Menu Close

Simulasi Peradaban

0Shares

Syukur bisa nyawang gunung desa dadi reja,…

Demikian sayup terdengar lagu Caping Gunung-nya mbah Gesang dari radio usang dikamar simbah saya. Lagu tersebut bercerita soal perjuangan, kenyataan dan sekaligus harapan, seperti arus perjalanan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari tentu akan sangat biasa ditemukan proses tersebut, tetapi dalam memaknai hidup lebih dalam dibanding dengan negara lain masyarakat kita punya harapan yang sangat tinggi soal masa depan peradaban.

Berbagai wujud visinya bisa kita temukan dari berbagai mantra dan doa untuk anak-anak kita yang bahkan sejak masih kecil, percakapan pembuka antar orang tua bisa sebagai berikut :

Anake mpun saget napa mas?

Mpun saget macul pak.

Lah, putrine ayu temen, wus isa apa nduk cah ayu?

Lalu orang tuanya akan menjawab, Cah ayu mpun saget masak.

Demikian hebatnya khazanah kita soal harapan masa depan, bahkan lengkap dengan simulasi-simulasi alam berpikir lewat kata, ketika sang putra masih berujud jabang bayi.

Simulasi inilah yang juga saya temukan  di Maiyah  dalam skala dan gelombang yang berbeda. Mbah Nun selalu mengajak kita untuk terus punya harapan akan masa depan yang lebih baik, lengkap dengan cara berpikir yang meloncat kesana-kemari supaya kita siap menghadapi semua kemungkinan di masa mendatang.

Simulasi alam berpikir ini juga terlukis di tulisan-tulisan Mbah Nun, katakanlah sebagai contoh esai    Pandawayudha ,disitu simbah mengajak anak cucu untuk berpikir soal eksalasi  peristiwa yang mengguncang tanah air, Dari kubu-Kubu yang berpolarisasi, lalu berebut benar, kemudian naik  term – nya, dari berebut benar-salah, menjadi Kalah-Menang, menurut saya pribadi ini pelajaran berharga untuk terus memperhitungkan berbagai kemungkinan.

Hingga saking luasnya cara berpikir di Maiyah, dengan berbagai simulasi pemikiran  salah satu outputnya  Maiyah mampu menjembatani progress pemikiran kaum spiritual yang cenderung mesianik , sangat bertumpu pada ramalan, kebangkitan kejayaan masa lampau dengan dunia akademisi yang begitu kritis namun melupakan sisi-sisi spiritual yang menurut mereka tidak logis.

Maiyah ada ditengahnya, antara kaum spiritual dengan akademisi,  antara harapan dan kenyataan, disitulah ruang-ruang simulasi, yang ketika tiba waktunya harus berbuat sesuatu, Maiyah sudah punya jawaban atas harapan tentang peradaban baru di masa depan.

Maiyah juga mampu menerima orang dari berbagai golongan, aliran mazhab, agama, suku, negara yang berbeda.

Seperti jika kita melihat langit antara siang dan malam, disitulah letak Cakrawala, dan Maiyah ini Cakrawala tersendiri. Minimal untuk diri saya pribadi.

Lalu ijinkanlah saya  tulisan ini dengan petikan syair Raden Ngabehi Ranggawarsita.

“sak begja-begjane kang lali, isih begja kang eling lan waspada”

Simulasi keadaan, simulasi Peradaban adalah bagian dari Kewaspadaan. Selamat menikmati kemesraan dalam Maiyah yang  rahmatan lil  ‘alamin.

Nuwun

Sukowati, 27 September 2017

Oleh : Indra Agusta

Tulisan terkait