Menu Close

Santri Jaman Now dan Sepasang Sandal

0Shares

Kehilangan sandal tidak hanya dialami orang yang sedang salat di masjid. Santri pun kerap mengalaminya. Selain itu, tukar-menukar sandal adalah hal yang biasa dilakukan. Bahkan yang sering terjadi, sandal bisa berpindah tempat tanpa seizin pemiliknnya. Awalnya di depan kamar santri berpindah ke masjid. Ada pula yang awalnya berada di masjid berpindah ke depan kamar pengurus pesantren. Lebih parah lagi ketika sandal milik santri yang berada di masjid berpindah ke ndalemnya Kyai. Ikhlaskanlah dan berbahagialah santri yang memiliki sandal tersebut.

Tukar-menukar sandal tidak menjadi masalah dan tidak membuat santri merasakan kekecewaan yang mendalam. Santri pasti paham betul dengan kondisi persandalan di pesantrennya. Jika ada santri yang sering gonta-ganti sandal karena sandal yang lama hilang sehingga membeli yang baru, berarti ia belum lama menjadi santri. Tetapi, jika ada yang sering gonta-ganti sandal, tidak pernah membeli, bahkan setiap sandal yang dipakai terlihat bagus, berarti ia terlalu lama menjadi santri. Sehingga jeli dan hafal betul sandal mana yang layak untuk dipakai.

”Jadi, selain menjaga pasangan hidup, sampeyan juga harus menjaga sepasang sandal yang sampeyan miliki!” Kata kawan saya yang sekarang duduk di bangku perkuliahan semester pertama membuat saya memandang sepasang sandal baru yang saya pakai karena sandal yang lama hilang entah kemana.

Pengalamannya di pondok pesantren bisa dibilang menarik untuk saya dengarkan walaupun bagi yang pernah mengeyam dunia pesantren pengalaman tersebut mungkin terkesan biasa saja. Seringkali tanpa saya minta untuk menceritakan tentang pesantren, ia nyelonong duluan dan mulai bercerita tanpa meminta persetujuan saya. Mungkin pengalaman lima tahun di pesantren adalah cerita paling berkesan selama hidupnya atau jangan-jangan ia tidak punya cerita lain di luar tembok pesantren. Ia bercerita memakan durasi waktu cukup lama dan menguras habis satu bungkus rokok saya yang ada di meja. Pastinya, ia tidak tahan rasa kecut di bibir karena terlalu banyak kata yang keluar dari mulutnya.

Mungkin karena ia tahu bahwa saya bukanlah seorang santri, cerita tentang pesantren sangat cocok untuk saya. Namun, inti ceritanya selalu sama. Kalau bukan tentang sandal, ya tentang pasangan hidup! Walaupun dengan tokoh, alur serta latar cerita yang berbeda-beda. Cerita tentang kisah cintanya dengan santri putri, sandal merk terkenal yang hilang, sampai sering dihukum karena ketahuan membawa hape.

”Santri jaman now itu harus aktif menggunakan media sosial agar punya eksistensi di dunia maya”, katanya sambil mengambil dua batang rokok di meja kasir yang tidak jauh dari tempat duduk kami berdua.

Saya hanya diam dan segera menikmati rokok yang ia ambil karena rokok saya sudah habis dibakar olehnya.

”Sedang ramai berita apa hari ini?”, tanyaku.

“Waduh, aku nggak update , Mas. Tapi, kemarin ramai membahas Pak Presiden”, jawabnya.

“Soal Freeport atau Pilkada?”

“Itu lho, Mas! Pak Presiden memberi hadiah sepeda untuk santri. Lucu banget e, Mas!” Ia tertawa terbahak-bahak sambil memperlihatkan video dari gadgetnya.

“Oh iya, ada juga santriwati yang sedang hits  di Instagram karena suaranya merdu dan cantik pula. Tapi, aku lupa namanya, Mas. Aku Cuma tahu dari grup Whatsapp alumni pesantrenku”.

Lagi-lagi saya memilih diam. Di dalam otak saya hanya ada sepasang sandal dan sepasang insan yang belum dipertemukan oleh Tuhan. Namun, sekarang hadir ratusan wajah santriwati yang pernah saya lihat di media sosial, suaranya yang merdu, aktivitasnya di pesantren, bahkan sepeda Pak Presiden melaju kencang menabrak dinding otak saya. Walaupun sebenarnya sebelum berangkat ke warung langganan saya dan bertemu kawan saya tersebut, kepala saya sudah penuh dengan persoalan bangsa jaman now. Selain itu, kepala saya masih dijejali sepasang sandal yang hilang dua hari yang lalu dan sekarang sepasang sandal itu melekat erat di kaki yang berada tepat di depan kaki saya.

Athar Fuadi.

Tulisan terkait