Menu Close

Tiga Jam di Kadipiro

0Shares

Adalah hal yang cukup membingungkan. Apalagi kalau urusannya dengan skala prioritas. Menentukan mana yang ‘wajib’ mana yang ‘sunnah’. Mana yang penting, mana yang lebih genting. Mana yang harus dikunyah dulu, mana yang harus langsung ditelan. Seperti Sabtu (23/9/2017) kemarin. Saya dihadapkan dengan dua pilihan. Mengikuti rapat kepegawaian di kantor, atau bertamu ke Kadipiro, Jogjakarta. Jadwal rapat kepegawaian di kantor datang belakangan dan bersifat ‘mak bedunduk’. Sedangkan bertamu ke Kadipiro sudah tertera di otak saya beberapa hari sebelumnya. Kalau dilihat soal loyalitas, saya akan memilih nomor satu. Karena konon, saya sudah didapuk menjadi bagian personalia di kantor itu. Tapi ke Kadipiro Jogja, urusannya,

Mesti,

Soal,

Cinta,

Ah…

Aktivitas saya di grup whassap mana pun yang saya ikuti sama. Yaitu membaca kalau sempat, merespon kalau perlu, dan membersihkan jejak chating. Karena kalau tidak begitu android purba saya akan semakin lemot tralala. Tidak banyak yang bisa saya lakukan dengan android purba semacam itu. Beli, kok nggak ada yang buat beli. Bikin sendiri, wong android itu bahan bakunya bukan tempe. Jadinya, pasrah dan tawakkal adalah kunci yang utama. Ben sak remuke. Bukan perkara saya ingin menjadi sesuatu yang anti mainstream atau misterius. Seperti yang sudah sering saya kemukakan, urusan teknologi jaman sekarang, saya mengalami ketertinggalan yang cukup jauh. Kalau dirata-rata mungkin tertinggal sekitar 100.000 tahun cahaya. Pokoknya nggak up date banget.

Ada satu lagi, yaitu membagikan link tulisan teman-teman yang ada di website suluksurakartan.com. Paling tidak saya forward ke satu kontak yang tertera di gawai saya. ‘Helmi Proggres’. Beliau selaku redaktur di website caknun.com. Begitu juga proses terjadinya ‘undangan’ ke Kadipiro yang berawal dari obrolan singkat di whassap dengan beliau.

“Mas ini, teman-teman Solo sudah mulai bergerak.” Saya memulai percakapan.

“Loh, lama nggak keliatan mas? Sibuk nggarap apa?” respon beliau.

Dan, obrolan itu selanjutnya melahirkan ‘undangan’ ke Kadipiro.

Jumat (22/9) berlangsung maiyah Suluk Surakartan di Tanjung Anom. Sampai jam 23.30, saya belum juga menentukan apakah saya harus ke Jogja atau tidak. Banyak pengetahuan baru yang saya dapat malam itu. Utamanya untuk urusan dunia ‘keris’ dan khasanah Jawa yang lain. Tapi karena otak saya mengalami semacam split alias terbagi terbang melayang kemana-mana, pengetahuan itu seperti blur lama kelamaan menguap bersama udara dingin malam itu. Hampir pukul 01.00 saya pamit ke Pak Munir selaku sesepuh maiyah Solo.

“Pak, saya duluan. Besok, eh nanti mau ke Kadipiro.”

“Ada acara apa ke Kadipiro?”

“Ketemu sama mas Helmi.”

“Oh, salam ya.”

“Njih Pak.”

Saya mengambil motor. Saya nyalakan. Saya tunggangi. Sambil mikir, kok tadi aku bilangnya ke Pak Munir mau ke Kadipiro? Padahal kan belum fix? Mau masuk kerja, atau ke Kadipiro? Ah mungkin ini pertanda. Siapa tahu.

Sampai di rumah, saya ‘ndusel-ndusel’ mengusap-usapkan kepala ke punggung istri saya. Nek kowe nduwe bojo, sirahmu puyeng, mumet, bingung kudu piye, nduselo bojomu. Ngko lak enteng. Anggere bojomu dhewe lho ya. Ojo ndusel-ndusel bojone wong liyo. Begitu petuah bijak yang saya dapat malam itu. Hasilnya adalah….

Saya tertidur pulas dan terbangun tepat adzan Shubuh.

“Ayah jadi ke Jogja kan?” tanya istri saya ketika mendapati saya terbangun.

“Masih belum tahu.”

“Mbok wes ke Jogja aja.”

Ada satu hal lagi yang membuat saya belum mengambil keputusan. Yaitu bahwa Sabtu sore saya harus mengatur jadwal teman-teman grup nasyid yang akan main di pengajian di daerah Bener, Wonosari, Klaten. Saya, manajernya. Kalkulasi fisik, lebih enak kalau saya tidak pergi ke Jogja. Masuk kantor, rapat sebentar, pulangnya bisa saya gunakan untuk tidur. Sore harinya bersiap mengkondisikan teman-teman grup nasyid. Itu kalkulasi yang cukup rasional. Insyaallah bisa mengurangi kelelahan tubuh saya. Tapi….

“Yawes, tak ke Jogja.”

“Yang penting ijin dulu sama kantor.” Istri saya mengingatkan. Baik ya dia?

“Paling tidak bisa di Kadipiro sampai Dhuhur. Nanti langsung balik Solo lagi. Doanya ya ay.”

Saya kirim wasshap ke atasan bahwa saya tidak masuk karena harus ke Jogja sembari sarapan nasi telur dadar buatan istri tercintah.

“Nanti, di jalan hati-hati. Nggak usah ngebut.”

Saya mengangguk pelan. Waktu sudah menunjukkan setengah delapan. Kalau ditanya rasanya seperti apa tubuh saya, akan saya jawab, saya ngantuk pemirsa. Karena baru punya mobil-mobilan belum mobil beneran, kendaraan roda dua adalah pilihan yang tepat.

“Ayah nggak tahu juga, akan seperti apa ke depan. Doanya aja.”

Saya berangkat ke Jogja dengan membawa segala bentuk absurditas di kepala. Sama seperti delapan tahun yang lalu ketika saya sering ‘ndheprok’ di serambi rumah di Kadipiro ini. Tidak akan pernah tahu akan ada apa. Tidak pernah jelas kenapa saya memilih ke Jogja. Jogja – Solo itu dekat. Jogja – Solo itu erat. Jogja – Solo itu saling terikat. Jogja – Solo sama-sama memikat. Itu saya lakukan sambil menghitung dan mengingat titik-titik macet sepanjang perjalanan. Karena seingat saya Jogja di waktu weekend kemungkinan besar akan sangat padat. Banyak yang menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan. Maksimal jam tiga sore nanti saya sudah harus berada di Solo lagi.

Sampai di Jogja, sampai di Malioboro, sampai di kantor pos, sampai melewati Jogja Nasional Museum, sampai di Soto Kadipiro II, sampai di gang Barokah, dan masuklah saya ke area parkir Rumah Maiyah.

“Naik saja ke lantai dua. Nanti belok kiri mas.” Mas Helmi membalas whassap saya.

Tidak banyak yang berubah. Rasa yang sama. Dan cukup waktu untuk aku habiskan di sana. Tiga jam di Kadipiro lalu mendapatkan ‘sesuatu’ yang belum tentu aku sanggup melakoninya.

Hanya saja ya Tuhan, jika ini amanah, ijinkan aku menuntaskan dengan kesungguhan. Jika ini ujian, ijinkan aku kuat menghadapinya. Jika ini nikmat, ijinkan aku mensyukurinya. Dan jika ini adzab, mosok ini adzab? Dan kalaupun ini masih adzab yang membuat aku semakin kelimpungan dan kebingungan mumet menjalani hidup dengan segala absurditasnya, berarti Engkau menghendaki dan memberi kesempatan kepadaku, untuk lebih giat ‘ndusel-ndusel’ istriku..

Nuwun Ya Alloh…

Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait