Menu Close

Sinau Dadi Santri

0Shares

Di zaman now kita diperlihatkan dengan dunia serba modern. Dengan gawai yang ada di tangan kita ini nich, kita bisa sinau apa saja yang kita mau. Mulai dari ilmu pengetahuan umum, sosial, sains, matematika, bahasa, bahkan ilmu agamapun bisa kita pelajari lewat android yang sedang kita pegang ini. Asalkan android kalian ada kuota internetnya. Kalau gag ada kuotanya itu sich sama aja bo’ong.

Nah…. jadi apa yang membuat kita malas sinau? Kalau udah dienakin kaya gitu masih tetap males-malesan. Malu donk. Ini juga bisa jadi motivasi diri sendiri juga loch, biar lebih giat sinau. Tapi kita juga tetap harus bisa memfilter  apa isi dari android kita, mana ilmu yang benar-benar sesuai dengan kebenarannya ataupun itu cuma sekedar hoax semata. Sama juga dengan buku-buku yang kita baca, kita juga harus pinter-pinter memilih buku mana yang seharusnya kita baca. Sehingga tidak meracuni pikiran kita dengan hal-hal yang tidak baik. Kecuali buku komik dan jenis buku komedi bolehlah sekali-kali buat refreshing. Hehe

Memang sejak aku duduk di bangku SMA sampai sekarang aku hobi sekali mengoleksi buku, pokoknya dikoleksi dulu aja. Masalah membacanya kapan besok-besok juga gag papa. Eh malah ketemu jodoh juga kebetulan hobi membaca buku. Lengkap sudahlah. Aku hobi ngoleksi buku sedangkan suami hobi membaca buku (belinya buku kalau diskonan *katanya sich gitu). Emang harus disyukuri, alhamdulillah lumayan bisa mengurangi pengeluaran.

Kembali ke soal sinau. Aku dilahirkan di kota kecil yang bernama Kebumen. Sejak kecil aku dan kakak-kakakku dibesarkan di lingkungan agamis. Boleh dibilang Bapak dan Mama keturunan kyai. Bapak keturunan kyai desa Kalirejo dan Mama keturunan kyai desa Somalangu. Orang tuaku menikah karena dijodohkan oleh orang tua mereka masing-masing.  Sedangkan Mama dan Bapak itu masih ada garis keturunan, jadi mereka menikah dengan saudara sendiri. Setiap harinya kegiatan kami tidak lepas dari mengaji ke mushola/majlis ta’lim dekat rumah. Seperti sudah menjadi kebiasaan bagi aku dan kakak-kakakku yang kebetulan perempuan semua untuk mengabdikan diri di majlis ta’lim tersebut dari menjadi santri QIROATI sampai menjadi guru ngaji atau TPA (Taman Pendidikan Al Quran) untuk anak-anak sekitar rumah kami. Sehingga banyak orang mengira kami adalah santri dari pondok pesantren.

Memang benar saudara sepupu dari Bapak ataupun Mama mendirikan pesantren di desa dimana mereka tinggal. Saya dan saudaraku pernah ditawari untuk mondok dan sekolah di sana. Tetapi kami memilih untuk tetap tinggal di rumah, sekolah di sekolah milik negara (bahasa ngetrennya sekolah negeri), dan mengaji di dekat rumah saja. Bukannya kami tidak ingin mondok, tapi belum siap saja meninggalkan rumah dengan berbagai fasilitas rumah yang serba ada. Eh… tapi jangan salah. Di rumahpun kami ada aturan yang senantiasa diterapkan oleh orang tua kami. Saat waktu sudah menjelang malam (Maghrib) kami tidak boleh keluar rumah kecuali mengaji di majlis ta’lim dekat rumah habis Maghrib sampai ‘Isya. Sehingga teman-teman kami sudah tahu jika mereka mau mengajak kami mengerjakan tugas sekolah ataupun sekedar hangout, pasti sebelum maghrib sudah harus sampai rumah. Pernah suatu ketika aku dan saudara kembarku kebetulan kami sekolah di SMA yang sama dengan tugas sekolah yang sama yaitu membuat film dokumenter. Waktu pengerjaan tugas tersebut membutuhkan waktu yang lama. Sehingga kami pulang sekolah jam dua siang, dilanjutkan les di sekolah sampai jam empat sore. Kami mengerjakan tugas bersama di kos teman, letaknya tidak jauh dari sekolah. Itu kos putri loch… kami mengerjakan tanpa mengenal waktu, tiba-tiba sudah Maghrib. Kebetulan saat itu kami tidak membawa hp. Akhirnya teman memakluminya, kamipun langsung pulang dengan wajah ketakutan, takut dimarahin ortu.Tapi, apa yang terjadi sampai rumah.

“Tugasmu uwis rampung nduk?”  

“Dereng pak.”

“Ya wis mengko enyong bar maghrib njujugna kowe meng kosane kancamu maning”.

“Pareng mboten teng Mama medhal ndalu-ndalu pak?”  

“Ya ulih, asal kanggo kebecikan. Sante bae lah ben enyonge bae sing ngomong karo Mamake. Rampungna tugasmu, mengko tak jemput nek kira-kira tugasmu uwis rampung.”

(Bahasa Jawa logat ngapak & bahasa jawa krama alus)  

Ternyata Bapak Mama memiliki cara tersendiri mendidik anak-anaknya. Kamipun selalu takjub dengan cara mendidik mereka kepada kami. Selalu ada pesona wow saat mereka memberi nasehat.

Setelah dua tahun kemudian, aku mencari perguruan tinggi. Dan terimalah aku di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sebenarnya berat memutuskan untuk berpisah sama mereka dan saudaraku. Karena aku satu-satunya anak Bapak Mama yang akan merantau di kota orang. Secara sejak kecil kami empat bersaudara selalu bersama-sama. Kakak pertamaku sudah berkeluarga  dan membangun rumah di dekat rumah orang tuaku, kakak kedua saat itu sudah bekerja di perpustakaan SMA yang dulu aku pernah sekolah di sana. Sedangkan saudara kembarku diterima sama-sama di Universitas Sebelas Maret tapi yang cabang Kebumen. Jadilah aku anak ragil yang paling jauh dari orang tua.

Tiga hari, dua hari, hingga satu hari sebelum registrasi ulang akhirnya diputuskan aku memilih untuk sinau di Solo. Setelah itu orang tuaku mencari link teman-teman yang sekiranya bisa memberi pendapat dimana anak ragilnya ini bisa hidup selama masa kuliah  dengan lingkungan yang kondusif dan yang terpenting bagi Bapak harus tetap menjaga sholat dan ngaji.

“Nduk….arepo kowe lunga adoh nang ngendi bae. Ajah kelalen karo sembayang lan ngajimu. Ngibadahmu marang Gusti Alloh kudu ditrepke.”

Itulah pesan Bapak sebelum aku berangkat ke Solo. Sebelum kami meluncur ke Solo kami memang sudah komunikasi dengan temanku yang di Solo. Namanya Mbak Rumay yang kebetulan dia kuliah di UNS juga. Keberangkatanku ke Solo yang pertama kalinya diantar kedua orang tuaku sampai tempat dimana aku ngekos. Kami menaiki bus dari Kebumen ke Stasiun Kutoarjo dan dilanjut dengan naik kereta pramek dari Kutoarjo sampai Solo.

Sesampai di Solo kami disambut dengan hangat oleh Mbak Rumay dan teman-temannya. Beliau mengantarkan kami mencarikan kos-kosan dekat dengan pesantren Ar Royan daerah belakang kampus. Lagi-lagi saya tidak menginginkan untuk mondok. Dan ketemulah saya dengan kos-kosan Muslimah dan disambut hangat oleh penghuni kos di sana. Selagi orang tuaku ngobrol dengan ketua kost aku jalan-jalan melihat kamar-kamar yang ada di kos tersebut. Terlihat sederhana dan adem. Rasanya aku langsung jatuh cinta pada tempatnya. Tidak ada niat untuk menginap saat itu, akhirnya setelah masalah administrasi selesai kamipun berpamitan. Sambil menunggu jadwal kereta pramek selanjutnya kami makan siang di daerah dekat kampus. Tidak sempat main kemana-mana, tidak lama waktu sudah siang dan kami siap-siap menuju ke stasiun Balapan untuk pulang ke Kebumen. Sepanjang perjalanan Bapak banyak menasehati tentang ilmu kehidupan.

“Nduk…mulai saiki kowe wis kudu sinau dadi santri, dadi wong sing urip priatin, dadi wong sing isa ngragadi awak dhewek, kudu sinau sekabehing ilmu urip kanggo sangu akhiratmu ”.

Ternyata kata-kata itu yang selalu aku ingat dari Bapak. SINAU DADI SANTRI. Menjadi orang yang hidup sederhana. Jadi orang yang bisa mandiri dan harus belajar ilmu kehidupan untuk bekal akhirat nanti. Tiga setengah tahun menjalani masa kuliah yang begitu padat dengan rutinitas kampus, organisasi kampus, dan organisasi luar kampus yang kujalani saat itu. Tetapi saat aku mendengar suara Mama atau Bapak dari gawai jadul milikku rasanya plong dan teduh sekali. Seperti saat cuaca panas kita mencoba untuk membasuh muka dengan air wudhu. Yaa begitulah rasanya. Saat kau jauh dari orang tua atau orang yang kau sayangi, tetapi kamu merasa mereka dekat dengan kita. Itulah kekuatan doa-doa mereka untuk kita yang senantiasa mendekatkan diri kita.

Dari situlah aku belajar banyak hal, tidak semua keinginan kita bisa terpenuhi dengan mudah. Jika kita menginginkan sesuatu maka bergeraklah untuk mendapatkannya. Atau mungkin keinginan kita akan diganti dengan sesuatu yang tidak terduga. Maka tetaplah berKHUSNUDZON kepada Alloh.

“Ojo lali sinau”.  

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri.” (QS. Ar- Ra’du : 11)


Siti Zulaekhah

Omah Sinau Ar Rachma

6 November 2017 , 11:18

Tulisan terkait