Menu Close

Bersua Adik Kesayangan (Bag. 3)

0Shares

Saya sendiri tidak yakin dan menyangka bisa menuliskan pengalaman saya bersua dengan Ibu Nadlrotus Sariroh sampai jadi tiga bagian tulisan. Ini tidak lepas berkat kemurahan dan kebaikan hati beliau yang bersedia bertutur cerita kepada saya. Cerita yang begitu ‘mahal’ dan langka. Kisah yang diungkapkan bu Roh kala itu semakin menambah hormat dan ketakdziman saya kepada keluarga besar Ibunda Chalimah. Kalau sebelum-sebelumnya saya dan JM banyak belajar (ngangsu kawruh) kepada sesepuh Marja’ Maiyah yaitu Cak Fuad dan Cak Nun, maka beruntungnya saya ketika diberi kesempatan untuk bertemu dan sinau kepada putra lain-nya dari rahim Ibunda Chalimah.

Kepada Cak Fuad kita semua dapat belajar tentang arti kepemimpinan, kearifan dan keistiqomahan. Cak Fuad sebagai anak sulung dari 15 bersaudara tentu memiliki jiwa dan sikap ngemong kepada ke-14 adik-adiknya. Menjadi anak pertama jelas menpunyai tugas yang berat. Apalagi ketika sang Ayahanda (Cak Mat) wafat, maka secara otomatis peran dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga jatuh ke pundak Cak Fuad. Dan Cak Fuad dengan segala daya asuhnya mampu mengasah-mengasih seluruh adik-adiknya dengan bijaksana.

Tak lupa pula, kita bisa belajar kepada Cak Fuad tentang semangat untuk terus menuntut ilmu. Seperti kita tahu bahwa beliau dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdulaziz International Center of Arabic Language. Beliau merupakan satu-satunya orang Indonesia yang dipercaya menjadi anggota lembaga tersebut selama 2 periode. Sungguh membanggakan. Di usia beliau yang kini genap 70 tahun nyatanya masih sangat setia untuk menekuni ilmu bahasa arab dan tak lelah menemani kita untuk memperdalam pengetahuan tentang khasanah berbahasa arab berikut penjelasan tafsir-tafsirnya. Terimakasih Cak Fuad.

Kalau kita sudah berhasil menimba butiran-butiran ilmu dari sumur ilmu yang bernama Ahmad Fuad Effendy, maka selanjutnya kita berusaha untuk menjaring atau setidaknya mengail mutiara-mutiara hikmah dari samudera pengetahuan yang bernama Muhammad Ainun Nadjib. ┬áCak Nun, simbah guru kita semua adalah putra ketiga dari Ibunda Chalimah. Kepada beliau kita bisa belajar babakan apa saja. Beliau bukan ulama, tapi kita bisa belajar tentang agama kepadanya. Beliau bukan dosen, tapi kita bisa konsultasi bagaimana menyusun cara yang jitu menyusun skripsi. Beliau bukan dokter, bukan pakar kesehatan tapi kita bisa memperoleh tips kesehatan yang manjur dan mujarab darinya. Beliau bukan menteri, bukan aparatur negara, bukan anggota DPR, bukan ketua KPK atau MUI, bukan pula ketua partai. Tetapi beliau sangat mafhum mengenai pola, struktur, birokrasi dan ‘cara main’ yang berlaku didalam pemerintahan/ negara. Hal tersebut tak bisa disangkal. Sebab sejak zaman orde lama, orde baru hingga masa reformasi, Cak Nun selalu berada digarda depan. Emha dan kolega vokal, turun ke jalan, berteriak lantang menyuarakan rasa keadilan. Emha Ainun Nadjib telah menjadi satu dari sekian tokoh penting yang berdedikasi tinggi dalam perjalanan sejarah negeri ini.

Dari perjalanan hidup seorang Emha (Cak Nun) sejak dulu hingga sekarang, kita dapat belajar banyak tentang arti keberanian, arti kemanusiaan, arti pengabdian dan pengorbanan. Membela yang benar, mengangkat yang lemah, memaafkan yang salah. Memberi yang kurang, mengayomi yang terzholimi dan menyayangi yang membenci. Demi menyongsong harmoni.

Untuk yang terakhir, kepada putri perempuan Ibunda Chalimah, sang adik kesayangan Simbah (bu Roh), saya dan kita semua cukup belajar satu saja kepadanya. Satu saja tetapi sungguh berat mengaplikasikan-nya. Dari perbincangan panjang bersama beliau beberapa waktu lalu, satu pelajaran berharga yang bisa kita teladani bersama. Belajar berendah hati kawan. Itu saja.

Aura kerendah-hatian nampak jelas dalam diri Ibu Sariroh. Rendah hati tatapannya, rendah hati tutur katanya, rendah hati bahasa tubuhnya juga rendah hati pembawaan-nya. Saking rendah hatinya terkadang beliau tidak mengaku kalau dirinya adiknya Cak Nun. Parahnya lagi kalau ada orang yang tak kenal bertanya :

“Maaf, ibu ini siapa ya?”
“Saya pembantu disini mas.”

“Ohh…”

Dan orang-orang pun percaya. (Haha)

Bu Roh lucu juga…

Sragen, 25 September 2017

Oleh: Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait