Menu Close

Filosofi Sepakbola

0Shares

Kalau ada yang tanya, “apa yang asyik dan menarik selain wanita cantik?” Maka saya mantap menjawab : sepakbola. Ya, sepakbola bagi saya sangat menarik. Drama paling seru, paling menegangkan adalah sepakbola. Tidak percaya, buktikan saja. Masih ingat laga final Liga Champion tahun 2008 antara Chelsea dan Manchester United di Moscow Rusia? Ketika peluit panjang dibunyikan, kedudukan kala itu masih imbang 1-1. Perpanjangan waktu 2×15 menit pun tak mengubah skor pertandingan. Alhasil penentuan gelar juara ditempuh lewat adu penalti. Drama dimulai. Satu per satu algojo dari kubu Chelsea dan MU menjalankan tugasnya. Sampai penendang kelima, kedudukan kedua tim sama kuat. 4 masuk, 1 gagal. Sampai tibalah giliran penendang terakhir dari Si Biru (Chelsea). Bermilyar pasang mata seluruh penjuru dunia menegang, berdebar-debar, harap-harap cemas, menunggu sang dewi fortuna berpihak dikubu mana.

Saya berteriak kencang, melompat-lompat, meluap-luap, girang bukan kepalang. Jersey merah MU tak uculi tak ubeng-ubengke sambil nyanyi ole-ole. Saya njerit sak kemeng√© ketika menyaksikan aksi heroik kiper legendaris MU Edwin Van Der mem-blok sepakan mendatar Nicholas Anelka. Tangis, tawa, tumpah disana. Kubu merah bersuka cita. Kubu biru mengharu pilu. Drama telah usai. Cristiano Ronaldo dkk berhasil membawa pulang si “Kuping Besar” (istilah lain trofi Liga Champion).

Sepakbola memang mengasyikkan. Dan bikin ketagihan. Sejak SD saya sudah gila bola. Bahkan sampai sekarang masih juga gila. Gila bola maksudnya. (Haha)

Ternyata banyak sekali pelajaran yang didapatkan dari permainan sepakbola. Sepakbola bukan sekedar olahraga. Bukan hanya hiburan semata. Tetapi lebih dari itu. Sepakbola mengandung filosofi. Dan jika kita mengerti tentang filosofi dalam sepakbola, maka kita juga akan mampu menjalani realita hidup ini dengan peran apa saja.

Hidup di dunia tak ubahnya sebuah permainan. Seperti halnya permainan sepakbola. Di mana setiap pemain atau tim memiliki tujuan akhir yang sama yaitu mencetak goal demi satu kata, kemenangan! Tentu perlu strategi jitu, latihan keras dan kerjasama dari semua lapisan tim untuk bisa meraih kemenangan. Dan tidak boleh berhenti berlari sampai peluit panjang di bunyikan tanda berakhirnya pertandingan.

Dalam mengolah si kulit bundar, kita tidaklah bermain sendirian. Ada kawan yang saling bahu membahu untuk memudahkan kita menceploskan bola ke gawang. Di perlukan kerjasama yang apik antar pemain dalam tim jika ingin menjadi pemenang. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah jika ada kawan sudah pasti ada lawan. Untuk memburu sebuah goal memang bukan perkara mudah. Sebab usaha kita akan di halang-halangi oleh lawan kita yang jumlahnya sama dan punya tujuan yang sama pula. Oleh sebab itu tidak ada cara lain selain mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan kita guna merengkuh kemenangan di akhir pertandingan.

Dalam kehidupan di dunia nyata, kita juga punya kawan dan lawan. Kawan kita adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang yang setia dan sedia untuk membantu kita. Bisa keluarga, teman, kerabat, saudara atau rekan kerja. Sedangkan yang menjadi lawan kita ialah hawa nafsu dalam diri atau segala hal yang bisa menjatuhkan dan merugikan hidup kita.

Meski kita telah berusaha dengan cara yang baik untuk mencetak goal tanpa ada niat untuk mencederai siapapun. Namun tak menutup kemungkinan orang lain atau lawan kita lah yang akan berlaku curang menjegal laju kita. Hal ini jika dalam sepakbola di namakan pelanggaran (foul). Dan yang melanggar akan di hadiahi sanksi berupa kartu kuning oleh wasit. Apabila nanti masih melakukan pelanggaran lagi maka si pelanggar akan di ganjar kartu kuning kedua yang otomatis menjadi kartu merah. Itu artinya si pelanggar dipersilakan keluar dari lapangan (sent off). Kalau diibaratkan, kartu merah adalah simbol “dosa besar”. Suatu tindakan yang haram di lakukan dalam sebuah pertandingan sepakbola.

Pun dalam hidup ini. Meski kita sudah bersikap baik kepada siapapun, kapanpun dan di manapun. Tak jarang pula banyak dari mereka (lawan, pesaing, kompetitor) yang berupaya untuk menjegal, melukai bahkan ingin mencelakakan kita. Namun kita jangan marah dan gegabah. Tetaplah menjadi pemain/ orang yang baik dan sportif. Kita tidak perlu membalas kecurangan atau pelanggaran dari lawan. Sebab sudah ada “wasit”, sang pengawas pertandingan. Ia yang bertugas mengawasi gerak-gerik kita. Dan wasit pula yang berhak mutlak untuk memutuskan suatu perkara (vonis). Biarlah sang “wasit” yang akan memberi kartu peringatan kepada si pelanggar atau mereka yang bertindak curang. Kewajiban kita sebagai pemain (manusia) yaitu bermain cantik, menghormati, kerja keras dan bekerja sama sebaik mungkin dengan tim. Selalu menjunjung tinggi nilai fairplay dalam hal/ kondisi apapun.

Bilamana kita terjatuh oleh jegal lawan, tak usah bereaksi berlebihan. Karena aksi dan reaksi dalam sepakbola adalah sama. Sama-sama mendapat teguran/ peringatan dari pengadil lapangan. Bangkit saja dan kembali berjiba untuk menuntaskan misi merengkuh hasil manis di ujung laga.

Ternyata, pertandingan sepakbola merupakan cerminan dari kehidupan nyata. Ada pemain, pelatih, staff, wasit, hakim garis, tim medis, official, barisan supporter dll. Ada tim kawan dan lawan. Dibutuhkan skill individu yang mumpuni dan juga teamwork yang rapi. Seperti itu pula kehidupan nyata kita sehari-hari didunia ini.

Kalau dalam permainan sepakbola sang pengadilnya bernama wasit. Maka dalam ‘permainan’ dunia yang bertindak sebagai juru adil adalah Allah SWT. Allah-lah sang “wasit” kehidupan. DIA yang terus menerus mengamati dan mengawasi segala tindak tanduk kita. Baik buruk, hitam-putih laku kita tak ada satu pun yang luput dari mripat pandang-Nya. Entah sedang main sepakbola atau ‘main’ dengan urusan dunia. Hendaknya kita bermain jujur, baik dan sportif. Agar menuai hasil yang positif.

Terakhir yang harus kita ingat dan catat, bahwa kita terlahir di dunia ini untuk jadi pemenang. Maka berjuanglah untuk menjadi sang pemenang. Dan kemenangan yang agung bukanlah kemenangan dalam pertandingan sepakbola. Bukan kemenangan atau sukses besar didunia. Namun kemenangan yang terbaik, sejati dan mulia adalah kemenangan di akhir sana.

“We are the Champions, my friends…”

Gemolong, 03 Okt 2017

 Oleh

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait