Menu Close

Maiyah Rasa Waah

0Shares

Terakhir kali saya ikut melingkar di Majelis Maiyah Suluk Surakartan pada bulan April 2017 lalu. Kala itu bertepatan dengan perubahan nama dari Maiyah Solo menjadi Suluk Surakartan. Mas Sabrang MDP diundang sekaligus didaulat sebagai narasumber utama. Entah kenapa, buat saya nama Suluk Surakartan terdengar lebih pas dan ideal. Nama yang khas, memiliki kedalaman rasa dan makna. Nanti kapan-kapan kita bahas lebih mendalam perihal nama Suluk Surakartan. Cc dulu ahlinya (baca: pak Munir).

Terhitung sudah enam bulan saya absen tidak ikut maiyahan di Solo. Pasalnya setiap acara Suluk Surakartan digelar selalu saja tubrukan dengan acara lain. Seperti; menghadiri rutinan yasinan, jenguk saudara sakit, latihan musik, istri rewel dll. Untuk alasan yang terakhir ini bisa terjadi kapan saja, disebabkan apa saja dan dimana saja. Yaa begitulah wanita. Udah iyain aja.

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu saya bertemu dengan mas Nonot. Beliau mengundang saya untuk merapat ke SS edisi bulan Oktober. Seketika itu juga saya langsung mengiyakan-nya.

***

Majelis SS bulan Oktober digelar pada hari Jumat tanggal 27 Oktober 2017. Dari Gemolong saya berangkat berdua bareng teman boncengan naik motor. Tepat pukul 19.30 WIB kami meluncur dari Gemolong menuju Tanjung Anom. Hujan rintik yang seolah malu jatuh ke bumi, dengan setia mengiringi perjalanan kami.

Pukul setengah sembilan kami telah mendekat di TKP. Bersebab perut keroncongan, kami pun mampir ‘isi bensin’ di warung lesehan persis disudut pertigaan jalan (barat Patung Soekarno). Udara yang semi-dingin kemudian menyantap nasi liwet hangat, oh sedaaap. (A-nya ada tiga itu artinya sedap pakai banget) #hehe

Ada beberapa hal menarik yang saya titeni ketika bermaiyahan di Suluk Surakartan. Yaitu soal tempat dan hidangan. Mari satu persatu coba kita uraikan. Pertama soal tempat. Buat saya tempat maiyahan di SS itu sangat mewah. Terkesan waah dan berasa ada di hotel bintang lima. Bagaimana tidak. Tempatnya bersih, rapi, nyaman, ada AC-nya, dialasi karpet dan saya yakin itu karpet mahal kualitas jempolan. Sound sistemnya jernih-mantap. Ruangan-nya tertutup sehingga kita tidak perlu kuatir apabila turun hujan. Meski gludug nyampar-nyandung InsyaAllah kita tetap aman terlindung. Kemewahan ini yang mungkin tidak kita temui dilokasi maiyahan lain. Bandingkan saja dengan lokasi maiyahan Padhangmbulan di Jombang, Mocopat Syafaat di Yogya, Kenduri Cinta Jakarta dlsb. Hampir semua lokasi tersebut berada di halaman (outdoor), beratap kajang, beralaskan terpal. Jika tiba-tiba turun hujan maka jamaah mesti ubah posisi dan segera mencari tempat berlindung. Dan ini yang berbeda dengan lokasi maiyah Suluk Surakartan. Tempatnya sungguh istimewa. Sehingga membuat yang ada disitu merasa tenang dan betah untuk berlama-lama. Oh ya, disana juga tersedia toilet umum. Bagi anda yang kebelet pipis ndak usah bingung. Tinggal salto ke belakang sampai, sayang.

***

Berikutnya tentang menu hidangan. Biasanya di beberapa forum Maiyah yang mendapat suguhan itu hanya narasumber dan tamu undangan. Jamaah tidak dapat jatah. Tapi itu tidak berlaku di Majelis SS. Sebab disana, baik narsum maupun jamaah sama-sama disuguhi hidangan. Ada air mineral gratis dan bagi yang pengin kopi dipersilakan ambil sendiri. Sebagai teman ngopi disediakan juga aneka kudapan-kudapan kecil. Uniknya dari sekian kali saya hadir di Maiyahan SS, selalu saja ada menu yang masuk kategori polo kependem. Seperti ketela (télo), kacang tanah dan singkong. Kenapa ya? Apakah itu kebetulan saja atau memang disengaja. Dan yang paling tahu jawaban berikut alasan-nya tidak lain adalah sang Empunya rumah (baca. Pak Munir).

Mungkin, mungkin lho ya.., pak Munir menaruh pesan tersirat kenapa menu yang dihidangkan selalu ada yang berbau polo kependem. Kita tahu dan mafhum dimana Simbah (CN) selalu mengajak kita semua para JM untuk belajar nandur. Sing sopo nandur bakal ngunduh. Dan memang baiknya, kita hanya memakan sesuatu yang kita tanam sendiri. Itu akan jauh lebih nikmat rasanya. Akan lebih terjaga kehalalan-nya. Berlomba-lomba untuk istiqomah menjadi produsen. Bukan malah sibuk dan asyik menjadi konsumen. Mungkin ini pesan tersirat-nya. Melalui makanan, secara tidak langsung pak Munir beserta pegiat SS menyentil kita.

“Ojo isone ming mbadhog tok!”

Mikiro sebelum mangan. Bahwa yang kita makan dan masuk ke perut kita itu sebelumnya telah melalui proses panjang. Dimana semua itu diawali dengan cara : nandur.

Majelis SS telah memberikan fasilitas luar biasa kepada kita. Mulai dari tempat yang nyaman, ilmu yang bertebaran, hiburan, ikatan pasedhuluran dan berbagai menu hidangan. Itu semua bisa kita dapatkan secara cuma-cuma. Tanpa ada transaksi didalamnya. Sayang, kalau fasilitas sudah tersedia tapi jamaah yang hadir belum seberapa. Maaf, tentu ini menjadi PR kita bersama. Bagaimana caranya agar maiyah dapat menyentuh ke seluruh elemen masyarakat. Dapat disambut baik oleh orang banyak. Sehingga yang melingkar di SS kian hari kian bertambah. Tambah berlimpah. Sekali lagi ini tugas kita semua bung! Mari sama-sama kita bergerilya. Lebih gencar menyebar “virus” maiyah ke seantero Solo Raya.

Oh yaa, besok lagi kalau datang ke Suluk Surakartan jangan lupa bawa uang. Mosok mangan-minum gratisan. Remuk bakulé mebel cuk. (Heuheu)

Gemolong, 14 November 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait