Menu Close

Terjebak Gila

0Shares

Pernah suatu ketika saya berpapasan dengan orang gila. Sebelumnya saya tidak menyadari bahwa ia mengalami sakit jiwa karena dari jauh memang terlihat biasa-biasa saja. Lelah karena berjalan kaki lumayan jauh sepulang dari sekolah membuat saya acuh dengan keadaan sekitar. Memang dari kejauhan saya sudah mengira bahwa yang berjalan di ujung sana adalah orang gila. Tetapi seakan-akan hanya perasaan saja yang mengira demikian. Jalan kampung yang hanya selebar satu mobil ini membuat saya tidak bisa berjaga jarak darinya semisal ada peristiwa yang tidak mengenakkan.

Saya tetap meneruskan langkah demi langkah dan membuat kami semakin berdekatan.  Dari jarak 10 meter, akhirnya saya yakin bahwa ia adalah orang gila. Hanya memakai celana kotor kecoklatan, rambutnya kumal dan bola matanya tertuju ke arah saya dengan senyuman yang tak jelas sebabnya. Dada saya mulai deg-degan, pikiran saya langsung tertuju pada orang gila di kampung sebelah yang sering mengamuk jika berpapasan dengan orang yang berjalan sendirian dan saya sekarang sedang sendirian. Saya mulai diserang perasaan was-was dan ragu untuk meneruskan langkah. Ingin sekali memutar arah dan mencari jalan lain untuk menuju ke rumah, tetapi perut saya sudah sangat lapar dan menolak untuk berbalik arah karena akan lebih lama sampai di rumah.

Semakin dekat, senyumnya semakin melebar. Tangannya mulai bergerak tidak jelas. Tempo berjalannya pun mulai melambat seakan-akan menunggu saya, apakah ia ingin berbuat sesuatu terhadap saya? Lantas apakah saya harus lari ke depan atau berbalik arah mumpung masih sempat?

Namun, waktu tidak bisa diajak kompromi. Ia semakin dekat dan terdengar cekikian dari rongga mulutnya yang kering. Sekujur tubuh saya merinding dan gemetar. Saya harus bagaimana? Maju atau mundur? Kalau maju, saya tidak mau menanggung resiko, tetapi kalau mundur, saya tidak tega dengan harga diri saya dan harus berjalan lebih jauh lagi. Mau ditaruh di mana wajah saya kalau dengan orang gila saja saya takut. Walaupun tidak ada orang lain yang melihat, tetapi saya merasa orang gila itu juga bisa menjadi saksi bahwa saya ketakutan. Ia akan bangga diri karena bisa menakuti saya tanpa bermaksud menakuti. Mengalahkan tanpa berniat menjadi pemenang. Saya sungguh tidak terima kalau ia dapat mengalahkan saya. Hanya bermodal celana kumuh dan rambut kumal saja kok bisa mengalahkan yang berbaju rapi seperti saya. Sekali lagi, saya sungguh tidak terima!

Momen yang ditunggu-tunggu telah tiba dan saya tidak sempat memilih pilihan yang saya buat sendiri. Kaki saya tetap bersikukuh melangkah maju semakin cepat. Ingin sekali menoleh ke arahnya tetapi kepala saya malah semakin melipat. Melirik saja pun enggan.

“Edan!”, kata yang keluar dari mulutnya meluncur menusuk telinga. Gelak tawanya menggelegar dan membuat tubuh saya semakin gemetar. Ia hanya berjalan melewati saya dan tidak melakukan perbuatan apapun pada diri saya. Semakin saya berjalan membelakanginya, gelak tawanya semakin keras. Saya pun hanya dapat tertunduk dan mengatur nafas yang sempat terhenti saat berada pada posisi terdekat dengannya.

Sesekali kepalaku menoleh ke belakang, ia masih meneruskan tingkahnya sebagai orang gila. Pikiran saya mulai menerka-nerka. Orang tertawa kan ada sebab dan maksud yang disampaikan. Apakah ia tertawa karena ada hal lucu, tertawa mengejek atau tertawa gila karena ia memang menderita penyakit jiwa?

Kalau ia tertawa karena ada sesuatu yang lucu, sepertinya pakaian dan sikap saya biasa-biasa saja. Lingkungan di sekitar juga biasa-biasa  saja dan tidak ada hal yang patut ditertawakan. Apakah ia mengejek saya karena saya ketakutan? Ah, sepertinya  tidak, kan ia orang gila, mana mungkin ia dapat bersikap seperti orang  waras pada umumnya?

Jika ia tertawa tanpa sebab itu wajar karena ia menderita kelainan jiwa. Tetapi, mengapa ia tertawa saat berpapasan dengan saya? Kok saat saya masih berada di kejauhan ia tidak tertawa? Pastikan ada kemungkinan bahwa tawanya ada sebab dan maksudnya. Apalagi ia juga mengatakan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu maksudnya. Dari kejauhan pun saya tidak mendengar ia mengatakan sesuatu. Mengapa ia katakan itu saat berdekatan dengan saya? Atau jangan-jangan ia memberikan kode jawaban ujian sekolah saya besuk? Atau mungkin seperti kata orang bahwa perkataan dari orang gila itu bisa menebak nomor togel yang akan keluar? Tetapi, tidak ada hubungannya antara ucapannya dengan barisan huruf abjad “a, b, c, d, dan e” dengan nomor togel.

Jantung dan nafas saya sudah bekerja teratur, tetapi gantian pikiran saya yang mulai ngelantur. Saya  membayangkan bahwa saat ini saya menjadi tokoh detektif Sherlock Holmes dan detektif Conan. Memecahkan teka-teki dan mempunyai analisa yang tepat. Senyum di bibir saya mulai merekah dan gaya berjalan saya mulai tegap dan gagah. Wahahaha! Seperti ini to rasanya jadi detektif?

Mengamati setiap peristiwa yang terjadi, memperkirakan sebab dan akibat serta mencari solusi atas pelbagai masalah. Tawa saya semakin menjadi-jadi. Bolpoin yang berada di saku saya jadikan sebagai rokok. Jalan menuju rumah sekan-akan karpet merah menuju panggung penghargaan karena berhasil memecahkan teka-teki.

Tiba-tiba gelak tawa saya terhenti saat melihat orang yang berpapasan dengan saya memasang raut wajah penasaran. Dua orang yang mengendarai sepeda motor itu geleng-geleng kepala. Saya pun kebingungan. Apa yang sedang terjadi pada diri saya?

Wajah saya mulai merah padam menanggung malu. Langkah kaki semakin cepat agar segera sampai di rumah. Tetapi, tingkah orang gila itu memang tidak bisa pergi dari kepala saya dan memaksa saya untuk masuk dalam ruang imajinasi. Apakah benar yang dikatakan orang gila itu? Ia berkata “edan” bisa saja ada maksudnya. Apakah yang ia maksud edan itu dirinya sendiri atau saya? Dan ia menertawakan saya? Orang gila kan tidak tahu bahwa dirinya gila. Dia juga tidak mengaku bahwa dirinya waras karena dia mungkin tidak tahu kriteria waras atau tidaknya seseorang.

Saya masih mengelak dengan kemungkinan bahwa yang ia katakan memang benar-benar untuk saya. Dia kan orang gila dan saya orang waras yang sama dengan orang pada umumnya. Tetapi, suara orang gila itu masih bising di telinga saya. Saya gila? Saya pun juga sudah bertingkah seperti dirinya dan saya juga tidak tahu bahwa saya gila atau tidak. Kan saya masih sama dengan orang pada umumnya, mana mungkin saya gila? Mungkin saya gila di matanya, tetapi saya juga sudah melakukan hal gila menurut orang waras pada umumnya?

Satu hal lagi, mengapa saya penasaran dengan tingkah lakunya? Ia kan orang gila,  bukan pula  gudang kunci jawaban dan nomor togel. Saya teringat kata orang bahwa orang yang menanggapi  orang gila juga termasuk dalam kategori orang gila. Ah, saya kehabisan argumen untuk membela diri saya sebagai orang waras dan dengan berat hati saya mengakui  orang gila itu berkata benar. Orang yang berkata benar adalah orang waras. Jadi, ia waras sedangkan saya gila? Licik! ia membuat jebakan yang bisa saja memakan banyak korban. Kecuali yang masih memasang wajah kopong.

Oleh : Athar Fuadi

Tulisan terkait