Menu Close

Ruang Kelas Maiyah

0Shares

Ngaji di forum-forum maiyahan merupakan kebahagiaan tersendiri. Selain diselingi dengan musik khas Kiai Kanjeng, gaya penyampaian Mbah Nun yang luwes dan humoris adalah daya tarik tersendiri. Pengajian adalah proses untuk membangun aji, memperbaiki diri dan menyiapkan baik jasmani maupun rohani agar tidak tertimbun zaman. Di forum maiyah, jamaah diajak untuk berpikir tentang kondisi sosial serta permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar. Sehinga, setiap rutinan atau forum maiyah selalu berganti tema yang sesuai dengan kondisi pada saat itu.

Ada beberapa hal menarik yang saya amati selama mengikuti forum-forum maiyah, baik secara langsung maupun lewat media sosial, terutama mengenai pendidikan. Proses pembelajaran dan pengajaran tidak hanya berada di dalam dinding tebal sekolah, namun bagi saya proses tersebut dapat dilakukan di mana saja. Contohnya, ketika di forum maiyahan. Memang maiyahan berbentuk pengajian, dan pengajian juga berarti proses pembelajaran. Namun, ada yang membedakan belajar di ruang kelas maiyah dengan pengajian-pengajian pada umumnya. Materi yang disampaian Cak Nun, dan pembicara lainnya sesuai dengan kondisi di daerah pengajian tersebut. Sehingga, masyarakat dapat mengikuti dan khusyuk sampai berjam-jam tanpa ada gangguan dan masalah.

Jamaah maiyah bukan untuk kalangan tertentu. Semua orang boleh hadir di acara maiyahan, bahkan sampai ribuan orang sehingga seringkali harus memasang proyektor di berbagai titik. Menguasai dan berbicara di hadapan ribuan orang bukan hal mudah, apalagi ketika forum maiyah dipandang melalui kacamata pendidikan. Materi yang disampaikan ketika rutinan maiyah di beberapa tempat misalnya, PadhangMbulan, Gambang Syafaat, Mocopat Syafaat,dan lain-lain berbeda dengan pengajian umum yang dikonsep sinau bareng atau tadabbur bersama Cak Nun dan Kiai kanjeng. Pembelajaran yang disesuaikan oleh hadirin itulah yang berbeda dengan forum-forum pendidikan lainnya. Ketika rutinan, apalagi Kenduri Cinta di Jakarta, materi yang dibahas lumayan berbobot, karena jamaah yang datang rata-rata dari kalangan mahasiswa, tokoh, dan pemuda perkotaan. Seperti prinsip yang ditanamkan orang tua dahulu bahwa setiap perilaku harus sesuai dengan empan papan. Ibarat mengisi minuman di gelas, harus sesuai dengan volume gelas tersebut dan minuman yang dituang harus sesuai dengan kebutuhan orang lain.

Berbeda dengan sekolah-sekolah yang menjadi ruang pembelajaran resmi. Orang yang tidak sekolah bakalan susah ketika mencari pekerjaan, belum lagi ketika menghadapi kesenjangan sosial dengan masyarakat yang rata-rata mengeyam bangku sekolah. Penekanan dan target yang dicapai siswa di sekolah hanya pada nilai dan prestasi akademik. Sehingga ia akan mudah untuk melanjutkan ke sekolah favorit di jenjang yang lebih tinggi. Apakah sekolah menghasilkan siswa yang cerdas? Iya! Tetapi, siswa cerdas belum tentu kritis. Mahasiswa dengan IPK cumplaude belum tentu peka terhadap kondisi di lingkungan sekitarnya.

Forum maiyahan sendiri pasti sudah dibuat konsep yang matang serta kurikulum pembelajaran walaupun tidak disusun secara formal seperti di sekolah. Pola perjalanan musik Kiai Kanjeng menjadi kuncinya. Berawal dari tahun 90-an, Cak Nun dan Kiai Kanjeng mulai menghasilkan karya sesuai dengan kondisi sosial kebudayaan pada waktu itu. Dimulai dari musik sebagai alat pergerakan sampai musik sebagai maiyah yang berlangsung sampai sekarang. Kiai Kanjeng sendiri menyuguhkan musik dari berbagai genre, bahkan semua genre music saya kira bisa dan diaransemen sesuai dengan kultur masyarakat di Indonesia. Cak Nun dan Kiai Kanjeng memang tidak bisa dipisahkan. Lewat alunan musik yang tidak monoton serta model pembelajaran yang partisipatif menghasilkan kesadaran kritis jamaah maiyah serta ketulusan dan keikhlasan dalam menjalani roda kehidupan.

Panggung didesain sederhana dan tidak ada jarak yang jauh antara pembicara dengan jamaah. Tinggi panggung sekitar satu meter, dan tidak ada pagar besi pemisah. Jamaah pun uga tidak dibatasi sekat antara laki-laki dan perempuan, karena di maiyahan yang ada hanyalah makhluk ciptaan Allah. Ruang kelas maiyah tanpa sekat membuat internalisasi keilmuan menjadi lebih efektif. Tidak ada dinding dan bangku yang tertata rapi. Ruang kelas maiyah diikuti langsung semua makhluk Allah.

Ada yang menarik lagi di forum maiyah, yaitu pembelajaran melalui permainan anak-anak. Ada satu sesi di tengah-tengah acara, anak-anak kecil disuruh maju ke panggung. Cak Nun dengan dibantu Kiai Kanjeng menanamkan jiwa kepemimpinan dan solidaritas melalui permainan, misalnya disuruh berbaris sesuai dengan umur atau abjad namanya masing-masing. Anak-anak yang awalnya belum saling kenal, otomatis dan mau tidak mau akan saling mengenal serta saling memahami. Model pendidikan tersebut, berasal dari metode pendidikan zaman dahulu, di mana anak-anak kecil diajari tembang dolanan, permainan yang melatih softskill dan penguatan karakter dan dibebaskan di ruangan yang tertutup. Selain itu, personil Kiai Kanjeng turut menghibur dan mengajarkan permainan zaman dahulu, misalnya seperti Jamuran, sadhingklik oglak-aglik dan permainan lain. Personil Kiai Kanjeng yang sudah tidak muda lagi itu nampak riang gembira dan ikhlas.

Bagi jamaah maiyah pada umumnya, mungkin fenomena itu tidaklah asing. Apalagi bagi jamaah maiyah yang sudah militan, dan ideologis karena sudah bertahun-tahun menjadi JeEm. Tetapi, alasan mengapa saya tertarik untuk mengamati proses pembelajaran di maiyah karena permainan-permainan anak kecil zaman dulu tersebut sekarang menjadi semacam model Ice Breaking, walaupun dengan nama atau istilah yang berbeda. Di sekolah, metode pendidikan orang dewasa diterapkan, tetapi metode pendidikan anak kecil malah diterapkan untuk orang dewasa. Terakhir,  saya yakin Jamaah maiyah tidak akan kaget atau heran dengan wolak-waliking jaman tersebut, karena sudah mempunyai kesadaran sebagai manusia, sebagai khalifah fil ’ardl.

Oleh: Athar Fuady

 

Tulisan terkait