Menu Close

Istiqomah = Cinta dan Kesetiaan

0Shares

Masih membekas dalam ingatan, ketika saya dulu sempat bertanya satu hal kepada mas Helmi Musthofa :

“Apa tips agar kita dapat menulis dengan baik mas?”

“Menulis, menulis dan menulis.”

Jawaban yang singkat namun sangat menyengat. Meski terdengar ringan, namun jika digali lebih jauh ternyata tips dari mas Helmi tersebut menyiratkan pesan yang mendalam. Yaitu tentang makna ke-istiqomah-an. Bahwa dalam melakukan pekerjaan apapun, spirit dan sikap istiqomah menjadi faktor yang utama. Memulai suatu pekerjaan itu mudah, namun keistiqomahan untuk menjalankan pekerjaan tersebut yang susah. Menyelenggarakan acara/ kegiatan itu juga gampang. Tapi yang sukar adalah memelihara, merawat, nguri-uri, menjaga dan mempertahankannya. Ketika diawal biasanya semangat berapi-api. Namun sesampainya ditengah, tiba-tiba macet. Semangat melemah. Ujung-ujungnya terbengkalai, ndak keurus, masa bodoh, gulung tikar dan bubar jalan.

Ada beberapa hal yang harus kita ketahui. Bahwa setiap kegiatan, proses kreatif maupun pekerjaan apa saja, pasti selalu muncul kendala, masalah, benturan, selisih, perdebatan dan tantangan-tantangan lainnya. Disitulah sekali lagi dibutuhkan sikap istiqomah. Tidak mudah loyo, ora gampang nglokro. Niat mesti dikukuhkan. Semangat mesti diteguhkan dan setia untuk terus menerus menjalani setiap proses dan progres-nya.

(Sambil nyanyi lagu Letto – Sampai Nanti, Sampai Mati)

Tetap semangat

Dan teguhkan hati, di setiap hari

Sampai nanti, sampai mati

Terus melangkah

Dan keraskan hati, di setiap hari

Sampai nanti, sampai mati…

Sama halnya dengan menulis. Menulis adalah pekerjaan akal dan hati. Untuk bisa menulis tulisan yang baik, runut, hidup, menarik, bermuatan positif, bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan kekayaan ide, perbendaharaan kata-kata, observasi, bahan referensi yang luas, sense humor yang cerdas dan juga kepekaan untuk menempatkan diri sebagai seorang pembaca ketika sedang menulis.

Ada pepatah bijak mengatakan : membaca dan menulis itu satu paket. Engkau tidak dapat membaca tanpa menulis. Pun sebaliknya. Ibarat kata, membaca itu membawamu tersesat didalam hutan rimba. Dan satu-satunya jalan untuk keluar ialah menulis. Sedikit-banyak saya pun meng-iyakan-nya.  Ada baiknya sebelum menulis, kita perlu banyak membaca terlebih dahulu. Tentu bacaan kita bukan hanya yang berupa tekstual (buku-koran-selebaran-artikel-kitab dll). Ada “buku besar” yang di ciptakan Tuhan yang harus selalu kita baca, kita amati, resapi dan titeni yang bernama alam semesta.

Perlu dipahami, dulu ketika Allah menyuruh Iqro’ (bacalah) kepada Kanjeng Nabi, tentu tidak sebatas disuruh membaca kitab-kitab. Namun Rasulullah diperintahkan Allah untuk melihat, mengamati serta mempelajari segala rupa yang terhampar di jagad raya. Tentang galaksi, langit dan bumi. Tentang sapuan angin dan udara. Tentang terbit-terbenamnya matahari. Tentang kilatan cahaya. Tentang terjadinya peristiwa siang-malam. Tentang turun-nya hujan. Tentang hukum alam mengalirnya air dari hulu ke hilir. Tentang binatang dan tetumbuhan. Dan tentang seluruh penciptaan Dzat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah “membaca”, mulai menulislah. Menulis jujur dengan hati. Sebab tulisan yang ditulis dengan hati, InsyaAllah akan sampai ke hati pembacanya.

Tak ayal, kalau saya atau anda hendak belajar menulis. Maka salah seorang yang dapat kita jadikan teladan juga rujukan adalah simbah guru Emha Ainun Nadjib. Mbah Nun sudah sangat aktif menulis sejak usia belasan. Beliau mengasah ilmu kepenulisan dibawah asuhan guru Umbu Landu Paranggi. Belajar bersama dengan para seniman dan sastrawan Yogya yang tergabung dalam wadah PSK (Persada Studi Klub). Mbah Nun rutin menulis puisi, cerpen, prosa, esai, yang dimuat berbagai surat kabar harian. Lokal maupun nasional. Puluhan tahun sudah Mbah Nun menulis. Dan entah berapa banyak judul tulisan yang lahir dan buku-buku CN yang diterbitkan sampai sekarang. Akal-pikiran, hati dan jari-jari beliau tidak pernah letih untuk menuliskan buah pemikiran dan cinta, yang setiap hari dapat terus kita cecap dan nikmati bersama.

Apa namanya itu kalau bukan ke-istiqomah-an. Tanpa spirit dan sikap istiqomah-nya Simbah, rasanya mustahil tulisan-tulisan itu akan lahir. Mbah Nun dengan sangat setia meluangkan waktunya, menahan kantuknya, mengusir lelah-letihnya juga mengesampingkan kepentingan pribadinya demi untuk nyangoni anak-cucu dan Jamaah Maiyah dengan tulisan-tulisan mutiara.

Saya takjub dan nggumun luar biasa. Bagaimana mungkin setiap hari Simbah dapat menulis tulisan yang baik, kompatibel, santun namun tetap kritis mendalam. Tidak mungkin itu terjadi kalau sebelum-sebelumnya tidak melatih diri untuk rajin dan rutin menulis. Atau bahkan bila perlu ‘bersemedi’ dulu, agar setiap menulis senantiasa dituntun dan dibimbing oleh-Nya. Jelas saya tak sanggup menjangkaunya. Level kami sangat jauh berbeda. Mungkin saya termasuk kategori penulis kelas teri atawa ecek-ecek. Berat buat saya untuk bisa menulis setiap hari. Seminggu bisa nulis satu-dua tulisan saja sudah lumayan. Daripada maksa, malah pecah ini kepala.

Keistiqomahan Mbah Nun tidak hanya terdapat dalam kegiatan tulis-menulis. Lebih dari itu. Majelis Maiyah yang kita jumpai dan kita lingkari selama ini pun merupakan buah ke-istiqomah-an Simbah. Semenjak orde baru tanggal, simbah memilih minggir dari hiruk-pikuk media nasional. Beliau ‘berpuasa’, menjauh dari sorotan kamera. Mbah Nun kembali ke desa, kembali ke huma. Ngancani masyarakat dan terus menerus nggedheké atine rakyat.

Simbah bersama keluarga besar Ibunda Chalimah menghimpun tenaga, pikiran, harta-benda untuk merangkul hati masyarakat. Padhangmbulan di hidupkan diatas langit Menturo tahun 1993 silam. Tidak tega rasanya kalau melihat tetangga tidak bisa makan. Prihatin kalau ada anak yang tidak sekolah. Dan tersayat hatinya apabila ada kemiskinan, kebodohan, ketidak-adilan dan kesengsaraan nampak jelas didepan mata. Alasan itulah yang membuat hati simbah tergerak untuk mengajak mereka (masyarakat) berkumpul, duduk bersama, dalam rangka ngudo roso, rembugan bareng, bermusyawarah, bersama-sama mencari solusi, serta jawaban atas segala permasalahan hidup sehari-hari. Dengan sangat setia, Padhangmbulan terus berkembang dan semakin memancarkan sinarnya. Terangnya menerangi sekeliling dan sekitar. Padhangmbulan bukan hanya menjadi tempat berkumpul keluarga, tetangga maupun warga desa. Namun kian meluas, dan menjadi majelis ilmu bagi siapa saja. Tanpa spirit dan sikap istiqomah Simbah dan saudara-saudaranya, Padhangmbulan mungkin tidak ada. Dan kita tidak akan mengenal apa itu maiyahan.

Tak terasa Padhangmbulan kini telah memasuki usia ke-24. Nyaris seperempat abad. Hari berganti. Waktu bergulir. PB yang thukul di tanah Jombang kemudian winihnya terbawa angin dan tumbuh di bumi Ngayogyokarto menjadi Mocopat Syafaat (18th). Lalu bergeser ke utara, lahirlah Majelis Gambang Syafaat (18th) yang setia melingkar setiap tanggal 25 di Aula Masjid Baiturrahman Semarang. Kemudian terbang ke barat, menuju belantara Ibukota. Lahir dengan nama Kenduri Cinta (17th). Dari kota metropolitan, kemudian virus maiyah berbalik arah ke ujung timur pulau Jawa. Bangbang Wetan (11th), semburat merah yang memancar ditengah kota pahlawan Surabaya.

Atas cinta-Nya Allah, kasihnya Rasulullah, di padu dengan ke-istiqomah-an Simbah bersama anak-cucu Jamaah Maiyah, kini simpul maiyah telah banyak lahir, tumbuh subur dan tersebar dimana-mana. Sitik-sitik, mereka akan terus berupaya sodaqoh kebaikan untuk Indonesia. Tak terkecuali Majelis Suluk Surakartan. Simpul baru yang telah memasuki edisi-21. Mugi tansah wilujeng rahayu.

Terakhir, satu hal yang mesti kita camkan bersama. Bahwa ke-istiqomah-an Simbah dalam menulis dan mengasuh maiyah selama ini, tidak lain adalah bukti CINTA dan KESETIAAN beliau menyayangi bangsa ini.

Lalu, apa ada yang lebih indah dari itu…

Gemolong, 06 November 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait