Menu Close

Musik dan Lirik, Dulu dan Kini (Masihkah Berarti?)

0Shares

Musik merupakan salah satu sarana untuk mengekspresikan sesuatu dengan sentuhan seni di dalamnya. Lewat musik, sesuatu menjadi lebih bermakna. Entah itu perwujudan sebuah kisah, perasaan, harapan, atau bahkan kritikan. Pada hakikatnya, musik itu sendiri adalah ekspresi. Ekspresi yang mewakili banyak hal emosional bagi manusia. Tanpa kita sadari, seringkali di saat kita merasa bahagia, kita akan lebih sering mendengarkan musik dengan nada-nada ceria dan tempo yang cepat. Namun, jika perasaan sedih yang sedang kita rasakan, maka kita akan cenderung memilih musik dengan nada-nada melankolis dan bertempo lambat.

Saya bukanlah seorang yang ahli dalam seni musik. Bukan pula pengamat atau pelaku seni musik. Bahkan membedakan nada dasar A, B, B mayor atau minor pun saya tidak bisa. Di sini saya bukan bermaksud untuk menggurui ataupun mengkritisi, tetapi saya memposisikan diri sebagai seorang penikmat musik awam seperti kebanyakan masyarakat lainnya. Sebagai orang awam, saya merasa selalu ada pesan yang saya terima setiap kali mendengarkan dan menikmati musik, entah itu musik yang energik maupun yang melankolis. Dan menurut saya, hal yang sangat berperan dalam penyampaian pesan tersebut adalah lirik dan nada.

Dalam sebuah lagu, nada (musik) dan lirik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bukan berarti nada memiliki tempat lebih penting daripada lirik ataupun sebaliknya. Seperti ulasan alm. Prof Damardjati Supadjar dalam bukunya Sastra Gendhing yang membedah makna Serat Sastra Gendhing dari kacamata filsafat sosial. Semua mempunyai porsi masing-masing dan semua menempati perannya tersendiri. Lirik menjadi lebih bermakna dalam sebuah lagu apabila susunan nadanya sesuai dan tepat. Dan sebaliknya, nada menjadi semakin indah didengar apabila lirik yang dipilih juga sesuai.

Lirik dan nada dalam sebuah lagu dapat mengindikasikan cerminan dari penikmatnya. Kita kurang lebih dapat menilai sifat dan kepribadian seseorang dari lagu yang disukai atau genre musik favoritnya. Menilik dalam lingkup yang lebih besar lagi, kita dapat mengetahui kepribadian atau karakter masyarakat penikmatnya. Lalu apakah karakter atau kepribadian masyarakat penikmat dapat dibentuk lewat musik dan lagu? Saya sendiri kurang begitu paham. Namun, menurut pendapat saya sebagai orang awam, saya pikir “iya”.

Menurut pendapat saya, karakter atau kepribadian masyarakat penikmat itu dapat dibentuk lewat suatu musik/lagu yang dinikmati/disukai. Pada era perjuangan bangsa ini, tentu musik dan lagu yang disajikan lewat radio-radio pada saat itu ialah lagu-lagu yang bertema perjuangan dan musik yang membakar semangat pemuda untuk berjuang. Mana mungkin pada saat itu pejuang disuguhkan musik musik yang bernada melankolis.

Pada era tahun 60-an, kita mengenal salah satu grup musik Koes bersaudara yang berganti nama Koes Plus lewat lagu ‘nusantara’-nya yang menjadi berjilid-jilid. Kemudian pada tahun 60 sampai 70-an kita mengenal Trio ambisi, Titik Sandora, Iis Sugianto, Chrisye, Christin Pandjaitan, Pance Pondaag, Ebiet GAD, dan lainnya. Kemudian menjelang tahun 90-an sampai tahun 2000-an banyak bermunculan grup band dan pemyanyi solo dengan beragam aliran yang ada. Semua membentuk “masyarakat” penikmatmya sendiri.

Saya tidak mempunyai hak untuk menjelaskan atau mengklasifikasikan ragam jenis genre dan lagu pada setiap periode. Namun saya akan menyoroti keindahan sastra yang membentuk satu kesatuan dari sebuah lagu. Lagu-lagu yang terdapat pada tahun 60-an lirik lagunya cenderung lugu dan masih sopan dalam batas-batasnya. Pada era 70 dan 80-an yang mayoritas bertemakan cinta, tentu lirik-liriknya banyak menggunakan kiasan-kiasan atau bahasa arkhais dalam penulisannya. Pun dengan lagu-lagu yang muncul pada era milenial pertengahan. Sehingga seolah menyiratkan bahwa lagu lagu yang lahir dan berkembang pada masa-masa tersebut menciptakan kesan mendalam, abadi dan indah dengan tingkat sastra khas yang tinggi dan mempunyai nada-nada yang terkesan mahal.

Mas Sabrang ‘Noe Letto’ dalam forum Maiyah pernah membeberkan sebuah rahasia bagaimana ia memunculkan kesan abadi dalam lagu yang ia ciptakan. Sebelum menulis sebuah lagu, ia terlebih dahulu mengadakan sebuah riset/penelitian untuk mencari, mengamati, mengklasifikasi, menganalisis lagu-lagu sepanjang zaman (terkesan abadi) dan mempunyai nada-nada unik nan khas dalam setiap zaman (era).

Baru setelah tahun 2000 pertengahan sampai saat ini, kualitas lagu/music yang kita miliki seolah perlahan mengalami kemunduran, khususnya musik atau lagu pop dan dangdut. Musik-musik yang ada saat ini seolah kehilangan jati diri. Kesusastraan dalam lirik yang ditampilkan pun seolah pudar. Setiap lirik yang digunakan bukan lagi diksi yang arkhais dan bermakna kias, melainkan lebih menekankan kepada diksi yang begitu lugas dan ceplas-ceplos. Pada era itu banyak bermunculan grup-grup musik yang beraliran pop melayu melankolis yang banyak menyuguhkan lirik-lirik yang terkesan dangkal dan menjadi biasa. Kemudian setelah itu muncul lagi grup-grup yang begitu digilai anak-anak muda sekarang karena berkiblat Korean pop atau yang sering dikenal dengan sebutan K-Pop.

Kemunculan grup-grup tersebut memang menambah kekayaan musik kita, akan tetapi juga seolah menimbulkan kemerosotan signifikan dari sisi penulisan sastranya. Apalagi akhir-akhir ini di lingkungan sekitar saya, baik di lingkungan kerja, rumah maupun di manapun saya berada, banyak yang menjadi penikmat musik dangdut koplo. Tak terkecuali kalangan anak-anak yang selazimnya masih menyanyikan lagu Bintang Kecil atau Balonku Ada Lima. Anak-anak yang mungkin sedang lucu-lucunya malah fasih menyanyikan lagu ‘Konco Mesra, Bojo Galak’ yang saya rasa sangat tidak pantas dinyanyikan oleh anak seusianya. Secara psikologis, kejadian tersebut secara tidak langsung sudah menanamkan kepada pikiran mereka (anak-anak) tentang apa yang dialami orang dewasa, entah konflik, atau permasalahan-permasalahan yang ada lewat lagu tersebut. Lebih parahnya lagi dalam acara tirakatan kemerdekaan RI kemarin, banyak yang mendesain acara tersebut menjadi sebuah panggung ‘dangdut koplo’ yang berisi jogetan dan melupakan esensi dari tirakatan itu sendiri. Ibarat sebuah batu yang ditumbuhi oleh lumut, lama kelamaan akan ‘koplo’ juga.

Kurangnya literasi, pemahaman, pendidikan, dan kepedulian dalam masyarakat kita, termasuk influence dari ranah hiburan sendiri, khususnya pertelevisian Indonesia sekarang, semakin menambah catatan kelam masyarakat kita tentang kepekaan sosial, kepekaan terhadap suatu fenomena yang dianggap remeh temeh namun berdampak besar bagi generasi penerus bangsa. Semoga lewat tulisan sederhana ini, dapat menjadi bahan renungan bagi kita untuk menyikapi suatu fenomena dengan lebih bijak dan dewasa.

Semoga semua makhluk berbahagia! Rahayu rahayu rahayu!

Surakarta, 17 September 2017

Wyasmoro

Tulisan terkait