Menu Close

Kurma Sintesis

0Shares

Salah satu guruku pernah membuat perumpamaan untuk juru dakwah generasi milenial yang suka mencela warisan dakwah para wali secara membabi buta.

Leluhur kita tentu sangat asing dengan kurma pada awalnya, tidak suka dengan kurma mentahan. Oleh para wali, kurma tersebut diolah dulu menjadi sambal kurma, peresan kurma, dan berbagai hal yang sesuai dengan citarasa kurma yang disukai orang Nusantara.

Lalu hasil olahan kurma itu dihidangkan dan ternyata disukai. Lambat laun, ada yang penasaran dengan kurma lalu mencoba mempelajarinya hingga mengerti. Mereka akhirnya suka makan kurma secara langsung. Namun demikian, yang menyukai olahan kurma masih banyak. Itu tidak masalah yang penting mereka memastikan yang mereka makan adalah bersumber dari kurma asli.

Karena zaman semakin modern, akhirnya muncul generasi malas yang cuma tahu kurma jadi. Mereka membeli sachet-sachet minuman rasa kurma, padahal itu bukan dari kurma, tapi rekayasa sintetis industri. Biasalah industri kan bisa merekayasa banyak hal. Akhirnya penyuka kurma sachetan makin banyak karena praktis. Dan yang praktis-praktis itu sekarang yang dicari.

Mereka yakin bahwa kurma sachetan itu asli karena ada labelnya. Sementara kaum yang masih mengkonsumsi olahan kurma tradisional gelagapan ditanya, mana buktinya kalau itu kurma, wong tidak ada labelnya, tidak tersertifikasi kok. Lalu para konsumen olahan kurma tradisional itu mulai bimbang dan ribut. Ada yang kembali teguh, ada yang pragmatis, dan ada yang akhirnya ikut menjadi konsumen kurma sachet.

Mengapa Anda mau-maunya menjadi sales gratisan? Apa gara-gara dapat biaya pelatihan gratis sebagai markerting? Bukankah lebih bijak Anda icip-icip olahan kurma, riset, dan mengkodifikasi mana olahan kurma yang berkualitas tinggi dan mana yang rendah sembari menjadi distributor kurma yang merakyat. Mengapa malah menjadi bagian dari industri trans-nasional kurma sachet sintetis?

Anda boleh berbusa-busa bilang labelnya legal bla bla bla. Kesimpulan saya cuma satu, Anda adalah marketing kapitalis. Itu saja.

Oleh Yuli Adika P.

Tulisan terkait