Menu Close

Dompet, Mimpi, dan Tulisan Kang Wahyudi

0Shares

Bagi lelaki ada dua hal yang cukup penting. Pertama dompet. Yang kedua, isinya. Isi dompet lelaki memberikan gambaran kasar seperti apa dirinya. Dompet menjadi ruang rahasia yang tidak sembarang orang boleh melihatnya. Semakin kecil suatu wadah, semakin sulit isinya ditelaah. Apalagi sampai berani menggeledah. Bisa darah tertumpah. Karena selain rahasia, benda-benda penting seperti ‘penanda’ siapa dirinya dan darimana asalnya, bersemayam di sana. Apa saja?

Kartu identitas. Kartu Tanda Penduduk. Sebut saja KTP. Ditambah e- atau el- biar terasa kekiniannya. KTP wajib ada. Untuk segala urusan, KTP adalah kunci. Tanpa KTP, anda tidak dianggap warga bumi pertiwi. Bisa jadi anda akan dianggap sebagai penghuni Mars yang tak waras. Tapi, ada tapi di sini. Tidak semua lelaki memiliki rasa percaya diri yang tinggi menunjukkan KTP-nya di depan perempuan pujaan hati.

“Aku Adhit mas. Pakai ‘deha’.”

“Aku Yudhi. Yudhi pakai ‘deha’ juga.”

“Kok bisa sama sih?”

“Nggak percaya? Ini KTP-ku dek.”

“Ih, ini beneran mas Yudhi?”

“Kenapa dek?”

“Kayak….”

“Kayak apa dek?”

“Nggak apa-apa mas. Nggak kok mas.”

Karena kita semua (((TAHU))) betapa tinggi resolusi foto yang digunakan. Saking tingginya kebutuhan cetak ukuran 2×3 tidak mengakomodir. Panggon cilik tur padet. Untel-untelan kizanak. Oke tidak akan saya lanjutkan, karena kita semua sudah tahu bagaimana kisah tentang KTP di Indonesia Rayya ini.

Surat izin mengemudi. Sebut saja SIM. Meski  berbentuk mirip kartu, tapi tetap saja disebut surat. Untuk urusan fisik yang sedemikian amburadul ini saya rasa semua juga sudah bisa menerima dengan qonaah. Bagi saya pribadi, surat ijin mengemudi wajib ada. Apalagi setelah beristri. Sebagai imam, saya harus senantiasa berada di depan. Meski pada kenyataannya, kadang saya di depan, kadang di belakang, kadang di atas, dan tak jarang pula di bawah. Tergantung situasi dan kondisi.

Berikutnya, kartu ATM. Di era kekinian hidup manusia dipermudah. Tidak ada lagi kebingungan bagaimana harus membawa uang tunai berjuta-juta di dalam dompet. Dengan kartu ATM, semua kalangan, dari kelas bawah, kelas menengah, kelas atas, kelas bulu, kelas terbang, kelas samping, kelas tinggi, kelas rendah, bahkan yang tak berkelas karena tak sekolah, bisa dengan mudah memiliki kartu ATM ini. Mesin ATM bertebaran dimana-mana. Butuh uang tunai tinggal masuk bilik ukuran 1×1 m, masukkan kartu anda, tekan angka pin, ketik berapa nominal yang anda butuhkan, lalu keluarlah lembaran-lembaran mata uang pecahan 50.000 atau 100.000. Tapi hati-hati, kalau pas mesin ATM-nya sedang lapar, kartu anda bisa saja tertelan.

Apa lagi ya harus ada di dompet? Uang tunai? Jelas itu. Eh, ini saya sedang menggambarkan suasana isi dompet saya lho. Bukan dompet manusia normal berakhlak mulia calon penghuni surga lho. Dompet saya tipis. Isinya tidak banyak. Cuma ada yang saya sebutkan tadi. KTP, SIM, oh iya, STNK kendaraan yang saya tunggangi. Siapa tahu ada operasi dari kepolisian lalu lintas. Pekewuh kalau surat-suratnya tidak lengkap. Tidak enak hati rasanya jika harus memberikan pekerjaan tambahan pak polisi. Harus mencatat kesalahan dan kekuraangan kita di jalan. Kalau hal catat mencatat sudah ada mailakat Raqib dan Atid. Usahakan pajak tidak mati. Kecuali motor grand saya. Sudah saya cap pajak seumur hidup. Jangan ditiru.

Satu lagi yang paling sakral. Adalah foto istri. Jaman sekarang tidak banyak lelaki yang menyimpan foto istri di dompetnya. Katanya sudah ada di kartu kenangan dalam gawai. Kalau sudah ada foto istri di dalam hape, dan membuatnya sebagai foto profil media sosial, itu sudah cukup sebagai penanda bahwa ia tipikal lelaki setia. Yang tidak akan pernah menyeleweng kepada perempuan lain selain istrinya. Bagi saya, itu masih terasa kurang. Perlu validasi tambahan kalau ingin disebut sebagai lelaki setia. Yaitu dengan cara menyimpan foto istri di dalam dompet. Cara lama memang. Tapi bagi saya sangat efektif. Begitu kita membuka dompet, yang terlihat langsung wajah istri. Tatapan matanya seolah mengingatkan,

“Dompetmu boleh seperti judul lagunya Ari Lasso, Hampa. Tapi hatimu jangan. Ada aku sebagai penghuninya.”

Maka dari itu ketika saya kehilangan dompet hari Senin (30/10/2017) kemarin, saya sertakan bahwa di dalam dompet itu ada foto istri saya. Beberapa teman langsung chat WA ke saya.

“Pak, aku ngakak. Mosok ndadak menyertakan foto istri juga to?”

“Justru itu yang penting. Itu identifikasi bahwa aku lelaki setia. Kartu yang lain bisa diurus.”

“Hahaha.. hahaha…”

Jadi, mereka sama sekali tidak kasihan kepada saya. Mereka malah mendapatkan hiburan gratis. Padahal saya mengalami panik yang luar biasa saat tahu bahwa dompet saya tidak ada di rumah. Saya geledah seisi rumah, tapi tak kunjung ketemu juga. Saya bolak-balik ke sekolah sampai jam sebelas malam membuat repot penjaga sekolah yang ikut mencari dimana dompet saya berada. Istri juga kalang kabut. Meja kantor saya diobrak-abrik sedemikian rupa. Di kolong meja, tidak ada. Di laci-laci tidak ada. Di dalam ruangan kepala sekolah, tidak ada. Di kardus-kardus, tidak ada. Di dalam toilet, tidak ada. Di bawah bayang-bayang mantan, juga tidak ada.

Akhirnya terpaksa saya membuat surat keterangan kehilangan di kantor kepolisian karena pihak bank tidak bisa mengurus pencairan tabungan jika tidak ada surat keterangan kehilangan dengan disertai KTP asli. Cukup naas karena semua berada di dalam dompet yang sama. Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan surat keterangan kehilangan. Cukup dengan password ‘sukarela’ semua teratasi. Lucunya, istri saya tidak paham ketika si bapak mengucapkan password tersebut. Saya tertawa dalam hati. Dia memandang ke arah saya dengan muka ‘tidak tahu’. Lugu kamu sayang. Password ‘sukarela’ dapat dipahami dengan keadaan hati yang bersih. Password ‘sukarela’ adalah simbol bahwa ketika kita meminta bantuan kepada seseorang harus ada timbal balik yang kita berikan. Sebagai tanda syukur mereka sudah melayani kita dengan sangat sangat baik. Welcome to Indonesia kizanak.

Pikiran saya masih kalut. KTP saya bukan atas nama penduduk kota Solo. Saya masih bangga dan belum punya pikiran untuk pindah identitas. Saya masih tercatat sebagai orang Pati. Agak aneh ketika KTP sudah bisa ‘seumur’ hidup tapi mengurusnya tidak bisa dilakukan dalam skala nasional. Harus di daerah Kabupaten masing-masing. Mau tidak mau harus pulang ke Pati. Tapi tak apa. Sekalian mengobati rindu kepada ayah bunda.

Siang harinya saya memilih untuk menenangkan pikiran di rumah sambil bermain gawai. Banyak teman-teman yang empati dengan apa yang saya alami. Baru terasa kalau saya tidak hidup sendiri. Katanya kalau mau siapa sahabatmu, dia adalah orang yang datang ketika kamu sedang tidak enak hati dan pikiran. Kesedihan saya bukan karena dompet dan isinya. Kesedihan saya timbul karena selama ini saya mencoba mengaplikasikan tafsir mantra ‘Innalillahi wa innailahi roji’un’. Aplikasi yang sederhana yaitu, kembalikan lagi barang yang kamu ambil ke tempat semula dimana kamu mengambilnya. Bertahun-tahun saya menjalankan aplikasi tersebut karena saya memang orangnya teledor dan ceroboh. Kesedihan saya memuncak karena aplikasi saya ternyata mengalami crash, error system. Kok bisa sampai hilang? Itu yang membuat saya sedih.

Seingat saya, dompet itu saya simpan di tas. Sudah menjadi kebiasaan ketika azan Dhuhur berkumandang, hape dan dompet saya taruh di dalam tas. Kalau jatuh di jalan tidak mungkin. Karena tas tertutup rapat. Siang itu tiba-tiba saya marah terhadap diri sendiri. Tengkuk kepala saya terasa panas. Wajah menjadi tak enak dilihat.

Kemudian muncul satu pesan di grup wasap. Sebuah link berisi tulisan Kang Wahyudi. Saya buka link tersebut dan mengarahkan saya di website suluksurakartan.com. Saya baca perlahan tulisan berjudul ‘Ruwetnya Proses Kreatifku Sak Urunge Nulis’. Sejak paragraf awal saya sudah dibuat ngakak tiada terkira. Jadi segar pikiran saya. Kesedihan saya sedikit berkurang. Seperti ketemu mata air yang menyejukkan. Karena saya merasakan kejujuran dalam tulisan itu. Kesedihan saya berkurang sedikit demi sedikit. Lumayan kizanak.

Malam harinya saya mendapat wasap juga dari seorang teman. Beliau bercerita, beliau bermimpi menemukan dompet saya. Beliau yakin itu dompet saya karena di dalamnya terdapat foto istri saya. Dalam mimpinya dompet saya dalam keadaan basah. Beliau menyarankan untuk mencari lagi dompet saya. Siapa tahu hanya ketlisut atau tersimpan di saku celana yang lain. Soal beginian saya tidak heran tidak juga menolak. Siapa tahu beliau memang benar. Toh kalau memang dompet saya harus hilang, apa boleh buat.

Keesokan harinya saya ke sekolah. Saya masuk ruangan saya. Kalau dalam mimpi beliau mengatakan dompet saya basah, ada kemungkinan dompet saya tercebur di kolam depan kantor. Saya clingak-clinguk di dekat kolam. Tidak ada tanda-tanda. Berarti belum ketemu. Wajah saya masih belum bisa tersenyum dengan maksimal. Tiba-tiba entah ada angin dari Selatan atau Utara saya menarik kardus di bawah meja kecil tempat biasa saya menaruh tas. Begitu saya tarik kardus, terlihat benda hitam dan cokelat.

“Bajindul opo kuwi?” batin saya. “Kok kayake familiar?”

Saya ambil, “Asuuuu.. dompetkuuuu….” saya misuh dalam hati.

Saya perlihatkan dompet kepada teman-teman lalu saya melakukan selebrasi seperti saat pemain Indonesia mencetak gol ke gawang lawan. Sujud. Kok bisa disitu?

Kemudian spekulasi tafsir bermunculan. Ada yang beranggapan disembunyikan oleh penghuni sekolah yang tak terlihat. Ada yang bilang disembunyikan energi dari mata air di Selatan. Ada juga yang bertafisr sederhana, saya lupa menaruhnya. Kalau dinalar, saya sudah mencarinya sampai malam. Itu satu. Kedua, daerah ditemukannya dompet saya sudah diobrak-abrik oleh istri saya sebelumnya. Dan dia tidak menemukannya.

Karena sangat senang, saya menemui teman saya yang memimpikan dompet saya.

“Pak, dompet saya ketemu.”

“Serius? Dimana?”

“Di belakang kardus. Di bawah mejaku.”

“Wah iya Pak. Soalnya mimpi itu terasa nyata.”

“Dan bener basah. Maksudnya tidak jauh dari air. Belakang tembok kan kolam.”

“Wah iya ya.”

“Pak, kalau musim togel sudah tak mintain nomer buntut kamu.” tutup saya.

DIDIK W. KURNIAWAN

 

Tulisan terkait