. Kriteria istri idaman yang begitu lama saya idam-idamkan ada padanya. Istimewa pokoknya. Tanpa menunggu lama saya beranikan diri mendekatinya. Menyapa, bercengkrama, ngobrol ngalor-ngidul sampai acara ngajak makan bareng berdua. Ngedate gaes ceritanya. (Haha)

Hari, minggu, bulan berlalu. Hubungan kita berdua semakin intens dan padu. Sampai tiba saatnya kata-kata cinta meluncur deras dari mulut saya, menuju pas jantung hatinya. Via pesan suara, saya nyatakan segenap isi perasaan :

“Aku mencintaimu.., maukah kau menjadi pendamping hidupku…”

“……….hening……….”

Selang beberapa hari, dia mengirim pesan WA kepada saya. Ada dua poin penting yang disampaikan-nya :

Pertama : Kalau njenengan serius dengan saya, temui dan bilang ke orang tua saya.

Kedua : Tolong hentikan kebiasaan buruk anda yaitu merokok. Rokok itu ndak baik untuk kesehatan.

Modaaaaarrrrrr……….

Rasanya seperti naik roller coaster. Di satu sisi saya senang bukan kepalang, tapi di sisi lain rasanya bingung ndak karuan. Jelas, ungkapan yang pertama membuat saya gembira. Celah terbuka. Lampu hijau menyala. Bismillah saya siap untuk menemui kedua orang tuanya. Namun yang nomor dua itu yang bikin dilema. Berat dan bagaimana caranya memberi pengertian kepadanya. Dengan perasaan campur aduk, saya balas singkat ‘pesan keramat’ darinya.

“Alhamdulillah, terimakasih sangat.”

Merokok sejak usia belia hingga sekarang termasuk lama. Meski pada tahun 2012 – 2014 saya sempat off tidak merokok. Kala itu saya menderita radang yang berkepanjangan. Mau tidak mau, suka ndak suka, ‘ibadah hisap’ saya hentikan sementara. Dan memasuki pertengahan tahun 2015 lalu saya kumat lagi. Ngebul lagi. Ngeses lagi. Nyepur lagi.

Bagi saya rokok adalah ‘doping’. Pemicu semangat dan pemberi inspirasi. Ah lebay, itu kan cuma suggesty. Awalnya saya mengira iya, namun setelah membuktikan dan mempraktekkan-nya dalam kehidupan sehari-hari, ternyata bukan suggesty. Lebih ke ‘vitamin’, yang mampu merangsang pikiran untuk kreatif. Contohnya, tulisan ini tidak akan jadi kalau tidak ada rokok yang menemani. Dan lebih asyik lagi kalau ‘ibadah hisap’ dikancani secangkir kopi. Mantap sekali. Seolah nikotin dan caffein itu jodoh. Punya chemistry yang tidak bisa dipisahkan. Kaum smoker punya filosofi tersendiri : “ngopi tanpa ngudud, ibarat ngising ora cawik.” Hiii….jijik!

Dan jangan salah bahkan sudah menjadi adat kebiasaan saya selama ini, dimana setiap kali saya nyumet batang rokok selalu saya awali dengan bacaan Bismillah. Ini bukan mau pamer apalagi guyonan. Tetapi ini serius saya lakukan. Dengan harapan setiap tarikan dan hembusan pada batang rokok tersebut Allah terlibat didalamnya. Kalau memang ada racun yang terkandung didalam batang rokok moga-moga Allah bersedia men-sterilkan dan tubuh saya dikebalkan. Dan apabila asap yang keluar dari mulut saya juga mengandung zat-zat yang berbahaya bagi orang dan sekitar, mudah-mudahan Allah juga turut melindungi mereka semua dari hal-hal yang merugikan.

Akhirnya, pelan-pelan dengan memakai cara dan bahasa yang santun, saya coba beri pengertian kepada sang kekasih hati. Pikiran dia saya giring, saya jereng agar tidak sempit dalam melihat atau menilai sesuatu. Suatu hari pernah saya ajak dia untuk nongkrong di depan gerbang pabrik rokok lokal. Tepat pukul empat sore, seluruh buruh linting rokok berhamburan keluar dari sarang-nya. Mereka didominasi kaum hawa. Ibu-ibu rumah tangga. Persis di bibir gerbang pabrik berjejer lapak-lapak yang menjajakan berbagai makanan dan kebutuhan dapur. Para buruh tersebut membaur, berbelanja segala keperluan rumah tangga.

“Kamu lihat itu, ratusan bahkan ribuan orang yang notabene seorang ibu rumah tangga, menggantungkan nasibnya menjadi buruh linting rokok. Peluhnya jatuh demi selembar rupiah lusuh. Yang mereka gunakan diantaranya untuk beli susu anaknya, bayar uang sekolah, bayar listrik, air, iuran RT, kondangan dan lain-lain.

Apa kita tega untuk men-cap bahwa rokok itu merusak kesehatan, rokok itu haram. Kalau sampai di vonis haram lalu pabriknya tutup terus mereka mau bekerja dimana? Dapat uang darimana? Siapa yang mau menanggung jatah susu anaknya? Siapa yang akan membayar tagihan listrik, air, pulsa, kuota bulanan mereka?”

Mendengar kultum sore dari saya, ia pun terdiam. Tampak ada yang mengganggu pikiran dan perasaan-nya. Spontan, dia menonjok dada saya sembari menyunggingkan senyum yang beda.

Yang saya ceritakan diatas baru kisah dan nasib buruh linting rokok. Belum petani tembakau yang tersebar luas di penjuru tanah air. Bayangkan saja kalau rokok berhenti di produksi. Maka itu sama saja ‘membunuh’ perekonomian dan sumber pendapatan jutaan petani. Saya kok ndak tega membayangkan-nya. Ngeri.

Sikap paling bijaksana dalam menyikapi rokok adalah dengan menggunakan parameter manfaat dan mudharat. Bukan vonis halal-haram. Persis dengan apa yang sering di ungkapkan Mbah Nun dibanyak forum maiyahan.

“Nek apik nggo awakmu nggonen, tapi nek marai elek tinggalen”. terang Mbah Nun.

Dan wejangan dari Mbah Nun tersebut lantas saya gunakan untuk ‘meracuni’ pola pikir dan anggapan kekasih saya soal rokok.

“Sayang, saya merokok bukan sekedar karena rasa ingin. Rasa ingin itu sepele dan sebentar. Saya merokok dalam rangka, turut serta ‘membantu’ perputaran roda perekonomian semua pihak yang berkecimpung di dalamnya. Mulai dari petani, pengepul, kuli panggul, sopir ekspedisi, pabrik, buruh-karyawan, agen, distributor hingga warung-warung eceran dan pedagang asongan. Dan saya merokok, Insya Alloh untuk memacu kreatifitas serta memicu semangat dalam berkarya dan bekerja.”

Dengan dua alasan yang saya sampaikan diatas, Alhamdulillah sang kekasih akhirnya luluh juga. Ia pun mau menerima ‘kebiasaan buruk’ saya. Yes. Lega.

28-7-2017

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait