Menu Close

Soloensis dan Buku

0Shares

Mengawali perjumpaan ini saya ingin memastikan bahwa hal-hal baik selalu melekat pada diri teman-teman sekalian. Utamanya untuk teman-teman yang saat ini aktif bermusik dan tergabung dalam sebuah atau dua, atau tiga buah kelompok musik. Karena hidup saya akhir-akhir ini saya sumpal dengan aktivitas ‘pandang-dengar’. Memandang dan mendengar. Tujuannya jelas. Yaitu meminimalisir nyinyir yang sangat potensial keluar dari bibir. Kalau saya bicara, kemungkinan besar yang saya bicarakan akan sangat merugikan dan menyenggol pihak lain. Karena kalau saya berbicara tentang kebaikan, maka itu tentang kebaikan diri saya sendiri. Kalau saya berbicara tentang keburukan, maka itu tentang keburukan orang lain. Sedang kalau saya menulis, saya akan menemukan banyak sekali kekurangan dan kelemahan saya. Maka, jalan yang saya pilih, adalah mengurangi jumlah bicara, menambah aktivitas menulis, dan melatih kepekaan untuk mendengar.

Karena paragraf di atas saya rasa terlalu serius, maka paragraf demi paragraf selanjutnya akan saya dongengkan sedikit pengalaman saya tentang dunia permusikan dan dunia tulis menulis.

File video di gawai saya, sebagian besar berisi video dari banyak band. Karena saya makhluk bumi yang ingin konsisten menyandang gelar ‘kekinian’ maka berselancar di kanal-kanal Youtube adalah bagian dari keniscayaan. Alhamdulillah sekarang era .3gp sudah hampir punah. Jadi membuka Youtube tidak akan dipandang sebagai sebuah aib. Dulu ekstensi .3gp semacam oase bagi para jomblo kambuhan. Ternyata kualitas tidak menentukan segalanya. Gambar ora jelas ngono kuwi ya iso dadi favorit ya.

Biasanya, saya hanya akan menyimpan satu video dari satu band. Tapi setelah saya cek ulang, ada satu nama band yang ternyata saya simpan beberapa videonya. Dan band itu adalah……….(((SOLOENSIS))). Oke berikan tepuk tangan yang meriah sekali lagi untuk band (((SOLOENSIS)).

Ada yang tidak paham kenapa tulisan Soloensis-nya memakai huruf kapital dan berada dalam tiga tanda kurung? Itu penggambaran untuk ekspresi berteriak. Seperti kalau kita berteriak dengan meletakkan kedua tangan kita di samping kiri dan kanan mulut. Ini kuliah singkat tentang trend redaksional kekinian. Sesuai tafsir pribadi saya.

Oke kembali lagi ke dongeng.

Tidak tahu juga sebab musababnya apa. Hingga band itu berhadil menjadi band yang videonya paling banyak menjadi penghuni kartu penyimpan kenangan di hape saya. Kartu penyimpan kenangan saya hanya 4 GB. Artinya, tidak akan pernah cukup banyak kenangan yang bisa saya simpan. Kenangan-kenangan itu harus rela saya hapus. Saya ganti dengan kenangan-kenangan yang lain. Jane nek nganggo bahasa Indonesia, malah romantis dadine. Mulai sekarang, ganti penyebutan ‘kartu memori’ dengan ‘kartu kenangan’. Biar hidup kalian tidak kering-kering amat.

“Mas, sedang nyari apa? Android?”

“Kartu penyimpan kenangan mbak.”

“Ah, si Mas. Saya baru buka, kok sudah digombalin.”

“Iya mbak. Saya nyari kartu penyimpan kenangan ‘luar’. Karena penyimpan kenangan ‘dalam’ saya sudah penuh. Saya masih butuh banyak ruang untuk menyimpan kenangan-kenangan itu.”

“Mas sudah jomblo berapa abad?”

Untungnya, Soloensis itu memang dari Solo. Mestinya, akan dengan mudah menemukan penampilan-penampilan mereka di wilayah kota Solo. Meski pada kenyataannya grup itu sudah melebarkan sayapnya hingga ke salah satu festival musik bergengsi berskala nasional baru-baru ini. Maka, saya dan istri selalu menyempatkan untuk memandang dan mendengar penampilan langsung mereka. Tetapi ada syaratnya. Acara itu harus gratis. Itu kebiasaan buruk saya. Belum pernah dalam hidup saya memandang pertunjukan musik dengan biaya di atas tiga puluh ribu rupiah. Betapa tragisnya saya. Tabiat yang tidak layak untuk diwariskan kepada generasi mendatang. Alhamdulilah Soloensis juga sering tampil di panggung yang tidak dipungut tiket masuk. Betapa bahagianya.

Yang paling mutakhir, Soloensis manggung di sebuah acara milad sebuah distro paling berpengaruh di kota Solo. Soloensis menjadi bintang tamu di acara milad tersebut bersama dengan beberapa grup. Di antaranya Ada Mound dari Bali, Sunrise dari Jakarta, Inarifox dan Fisip Meraung dari Solo. Asyiknya, untuk dapat masuk ke area milad, salah satu syaratnya adalah dengan membawa buku bekas yang layak baca. Mengetahui hal itu, saya segera berdiskusi dengan istri saya. Apakah kami berdua akan pergi ke acara itu atau tidak.

“Berangkat aja. Buku kan banyak. Tinggal diambil dua aja.” Kata istri saya.

Masalahnya, kecintaan pada saya buku juga cukup besar. Sayang jika, buku itu saya berikan begitu saja. Masih berat rasanya. Karena sebagian besar buku yang saya koleksi adalah buku-buku diskonan. Jarang lho ada kolektor khusus buku diskonan. Butuh mental baja untuk menjadi kolektor buku diskonan. Dan tidak banyak event diskonan juga.

Saya hampir saja melakukan sholat istikharoh untuk menentukan buku mana yang akan saya jadikan tiket masuk untuk memandang pertunjukan langsung Soloensis.

“Ambil saja dua yah.” Istri saya semakin mendesak.

“Kalau katalog pameran seni rupa ini aja gimana?”

“Yaelah. Masa katalog sih. Katalog beda dengan buku lho.”

“Eh tapi ada lho yang menjual katalog.”

“Jangan katalog itu. Buku yang lain kan masih banyak. Acaranya nanti malam lho.” Istri saya kembali mengingatkan.

Iya. Sebagai imam besar di keluarga ini, saya harus segera memberikan keputusan yang paling sedikit mudharatnya. Buku-buku itu seperti darah yang mengalir di tubuh saya. Yang kadang kala perlu saya donorkan juga meski tidak semuanya. Buku-buku itu menemani proses belajar saya. Buku-buku itu juga yang memberikan sedikit demi sedikit pengetahuan kepada saya. Galau melanda pemirsa. Eman rasanya. Tapi kalau tak membawa buku, tak boleh masuk ke venue.

Sampai lewat Maghrib masih belum diputuskan buku mana yang akan saya korbankan. Buku-buku itu seolah takut untuk saya jadikan persembahan. Mereka menolak. Mereka akan mengadakan demonstrasi besar-besaran. Aksi solidaritas akan digelar dimana-mana. Di rak toko buku ternama sampai pedagang buku fotokopian kaki lima. Saya menghela nafas berkali-kali. Mencari dan memilih dua buku sebagai sesaji. Saya cermati dengan seksama judul-judul dan nama pengarangnya. Menurut saya, semuanya berkualitas. Saya telisik siapa tahu ada nama pengarang atau judul buku yang tidak begitu berkualitas-berkualitas amat.

Saya ambil satu buku. Saya kembalikan lagi. Saya ambil lagi. Saya kembalikan lagi di rak.

Di rak paling bawah ada beberapa kumpulan cerpen dan novel. Saya ingin mengambil buku dari rak paling bawah itu. Toh semuanya sudah pernah saya baca. Tapi, masih terasa berat. Ah…

Di rak kedua, juga tak kutemukan apa-apa.

Di tempat paling atas. Akhirnya kutemukan satu nama disana. Nama yang dulu katanya sempat menjadi idola di kalangan mahasiswa. Nama yang baru saja saya ketahui sempat tenar di masanya. Meski menurut saya nama itu memang kualitasnya di bawah rata-rata. Tapi gantengnya jangan ditanya.

Didik W. Kurniawan  

Itu nama saya. Dan bajindul-nya saya lupa kalau saya ini juga penulis. Pernah punya buku di bawah naungan penerbit (kampret) besar. Pernah juga karena kecewa dengan penerbit (kampret) besar, nekad menulis, mendesain, merintis penerbitan sendiri, dan menjual buku secara mandiri. Kok sampai bisa lupa kalau masih ada stok buku yang saya terbitkan sendiri. Kemasannya masih bagus. Masih kinyis-kinyis.

Mata saya melotot berbinar melihat stok buku itu.

“Itu tiket untuk menonton Soloensis.”

Dengan girang saya keluar menemui istri saya yang ada di teras. Dengan bangga saya tenteng dua buku itu dan berkata,

“Sayang. Ini tiket kita!”

Istri saya ikutan seneng. Tamu di rumah saya juga ngakak-ngakak.

Karena buku, kita memang semestinya bertemu. Karena menulis, kenangan pahitpun bisa terasa manis……

Ah, mbilgidis…

Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait