Menu Close

Akik dari Simbah

0Shares

Kemudian hari itu tiba. Hari dimana telah ditetapkan sebagai hari berkumpulnya sedulur-sedulur redaksi caknundotcom. Hari yang cukup menantang karena hari itu hari Rabu 15 November 2017. Bukan hari Sabtu, Minggu, atau hari saya bebas dari rutinitas pergi ke kantor. Pelik. Rembug dengan istri di malam sebelumnya menjadi sakral.

“Sudah izin?” istri memperjelas apakah saya sanggup meminta izin ke kantor.

“Belum. Besok pagi aja kalau mau ke stasiun.” Saya jawab dengan nada merdu.

“Tapi jadi ke Jogja kan?” istri memberikan pertanyaan yang semestinya tidak perlu lagi diucapkan. Entah sudah berapa kali pertanyaan itu keluar.

“Pengen ke Jogja.”

“Udah ke Jogja aja. Nggak usah masuk dulu.” istri memberikan legalitas.

Tidak ada hal lain lagi yang patut untuk dijadikan alasan. Pilihan saya jatuh ke Jogja. Di kantor, posisi saya tidak begitu penting. Saya ada atau tidak, tetap gajian. Eh, maksud saya, saya ada atau tidak sistem sudah berjalan dengan sendirinya. Nyaris seperti teori quantum. Wahai para suami, jikalau ingin bolos dari kantor, tetaplah meminta izin kepada istri. Bagaimanapun, dia adalah istrimu. Yang tingkat ‘dituruti’-nya lebih diprioritaskan daripada fatwa dari atasan.

Agenda di markas besar Kadipiro Jogja akan dilaksanakan jam sebelas siang. Dilanjut malam harinya jika memungkinkan. Artinya, sebenarnya saya bisa lebih dulu setor muka ke kantor. Basa basi lalu bla bla bla minta izin untuk pulang lebih dini. Tapi, iya kalau diizinkan. Kalau tidak? Lebih baik sekalian saja tidak masuk sedari pagi. Totalitas tanpa batas, mbolosnya. Tolong, untuk yang seperti ini jangan dijadikan inspirasi. Kisanak sekalian harus bisa membedakan dan menentukan mana yang layak untuk diikuti dan diabaikan.

Pagi-pagi ketika yang lain berangkat kerja, saya pergi ke stasiun Purwosari ditemani istri.

“Nanti pulangnya ayah dijemput bunda atau ojek online aja?” tanya saya. Sebuah pertanyaan yang dramatik dari laki-laki yang akan meninggalkan (sebentar) perempuan yang dicintainya.

“Pulangnya ojek aja. Nanti tiketnya beli yang jam sembilan. Begitu dapat tiket, kita pulang dulu. Nanti berangkatnya ke stasiun lagi bunda yang anter. Tapi pulangnya pakai ojek online. Oke?”

Benar. Setelah dapat tiket kereta api jurusan Jogja keberangkatan pukul 09.17, saya kembali pulang untuk menyiapkan bekal berangkat ke Jogja dengan perasaan yang saya stel biasa saja. Tidak terlalu saya lebih-lebihkan. Toh, ini rasanya seperti pulang ke kampung halaman. Sarapan selesai, saya menuju stasiun menaiki kereta Prambanan Ekspres. Prameks.

Seperti yang kisanak sekalian ketahui, jarang sekali Prameks sepi dari penumpang. Dari Solo ke Jogja, atau sebaliknya dari Jogja ke Solo selalu riuh oleh penumpang. Wajar karena sudah cepat, murah pula. Tiket hanya dibandrol delapan ribu rupiah. Moda transportasi ini menjadi primadona di kalangan manusia-manusia seperti saya. Yang dicari, cepat, murah, penak. Untuk yang penak, ini untung-untungan. Bisa dapat kursi. Bisa juga nglesot lesehan.

“Perhatian masuk jalur 3 dari arah timur kereta api Prameks Prambanan Ekspres jurusan….” suara mbak-mbak yang sangat khas memenuhi stasiun.

Calon penumpang berduyun-duyun menuju jalur kereta api. Dengan posisi di belakang garis kuning tentunya. Kalau nekat, langsung kena semprit dari keamanan.

Kereta api berhenti. Pintu terbuka. Penumpang dengan cekatan memasuki gerbong kereta mencari tempat duduk yang kosong. Anehnya, di semua tiket kereta api Prameks ada tulisan ‘tanpa tempat duduk’. Saya mikir, seharusnya semua yang ada di dalam kereta seharusnya berdiri dong.

Saya berdiri di dalam kereta yang saya tak tahu gerbong berapa. Sebagai laki-laki harus senantiasa kuat berdiri. Harus. Harus kuat. Kursi sudah penuh kisanak. Tak ada lagi tempat untuk menaruh pantat. Saya ingin bergelantungan sebenarnya. Tapi, ah nanti dikira hewan liar yang lepas dari kebun binatang. Saya berdiri di dekat pintu. Biasanya ada dua kursi di sana yang diprioritaskan untuk orang tua lanjut usia, anak-anak, ibu hamil, atau yang lagi sakit kakinya. Saya tidak masuk semua kategori. Kebetulan kursi itu sudah terisi oleh sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih. Terlihat mesra mereka. Duduk saling berdekatan. Tangan saling bergenggaman. Dan kepala si perempuan bersandar di bahu si lelaki. Momen yang cukup indah.

Tak lama datang seorang perempuan dengan anak kecil. Mereka memilih duduk lesehan. Ingin saya ikut duduk. Tapi, perempuan yang menyandarkan kepalanya di bahu lelaki tadi memakai semacam rok di atas lutut dan duduk dengan posisi kaki menyilang. Kalau saya duduk nglesot, posisi kepala saya sejajar dengan kaki perempuan itu. Daripada daripada daripada, lebih baik saya berdiri. Kalian paham lah ya.

Berhenti di stasiun Klaten untuk kemudian kereta melaju kembali ke arah stasiun Maguwo, Lempuyangan, dan terakhir berhenti di stasiun Tugu Jogjakarta tepat pukul 10.22 waktu Indonesia bagian baik-baik saja. Gawai saya keluarkan. Data internet dihidupkan. Aplikasi ojek dalam jaringan berkumandang. Posisi jemput di stasiun Tugu dengan tujuan ‘Rumah Maiyah’. Jarak tidak begitu jauh, tarif sewajarnya. Saya klik pesan. Tak lama gawai berdering, telpon dari mas ojek.

Menunggu sebentar, mas ojek datang bersama tunggangan.

“Rumah Maiyah itu mana mas?”

“Kadipiro. Depan Soto Kadipiro dua.” jawab saya.

Di tengah perjalanan, saya mengatakan bahwa baru pertama kali ini saya menggunakan jasa ojek dalam jaringan. Beliau paham. Kami saling bertukar cerita.

“Itu mas, gang sebelum pom bensin masuk.” Saya memberi tanda.

“Maiyah yang Cak Nun itu mas?”

“Iya mas bener. Mas jamaah maiyah?”

“Ini mau sinau nulis mas.”

Tunggangan berhenti tepat di depan gerbang yang hampir selalu terbuka. Di pendopo sudah ada mas Fahmi, mas Hilmy, mas Rizky, dan mas Patub. Disusul kemunculan mas Helmi dari lantai dua.

“Pokoknya kalau saya izin sinau nulis ke Jogja, dibolehkan sama kantor.” Kata saya.

“Nek ngono sesok ngomong meneh sinau nulis, padahal piknik.” sahut mas Patub.

Kami tertawa bersama sambil menunggu kehadiran teman-teman yang lain, mbak Viha, mas Fadil, dan mas Syaiful. Karena waktu sudah menunjukkan jam sebelas lebih, mas Helmi mengajak naik lantai dua memulai agenda yang sudah direncanakan. Yaitu, mencari, dalam rangka memperkaya cara pandang dalam penulisan reportase. Karena selama ini reportase yang sudah ditulis teman-teman seperti menemu jalan buntu. Atau gaya yang dipakai itu-itu saja. Terasa membosankan.

Mas Helmi menawarkan satu contoh perspektif yang bisa digunakan dari tinjuan ilmu sosial. Mas Helmi menyampaikan bahwa dari ilmu sosial saja kita bisa mendapatkan beberapa perspektif. Saya lupa karena saking banyaknya. Siang itu rasanya seperti masuk ke ruang kelas kuliah. Satu perspektif dibabarkan dengan contohnya. Padahal ada sekurangnya sepuluh perspektif. Ditambah kelaparan mendera. Perut ini sudah berontak. Tetapi kalau tidak mau menderita, jangan harap produktivitas menulis meningkat. Satu kata kunci siang itu adalah, penderitaan. Mau tirakat, siapa tahu tambah kuat.

Mas Helmi mengatakan bahwa kurang lebih jam satu Mbah Nun akan datang karena ada janji dengan tamu. Kalau beruntung, kami bisa langsung workshop dengan beliau. Itu kalau beruntung. Tapi kalau tidak beruntung bukan lantas kami rugi. Karena niat utamanya adalah sinau bareng. Sinau nulis.

Sebuah mobil putih memasuki Rumah Maiyah. Dari lantai dua bisa terlihat bahwa Mbah Nun sudah datang. Kami melanjutkan pembahasan demi pembahasan setelah sebelumnya saling tukar pengalaman, saran, masukan, dan kendala dalam setiap penulisan reportase.

Bagi saya pribadi menulis reportase, adalah hal yang sampai saat ini belum dapat saya lakukan dengan cemerlang. Selama ini saya berlatih menulis cerpen dan esai. Bukan sesuatu yang panjang, runut, detail, dan jelas. Dalam cerpen, saya bebas meloncat kesana-kemari. Dalam esai saya bebas mengutarakan isi kepala ini, meski kadang banyak ngawurnya. Toh mereka percaya saja. Untuk urusan reportase, saya masih banyak kekurangan. Lebih banyak tidak sabarnya. Kurang daya tahan menjadi penyampai yang bijaksana. Maka dari itu, saya sangat menaruh hormat kepada kisanak sekalian yang tahan menulis reportase. Khususnya kegiatan Maiyah. Terima kasih terdalam untuk kisanak sekalian.

Banyak perspektif yang bisa digunakan. Dari soal apa saja dan dengan bentuk bingkai yang bagaimana saja. Itu sangat dianjurkan agar pembaca tidak mengalami kebosanan seperti membaca berita dengan model straight news. Berita dengan bahasa yang kaku dan lurus-lurus saja. Tidak ada kelokan. Tidak ada jeglongan. Tidak ada tanjakan. Tidak ada turunan. Lempeng. Jumlah halaman juga menjadi pembahasan siang itu. Karena dipandang berpengaruh juga terhadap daya baca.

Mas Ale muncul dari tangga. Instruksi singkat muncul.

“Semuanya, diminta ke bawah sama Mbah Nun.”

Tanpa berlama, kami langsung terjun ke bawah dengan tali. Ya nggak lah. Lewat tangga. Bersalaman dengan Mbah Nun, Cak Zakky, mas Ale, dan mas Adin.

“Bangsa ini tidak memiliki teks yang cukup untuk menerangkan siapa dirinya. Hanya ada dua kitab. Dan hari ini kita di sini tidak akan mengulangi itu semua. Sunan Kalijaga tidak ada teks atau buku-buku.” Mbah Nun intro.

Selanjutnya pembahasan demi pembahasan mengalir. Bahwa modal utama untuk menulis adalah Gembira dengan cara seperti mendongeng, bertutur. Tulis seperti sedang bercerita kepada orang lain. Tentu dengan konsep menjaga stabilitas kesabaran diri. Beliau memberi contoh sederhana ketika kita menulis pesan di wassap, masih dengan cara menyingkat kata demi kata. Kita tidak mau tahu kita sedang menjalin komunikasi dengan siapa. Padahal fitur wassap tidak terbatasi oleh karakter seperti SMS. Atau mungkin budaya salin-tempel membagikan pesan karena malas mengetik ulang.

“Itu yang terjadi pada generasi zaman now. Kurang sabar. Sabar itu salah satu kunci untuk menulis. Dulu, Umbu mengajak saya jalan kaki keliling Jogja tanpa tujuan. Kalau ada orang tirakat, atau laku kan ada tujuannya. Supaya apa biar apa. Umbu nggak. Udah jalan kaki ya jalan kaki saja. Itu yang hilang dari generasi zaman now. Nah, kita ini bukan generasi zaman now tapi generasi zaman tomorrow.”

Kemudian Mbah Nun membagi ide soal penulisan tentang Kiai Kanjeng kepada saya juga kepada teman-teman yang melingkar dengan ditemani oleh Pakdhe Toto Rahardjo. Saya dengan seksama mencatat beberapa poin yang bisa saya jadikan acuan untuk menyelesaikan misi khusus.

Tiba-tiba ada akik di depan saya. Besar akiknya. Saya menoleh ke mbak Viha yang duduk persis di sebelah saya dan memberikan isyarat menanyakan apa ini untuk saya? Mbak Viha mengangguk. Saya menoleh ke mas Fadil, beliau juga mengangguk.

“Tak itung jumlahe pitu, dadi aku nggowo pitu.” Ucap Mbah Nun.

Saya ambil. Saya coba pakai di jari tangan kiri. Tapi saya lihat Mbah Nun memakai akik di tangan kanan. Saya coba lima jari di tangan kanan. Yang pas di jari tengah. Saya pakai. Terasa aneh karena saya sendiri kurang begitu suka dengan aksesoris tubuh. Jam tangan, gelang, kalung, anting, peci, kopyah, kupluk, topi, cincin tidak begitu saya minati. Bapak saya yang menggemari akik.

Dari ke tujuh akik, saya tidak bisa memilih batu akik yang mana karena pas giliran saya, itu akik terakhir. Jadi mau tidak mau itu jodoh saya. Toh saya juga tidak tahu itu jenis batu akik yang seperti apa. Apa makna filosofisnya. Saya tidak paham tentang batu akik.

Begitu saya mengenakan akik itu, saya merasa menjadi……….

 

Oleh: Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait