Menu Close

Ruwetnya Proses Kreatifku Sak Urunge Nulis

0Shares

Sebelumnya saya mohon maaf kepada sedulur-sedulur yang membaca tulisan ini. Mungkin sedulur-sedulur akan merasa gimana gitu, ketika membaca tulisan ini. Saya sendiri juga binggung ini jenis tulisan apa? Esay jelas bukan atau nek cerpen ya masih ngambang banget. Atau bahkan tidak masuk kategori kedua-duanya. “Yo wis nek ra klebu kategori esay po cerpen, tak gae aliran dewe”.  Harap dimaklumi ya lur… karena sudah lama saya tidak aktif tampil di gelanggang tulis-menulis. Jika menulispun, itu hanya menulis reportase agenda-agenda Suluk Surakartan.

Sebenarnya di lubuk hati yang paling dalam, ada keinginan untuk menulis kembali. Apalagi ketika Pak Asad menyampaikan pengharapan dari Simbah agar para pegiat maupun jama’ah Maiyah menuliskan hasil tadabur daur di caknun.com. Diantara ketiga sesepuh Suluk Surakartan, Pak Asad lah yang paling sregep ngopyak-ngopyak dulur-dulur pegiat, baik itu menulis tadaburan daur ataupun segala hal yang menyangkut Suluk Surakartan. Sangking seringnya beliau ngopyak-ngopyak kita-kita yang agak welu bin ndableg, terkadang membuat kita agak anyel gimana gitu, he he. Tak jarang beliau sering jadi bahan rasan-rasan dibelakang atas kerewelan beliau, terutama saya.

“ha..ha.. sori ya lur nek rahasia kita di belakang layar selama iki tak buka sitik neng tulisan iki”. Tapi nek terkait bahan rasan-rasan rahasia dapur he he. Hayoo pegiat sek ngrumongso pernah melu ngrasani kerewelan beliau, ngacung siji-siji.

Nyuwun pangapunten lhe.. Pak sakderenge lan ampun dilebetke ten manah panjenengan, niki nggeh namung salah sak tunggale kangge mempererat kemesraane dulur-dulur pegiat. Mugi-mugi penjenengan diparingi usus kang dowo kangge ngadephi dulur-dulur pegiat sek welu. Tapi kita sadar kok Pak, nek niku kangge kesaeyan kita bersama lan Suluk Surakartan. Mungkin hasil rapat pembagian tugas sesepuh dulu (Pak Dhe Herman, Pak Asad dan Gus Is), tugase njenengan ngurusi cah-cah sek do welu lan urung iso gerak sat-set. Tapi ijik mendhing ding, daripada di opyak-opyak Dhe Herman nggo botol sprit… iso-iso ngelu sirah inyong he he.

Penyampaian harapan tersebut, tak hanya sekali dua kali. Bahkan berkali-kali beliau menyampaikannya kepada kita-kita. Terutama tim media suluksurakartan.com.

Tapi nek khusus kisanak Didik W.K tidak masuk sketan, sebab dia ditugaskan oleh Gusti Allah dan dari tim Progres (media caknun.com) untuk membimbing kami. Koyoe ngono, nek benere aku ra reti. Cobo takoko Gusti Allah dewe.   

Sangking seringnya Pak Asad mengutarakan hal tersebut, membuat saya sadar.

“Nek Simbah gadah pengarepan, mosok awake dewe ra gelem nuruti dawuhe Simbah. Lha terus rasa syukure awake dewe neng Simbah neng ndi? Padahal jasane Simbah, khususe neng aku lan dulur-dulur akeh banget. Mosok rep dadi kacang lali kulite? Koyone ngono kui sek neng pikiranku. Kurang luwihe ya sepurane lur…”    

Walaupun beliau tidak mengharapkan balas jasa dari kita. Karena beliau senantiasa iklas menjalankan segala tugas yang diberikan Gusti Pengeran kepada Simbah untuk menyalurkan aliran mata air maiyah kepada kita semua. Tapi ya mosok sih, kita tak mengindahkan pengharapan  tersebut?

Jujur ingin segera saya tunaikan pengharapan itu. Namun hingga sampai saat ini belum bisa saya tunaikan. Hal tersebut menjadi beban tersendiri bagi saya. Sempat mencoba untuk menulis, tetapi sampai satu dua paragraf mejen. Akhirnya saya urungkan niat saya untuk menulis. Tidak hanya menulis tadaburan daur saja, untuk menulis yang lainpun juga sama. Berapakali coba saya paksakan, sampai-sampai otak saya panas dan tetap saja juga tak bisa selesai. Hal yang samapun juga saya alamai di saat menyelesaikan tugas reportase agenda-agenda Suluk Surakartan. Bedanya ketika mengerjakan tugas reportase selalu mengumpulkan ke redaksi. Tapi ya itu tadi, hasil dan waktunya jauh dari ekspektasi. Karena penyetoran naskah yang sering telat. Nek gak percaya coba japri komandan tim media, siapa yang sering telat ngumpulkan naskah reportase mesti jawabannya  putune Prabu Brawijaya kaping 5 alias saya he he. Karena kemoloran tersebut, saya beberapa kali mendapat teguran dari komandan tim media suluksurakartan.com

Lek, nek nulis reportase ojo sui-sui, engko beritane ndak basi (beritanya tidak update)”.

Akupun hanya bisa menjawab: siap kang. (kurang luwihe koyo ngono kui)

Dari anggota Grameds (Grombolan anak media suluksurakartan) ku akui saya lah yang paling lelet bin telatan.

“Ya harap dimaklumi lur, saya kan The Hunter of Point (pemburu poin). Terkadang dari subuh atau sebelum subuh sudah mancal “Ngebid” (istilah driver Gojek cari orderan) sampai sak kesele awak, sok-sok iso tekan tengah wengi bahkan nganti ganti dino. Piye pledoiku iso ditompo to lur…? sak jan-jane pas waktu senggang ya isa disambi, soale yo ora terus neng ndalan ngowo penumpang utawa mider golek penumpang. Tapi aku urung iso mikir zig-zag koyo simbah dalam satu tempo. Memang sulit meniru pola hidup yang dilakukan Simbah, terutama dalam hal berfikir zig-zag seperti itu”.     

Menyikapi atas keleletan pengiriman hasil reportase tersebut, maka Grameds mengeluarkan beberapa poin Garis-Garis Besar Haluan Media Suluksurakartan.com  atau di singkat GBHMS. Adapun butir-butir GBHMS rahasia dapur redaksi. “sakjane aku lali. Nek ora takok kisanak Didik W.K opo komandan tim Media ae ya lur…   

“Tim media ncen jos to? Nduwe GBHMS barang”. Ha.. ha…

Tanganku Keri Kudu Nulis

Gairah menulis kembali mengelora di dalam diri saya ketika mendengarkan, menyimak, menyaksikan, meresapi dengan seksama penyampaian proses kreatif dari kisanak Didik W.K dan kisanak Mohammaddona dalam menulis. Mereka berdua merupakan kontributor aktif caknun.com dan suluksurakartan.com. Apalagi kisanak Didik W.K yang telah malang melintang dalam dunia persilatan. Buktinya pendekar yang saat ini berdomisili di gentan itu, telah menulis buku; “Sarjana Masbuk” dan sek siji lali judule he he, pokoke jeneng penerbite Kampret. Nek ora tekok dewe neng sek bersangkutan. Syukur-syukur iso di wei buku ko beliau.

Dari cerita dan tips & trik (bahasa zaman now) mereka berdua. Gejolak untuk menulis semakin mengelora. Apalagi setelah mendapatkan tamparan keras atas penyampaian para narasumber di sesi ke 2, yang mengangkat tema “Ndhedher Kautaman”. Dari penyampaian beliau-beliau,  tamparan yang menohok terhadap saya ialah tentang kegigihan dan ketekunan, itu merupakan salah satu ajaran dari “laku utama” yang dilakukan dan diajarkan oleh Sultan Agung Hayakrakusuma, kemudian di narasikan dalam tembang Sinom oleh KPGA Mangkunegaran kaping 4.

Jika semboyannya Prabu Sambernyawa, tiji tibeh (mati siji mati kabeh), maka selaku putune (angep ae putune, nek ora putune secara langsung ya putune adoh) aku ya bersemboyan, “iso ora iso kudu ndang nulis titik, ora ngo koma”!!!.

Tretet… Tretet… Tretet…. akhirnya sabtu siang menjelang sore tangan saya mulai meliuk-liuk diatas kertas hvs dengan memegang sebuah pena pinjaman. Sebelum menulis, sejak menyimak narasumber sesi ke 1 hingga sabtu siang terus mencoba mengumpulkan inspirasi agar mendapatkan ide untuk dituliskan. Mencari ide dengan berimajinasi merupakan suatu hal sering saya lakukan. Sebab, menulis membutuhkan imajinasi yang liar karena dengan liarnya imajinasi akan menunjang kualitas sebuah tulisan, kayaknya gitu sih.

Satu persatu ide masuk dalam otak saya. Proses memperoleh idepun tak sekedar mak bedunduk datang sendiri. Tentunya, perlu stimulus untuk memancingnya guna menghasilkan tulisan. Setelah nyampai dikontrakan pasca pulang dari acara Suluk Surakartan sekitar jam 3 pagi, inginnya sih segera tidur agar setelah bangun langsung bisa melancarkan rencana tersebut. Ealah, tetep saja tak bisa tidur. Walaupun di slimur dengan main gadget ya tetap saja tak bisa tidur. Mungkin ini efek 2 gelas kopi dari hasil produksi istrinya Cak Fauzi di Magetan (cie.. cie iklan) yang saya minum di majelis Suluk Surakartan kemarin. Akhirnya suara adzan subuh pun berkumandang. Di tengah dinginnya cuaca fajar kala itu, akupun melangkahkan kakiku ke masjid di barat kontrakan untuk menunaikan sholat subuhan.

“Tumben gelem subuhan neng mesjid? Biasane wae nek subuh subuh telat, kui ae nek gelem subuh, sok-sok yo blas ra subuh. Sek.. sek.. mesti cah-cah kontrakan maidone ngono kui. Aku reti dalan pikiranmu kabeh kok lur he he”. “Maklum lur, iki hubungane ro Gusti Panggeran lagi intim-intime, soale lagi ketiban masalah sek rodok antep je”. Nek miturut piwelinge  romoku mbiyen pas aku lagi keno masalah koyo ngeneki, aku kon nyerak meneh ro Gusti sek ngecet lombok”.

Setelah sepulang dari masjid, ku baringkan tubuh ini diatas karpet dan berbantalkan kasur busa.

“Soale kasure wis kebak dituroni sedulur kontrakan, tur kasure gur loro tok. Ya koyo ngeneki uripe cah kontrakan sek serba nganu. Tapi ya ra po-po kui salah sijine tirakate dulur-dulur kontrakan sak urunge dadi wong gedhe. Aamiin. Ayooo melu ngamini.he.. he.. Silahkan bagi yang mau memberikan donasi kasur ke kontrakan dengan senang hati akan kami terima”. “Yakin ngarep buangetzzzzz”.

Singkat cerita, akhirnya jam 5 pagi lebih roh/jiwa/sukma, apapun itu namanya, pergi piknik entah kemana. Alhamdulillah, kurang lebih jam 11 siang roh/jiwa/sukma ini kembali lagi ke raga saya. Baru sekitar jam 12an saya baru pindah dari tempat tidur tadi untuk buang air kecil, cuci muka dan wudlu. Setelah dzuhuran saya pergi ke warung yang berada di timur kontrakan untuk ngisi perut dengan teh anget dan dua batang rokok sambil speak-speak dengan pemilik warung. Niat saya pergi ke warung selain ngisi perut tapi juga melengkapi ide-ide sebelum menulis.

Kaki ini melangkah mendekati ibu yang punya warung untuk totalan.

Rokok nganu (sori nek tak sebutke merk rokoke, engko ndak di arani iklan) loro, teh anget karo kurangane wingi mangatus rupiah mbok..”.

“Nem ewu, jawabnya. Sembari menerima uangku, ibu tadi tanya, cah-cah do balik to? Tanyanya kepadaku”.

Sambil melangkah ke kontrakan yang saya jawab, “iya mbok, do balik ro  do metu”. Begitulah percakapan singkat saya dengan ibu Harni yang punya warung.

Sek… sek.. sek.. perasaan ku kok ra penak ya? Mesti kie do mikir, uripe bocah iki kok penak men. Cah nom kok pola uripe kok koyo ngono, mumpung ijik enom lha mbok yo sek sregep nyambut gawe. Hayoo… ngono kui to sek terlintas neng pikirane pembaca yang budiman. Aku kie mbuh kok.., “winarah sakurunge winaruh”.    

“Jane yo lagi akhir-akhir iki ae aku klumbrak-klumbruk koyo gombal reget. Soale lagi bar ketiban masalah sek rodok antep neng ati ro pikiran lur. Jane nek ora enek masalah sek antep koyo ngeneki, jane ya sregep memburu poin. Opo meneh nek lagi on fire, sok-sok ngebid bar subuh leren balik kontrakan iso tekan jam 12 wengi. Malah kadang kala isa metu isuk balik esuk  meneh. Nek ora balik leren neng kontrakan nek wis kesel po mutung goro-goro ra oleh orderan. Piye? Pledoiku masuuuuk to lur?”.

Akhirnya, tinta-tinta di dalam pena keluar menghiasi lembaran kertas hvs. Kata demi kata pun tersusun menjadi  paragraf. Mula-mulanya sih sampai memasuki awal paragraf kedua masih lancar. Tapi  ditengah paragraf kedua kecepatannya mengalami penurunan. Klimaksnya saat transisi dari paragraf kedua ke paragraf ketiga, tiba-tiba tangan saya yang berada diatas kertas hvs mejen bin macet. Proses mejennya berjalan begitu lama. Beberapa kali ganti posisi, dari duduk, mlumah neng kasur utawa neng karpet, tetap saja masih stagnan. Akhirnya saya tinggal nyuci pakaian dan mandi. Rencananya setelah sholat ashar saya lanjutkan nulis. Sedikit menyitir sebagian pernyataannya kisanak Mohammaddona di sesi 1 kemarin, “salah satu masalah disaat menulis itu ketika mengalami kebuntuan ide”, kurang lebih begitu ungkapannya.

Sori kisanak, nek ngonokui wis dudu maqomku. Nek maqomku, ide mlebu bledang-bledeng neng my brain tapi binggung sek nyusun kalimat utowo sek rep ditulis ko ide kui mau opo. Dadine my brain dadi panas lan my bathuk ku rasae kandhel koyo ditempleki opo ngono. Mergo idene numpuk ra iso metu. Ngono kui maqomku kisanak Mohammaddona. Sak jane sih ijik sak ordo tapi wis bedo spesies. Ha.. ha   

Setelah sholat ashar saya lanjutkan dan sampai maghrib masih tetap tak mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Akhirnya saya mbuka gadget searching jadwal siaran pertandingan sepak bola antara MU dan Totenham. Ealah... ternyata jadwal mainnya jam 18.30 wib dan itu berbarengan dengan pertandingan antara Persija dan Barito Putra. Ya sudah setelah selesai searching jadwal pertandingan sepakbola, segera saya megambil wudlu dan sembahyang maghrib. Setelah itu gasss poll ke salah satu toko modern didepan kampus 2 untuk menyaksikan tim kesayangan main. Mari kita nyanyikan glory… glory… glory Man United.

Selama menyaksikan sepakbola lama-kelamaan kepala saya kok ngerasa senut-senut, seharusnya ketika nonton sepakbola malah pikirannya fres. Apakah ini efek dari ide-ide yang tertumpuk dalam memori otak saya yang tak bisa keluar. Seharusnya, ketika tim kesayangannya menang pasti tidak seperti ini. Apa mungkin lapar ya? Ketika pertandingan usai dan dimenangkan Manchaster United melalui golnya sang supersub Antony Martial, saya menyempatkan ke warug beli mie goreng dan satu roti pia.

Setibanya dikontrakan saya segera memasak mie tersebut sambil melahap roti pia yang saya beli tadi. Kemudian mencuci perabotan tersebut untuk persiapan memasak air buat segelas kopi. Karena kopi tadi siang sudah habis. Kopi dan rokok bagi sebagian penulis tak bisa ditinggalkan. Karena zat-zat yang ada didalam keduanya tersebut, akan membantu kinerja otak kita. Ternyata eh ternyata setelah melahap sepiring mie goreng dan roti tadi, pening dikepala saya hilang. Kesimpulannya pening saya tadi gara-gara lapar saudara.. saudara.. ha.. ha…. Maklum sedari kemarin sore perut saya belum kemasukan makanan berat dan di pagi hanya roti seribuan, beberapa biji rambutan hasil colongan di pekarangan kontrakan dan kopi hitam kupu-kupu uyeee.

Ubo rampe nulis sudah tersedia didepan, maka saatnya dilanjutkan lagi nulisnya. Akhirnya lambat namun pasti, kertas hvs yang sudah saya sediakan mulai terisi satu-satu dengan tulisan khas dokter. Waktu menunjukan pukul 3 pagi lebih dan tulisan kurang lebih sudah mencapai 2/3, saya putuskan untuk istirahat dan dilanjutkan lagi nanti setelah bangun.

Sekitar jam 16.30 saya melanjutkan lagi menulis dan setelah maghriban, tulisan dikertas tadi saya ketik dilaptop sambil mengediti. Singkat cerita, dengan bermodalkan ketekunan, kesabaran, ketelatenan akhirnya tulisan yang sedulur-sedulur baca ini selesai.  Dan tinggal mengediti tata bahasanya ato nambahi sedikit-sedikit.

Terima kasih Gusti Allah, panjenengan sampun memberikan kesempatan kepada saya bisa hadir untuk sinau bareng bersama dulur-dulur Suluk Surakartan dan menerima tamparan-tamparan dari para narasumber di sesi satu dan sesi kedua. Dan semoga saja di Suluk Surakartan dapat melahirkan ksatria-ksatria, seperti halnya tembang yang dinyayikan Pak Dhe Herman di akhir sesi ke dua. Aamiin. (ayo do diaamiini lur)

Tak lupa, saya harapkan sedulur-sedulur yang membaca tulisan saya ini berkenan memberikan kritik dan saran kesekretaris pribadi saya yaitu; kisanak Didik W.K atau Kang Nonot selaku komandan tim media. Soale saya sibuk, mumpung sudah on fire lagi . Dan juga mohon doanya ya lur, moga-moga bisa segera nulis di caknun.com. aamiin..

WAHYUDI SUTRISNO

Tulisan terkait