Menu Close

Mertombo di Kasihan

0Shares

Melepas Rindu

Terakhir kali saya menghadiri sinau bareng di Kasihan pada bulan September,  itupun saya tak sampai selesai mengikuti. Karena sekitar jam setengah duaan saya sudah tepar terlebih dahulu. E… lha dalah… bangun-bangun proses sianu barengnya sudah selesai. Mungkin disebabkan kecapaian narik di siang harinya. Menyesal rasanya melewatkan beberapa momen-momen sinau bareng. Ya sebenarnya sesi-sesi yang saya lewatkan bisa di lihat via youtube, tapi nuansanya berbeda antara menyimak secara langsung dengan via youtube. Kemudian, dua kali kesempatan sinau bareng secara beruntun saya absen karena sesuatu hal.

Bagaimana rasanya ketika lama tak bisa hadir di sinau bareng dan bertatap muka secara langsung dengan Simbah? Kangen mesti. Lha wong saya saja yang terbilang jamaah baru saja rasanya sudah gimana gitu. Apalagi sedulur-sedulur yang sudah lama aktif atau sering mengikuti sinau bareng di Kasihan. Mungkin, jika suasana hati tersebut dapat di ilustrasikan ibarat sayur tanpa garam sama dengan hambar. Ya mungkin seperti itu rasannya, karena rasa sulit untuk di ekspresikan melalui kata-kata. Karena rasa merupakan sesuatu hal yang ghaib. Ada tapi tak berwujud dan hanya Gusti Allah saja yang mengetahui betul bagaimana rasa yang dalam hati setiap makhlukNya. Jika ada yang mengetahui, mungkin itu hanya orang tertentu yang di berikan kelebihan oleh Gusti Pangeran, seperti Nabi ataupun Waliyullah.

Maka dari itu, di sinau bareng bulan November ini, sebisa mungkin saya usahakan untuk hadir. Entah itu bareng rombongan Elf dari TJA (Tanjung Anom) atau bareng mobil Pak Dhe Herman. Nek tidak bisa nunut Pak Dhe dan rombongan Elf TJA, ya terpaksa harus absen lagi. Karena fisik saya lagi drop dan selama tiga hari dan kebanyakan aktivitas saya hanya di atas Kasur. Lha gimana lagi, dipaksa untuk beraktivitas agak berat sedikit saja keringat dingin mulai keluar dengan dibarengi tubuh mulai lemas. Padahal aktivitas tersebut tak sampai lima menit. Sebenarnya sih cuma mau flu, tapi sekujur tubuh saya rasa gembrebeg dan di ruas-ruas tulang terasa ngilu.

Dompet Ketlisut, Santai…!!!

Siang hari sebelum berangkat, saya putuskan untuk bareng Pak Dhe saja. Karena biasanya beliau berangkatnya agak malam, sehingga waktu untuk bermesraan dengan kasur bisa lebih lama. Singkat cerita setelah maghrib saya, Rafi dan Wasis langsung menuju ke rumah Pak Dhe yang di Banyuanyar. Baru sampai di sekitar Solo Pos, tiba-tiba saya teringat dengan dompet dan seketika ku raba saku celana belakang saya kok gak ada.

Agak sedikit kaget, “lho kok dompetku ora enek?. Nek njiglok, njigloke neng ndi? neng kontrakan opo neng ndalan? Mosok yo arep hatrik meneh”. Begitulah ringkasan dialog yang terjadi di hati saya. Sambil mengingat-ingat aktivitas sebelum berangkat ke rumah Pak Dhe, saya langsung merogoh saku celana untuk ngambil HP dan kemudian menelpon salah satu dari dua anak-anak yang masih berada di kontrakan. “kampret di telpon bola-bali kok ra diangkat”. Sambil meneruskan perjalanan saya cari kontak anak kontrakan yang satunya. Dialogpun terjadi diantra kita.

“Ijik neng kontrakan Har?, tulung di endake dompetku opo njiglog neng kontrakan  Har”,pinta saya.

“Ora mas, kie aku lagi metu karo Reza”. Jawabnya.

“Owalah yo wis”.

Setelah percakapan diantara kita terhenti, Hp saya langsung saya masukkan kedalam saku celana dan kembali fokus pada jalan. Selang beberapa saat kemudian kita samapai didepan kediaman Pak Dhe. Namun ada yang aneh di malam itu. Biasanya pintu garasi beliau terbuka dan mobil berada di depan, tapi di malam itu, pintu garasi di tutup dan mobilpun tak ada di depan rumah beliau. Sambil menunggu beberpa saat kami pun saling bertanya-tanya.

“Wah ojo-ojo Pak Dhe wis budal dhisik cah”.

“Lha nek wis budhal dhisik, terus sopo sek nyupiri?

Kemudian Wasis menelpon Pak Dhe. Entah apa isi percakapan diantara keduannya. Tapi intinya, mungkin Pak Dhe sedang ada lobby-lobby tingkat langit bersama Mas Arif dan Mas Wisnu dengan pihak Kraton Kasunanan. Kira-kira ada apa ya? kok beliau-beliau menemui pihak Kraton? Rahasia, nanti saja lihat apa yang akan terjadi, kalau saya ungkapkan disini nanti gak surprise  he..he.. Mari kita berdoa semoga agenda “nganu” berhasil terlaksana. Aamiin.

Sambil menunggu kepulangan beliau dari Kraton Kasunanan, kami bertiga memutuskan menunggu beliau di Hik Mujahidin. Karena sedari berangkat dari kontrakan Rafi merengek-rengek kelaparan.  Sebenarnya Rafi mengajak makan di salah satu rumah makan yang dekat dengan rumah Pak Dhe. Tapi ku coba menyakinkan mereka berdua untuk makan di Hik Mujahidn saja. Selain murah, harga terjangkau dengan uang yang ada di saku cuma 6.500, Hik tersebut dulunya merupakan salah satu tongkrongan favorite bagi sebagian sedulur-sedulur pegiat Suluk Surakartan. Karena kesibukan masing-masing dalam Wala Tansa Nasibaka Minaddunya akhirnya jarang dan bahkan sudah tak pernah lagi nongkrong bersama.

Setelah sampai di Hik, sambil menunggu pesanan. Kami melanjutkan obrolan tadi dan Wasis menceritakan isi percakapan dengan Pak Dhe via telpon tadi. Beberapa isinya, Rektor Unter tersebut berangkat, setelah acara dari Kasunanan selesai. Dan berangkatnya selain dengan kita bertiga juga bersama rombongan Mas Wisnu dan Mas Arif. Lha itu yang menjadi soal, berapa jumlah rombongan Mas Wisnu dan Mas Arif? Karena beliau tak menyebutkan jumlah rombongan. Untuk memastikan jumlah rombongan yang ikut. Wasis bertanya ke Mas Wisnu melalui pesan whatshap untuk menanyakan berapa jumlah rombongan yang akan ikut. Tak lama kemudian pesan tersebut di jawab Mas Wisnu dan yang berangkat berjumlah empat orang (Mas Wisnu, Mas Arif, Aji dan Bayu adik Mas Wisnu) plus Pak Dhe.

Dengan segala pertimbangan akhirnya kami putuskan untuk tak berangkat. Pertama, Pak Dhe mengajak keluarganya untuk berangkat pitulasan, seperti bulan lalu. Kedua, pernah terjadi kejadian yang lucu dan tak mengenakan bagi kami saat mau berangkat rutinan ke Kasihan. Di saat itu seperti biasanya, kita mau berangkat ke Jogja. Di kediaman Pak Dhe kami ngobrol terlebih dahulu sambil nunggu beberapa dulur-dulur yang belum datang. Setelah ngumpul dan menjalankan sholat Isya di masjid, kita bersiap-siap berangkat ke Jogja. Sambil menuju ke depan beliau menyuruh saya untuk duduk di depan dan menyerahkan kunci ke Ibeng yang biasanya nyupiri kami ketika menghadiri rutinan ke Jogja. Ini ada yang aneh, biasanya beliau selalu di depan, kok saat itu aku yang disuruh duduk di kursi depan. Ternyata keanehan tersebut terjawab, ealah ternyata Pak Dhe tidak ikut berangkat dan menitipkan salam ke kita semua untuk Simbah. Piye perasaanmu nek ngono kui lur….?

Atas pertimbang itulah kami putuskan tidak jadi berangkat. Sembari menghabiskan hidangan yang sudah di pesan dan mencari berbagai dalih yang menyakinkan untuk tak jadi berangkat. Di tengah-tengah obrolan kami, saya teringat bahwa dompet saya berada di saku celana yang tadi siang saya pakai. Alhamdulillah saudara-saudara saya tidak jadi hatrik buat SIM dan STNK lagi.  Setelah menemukan alasan yang kuat, akhirnya Wasis pun mengirimkan  pesan untuk memberitahukan ke beliau bahwa kami tak jadi berangkat. Pesan tersebut tak langsung di respon oleh beliau, mungkin masih sibuk lobby-lobby tingkat langit. Akhirnya kami bertiga kembali ke kontrakan. Setibanya di kontrakan saya langsung mengecek dan memastikan dompet saya. Ternyata betul ada di saku celana.

Sebenarnya sih, sedari awal saya teringat tidak membawa dompet, perasaan saya tak begitu risau seperti pertama kalinya kehilangan dompet ataupun ketlisut beberapa minggu. Karena saya memiliki 3 SIM dan 2 STNK. SIM dan STNK yang terbaru saya taruh di jok sepeda motor dan SIM yang lama saya di pinjam anak kontrakan. Jadi yang ada ada di dompet saya SIM dan STNK yang lama,   kartu ATM, KTP, dan kartu-kartu lainnya  dan sejumlah uang yang kira-kira untuk makan seminggu atau dua minggu. Atau bahkan dengan uang tersebut bisa untuk  makan sebulan  lebih. Itu pun kalau saya tak malu jika setiap hari makannya di warung makan dekat kontrakan. Sebab sang pemilik warung makan menganggap kami (anak-anak kontrakan) seperti keluarga sendiri. Sehingga ketika kami makan disitu sang pemilik warung makan tak mau menerima uang kami alias gratis…tis…tis. Karena berhubung rasa malu bin perkewuh  alias clingus saya cukup tinggi. Maka uang tersebut saya cukupkan untuk dua mingguan saja lah.

Yakin Mesti Mangkat Mertombo

Walaupun kami saat itu memutuskan tak jadi ikut dan kembali ke aktivitas semula (Wasis lanjut ndesain, saya asyik membaca berita di Hp dan Rafi kembali ke kampus), sedari awal saya yakin pasti nanti jadi berangkat mertombo ke Kasihan. Di tengah asyiknya kita berdua dan kesibukan kita masing-masing, keyakinan saya terjawab dengan Hp Wasis berdering. Saya sudah tau dan menanyakan ke Wasis apakah itu telpon dari Pak Rektor Unter Solo, Wasis pun menjawab hoo kie kang. Akhirnya Wasis pun mengangkat telpon tersebut. Saya sambil sedikit tertawa mendengar percakapan tersebut, walaupun suaranya kurang begitu jelas. Akan tetapi inti dari percakapan tersebut ajakan berangkat dan sedikit “ Loundryan” dari Dhe Herman. Untung sek di Loundry udu aku he he. Kowe ncen martir sejati kok Sis, mayoritas sedulur-sedulur penggiat yo ngakoni atas kemartiranmu. Salut aku ro kowe he…he. Mari saudara-saudara kita berikan applause dan doa agar kordinator Penggiat ini yang ngaku mirip Duta Shela on 7 ini segera di wisuda. Kemudian yang paling utama segera dan menyegerakan nglamar si doi. Aamiin.

Setelah percakapan tersebut selesai dan saya memastikan ke dia tentang berangkat ke Jogja, kemudian aku menelpon Rafi yang lagi di kampus untuk segera siap-siap. Lalu kita berdua ke kampus untuk njemput Rafi  dan langsung menuju ke rumah Dhe Herman. Selang beberapa saat kemudian setelah kami (Mas Wisnu, Mas Arif, Pak Dhe, Saya, Wasis, Rafi dan Aji) ngumpul semua, kita masuk mobil satu persatu dan langsung cus ke jogja, sembari di tengah perjalanan menghampiri Bayu yang nunggu di pinggir jalan sekitar kampus UMS .  “Ojo di padhake koyo numpak truk, iso mlebu bareng-bareng ko bak samping kiwo-tengen lan ko mburi. Iki mobil alus lho ndhe…, neng body mobil sek bagian mburi ko pabrike di tulisi  P.A.J.E.R.O  S.P.O.R.T ndhe… ndhe… dadi nek mlebu kudu siji-siji lan wajib ngati-ati. Nek enek sek rusak, biaya ndandani sek rusak mau di ijoli duitku sek dinggo biaya urip setengah tahun mbuh iso nyukupi mbuh ora”.

Skip… skip.. skip… cerita kami nyampai di lokasi 17an sekitar jam 11 malam. Setelah mobil di parkirkan. Semua rombongan langsung diajak ngisi perut di hik depan Mushola TK Alhamdulillah. Sambil duduk diatas sandal dan bersandar Pagar tembok TK Alhamdulillah dengan di temani segelas jeruk anget, gorengan dan rokok, saya menyimak dengan seksama pembacaan Tetes dari jamaah yang di pandu Mas Helmi dan Mas Jamal. Setelah semua totalan, Pak Dhe pamitan menuju kedalam ruang transit untuk berkumpul dengan para Hokage-hokage maupun Sanin-sanin yang ada di dalam. Masing-masing dari kami pun melanjutkan pesan sesuai kebutuhan perut. Gak enak lah “wis nunut ora iuran bensin, mangan di bayari, mosok rep njikuk okeh, terus  akhlake  neng ndi jal… tapi ya piye meneh nek rep mbayari haqul yakin tiwas di dukani Pak Dhe”.

Setelah selesai makan “CAT RICE”,  rintik-rintik hujan mulai turun, sebagaian jamaah yang mertombo, ngangsu kaweruh dll mayoritas masih bertahan di tempat semula dan sebagian mencari tempat untuk berteduh. Itu merupakan hal yang biasa di jumpai saat acara sinau bareng di mana pun tempatnya, ketika hujan masih ada jamaah yang bertahan di tempatnya. Seperti yang sering di ungkapkan Simbah, setiap tetesan hujan yang menimpa diri kita, merupakan berkah bagi kita. Mungkin itulah yang membuat mereka masih bertahan dan tak pindah tempat. Sehubung dari awal sampai lokasi sinau bareng,  saya sudah di whatsap Mas Icon agar kami nemani beliau.

Sesi pembacaan Tetes sudah selesai, Mas Helmi pun mempersilahakan Simbah beserta para Narasumber naik ke atas panggung untuk memulai sesi ke dua. Malam itu Simbah melambari dengan berbagai macam ilmu. Namun yang saya bisa tangkap topik sinau bareng pada malam itu, menggali khasanah filsafat atau keilmuan timur yang sudah lama terpingirkan oleh keilmuan barat. Secara sadar atau tidak sadar, tau atau tidak tau, kita telah melupakan atau meninggalkan dikit demi sedikit khasanah keilmuan timur dari diri kita. Nek tidak salah lho ya, menurut beberapa literature yang dulu saya baca dan hasil diskusi, bahwa pondasi keilmuan barat saat ini berasal dari hasil-hasil keilmuan timur. Misalnya saja Teori evolusinya Darwin, sebagian besar sudah di nyatakan oleh ilmuwan muslim Ibn Miskawiah dalam bukunya yang berjudul al-Fawz al-Asghar.  Ibn Rusyd dengan bukunya al-Kulliyat fi at-Tibb yang merupakan pondasi ilmu kedokteran saat ini. Ibn Khaldun dengan bukunya Muqqadimah mempengaharui perkembangan ilmu sosial hingga sampai saat ini. Tentunya masih banyak lain yang tak bisa saya sebutkan karena lupa dan belum tau.

Malam itu saya begitu antusias menyimak penyampaian-penyampaian dari Mas Sigit yang menceritakan penelitiannya tentang kekayaan nusantara yang sengaja di sembunyikan oleh mbah-mbah kita pada zaman dahulu. dr. Edot menceritakan kejumudan ilmu kedokteran barat dan mereka sedikit demi sedikit mulai mengadopsi metode pengobatan dari timur. Dan para Begawan-begawan Kiai Kanjeng yang menceritakan pengalaman mereka saat bersentuhan dengan dunia mistik, seperti menangani kesurupan, di gangguan makhluk halus dan lain sebagainnya.

Alhamdulillah, niatan mertombo saya ke Kasihan diijabahi oleh Gusti Allah. Bukan hanya fisik saja yang mendapatkan suplemen, namun non-fisik saya pun juga mendapatkan tambahan suplemen. Entah saya terlalu ke-PD-an atau gimana, saya merasa mendapatkan ijazah dari Simbah tentang “nganu”.  Karena sedari awal berangkat, saya menyimpan sesuatu hal “radak nganu” bagi saya, di tengah-tengah jawaban Simbah atas tiga pertanyaan dari jamaah. Seolah-olah beliau mengerti apa yang ada dalam batin ku, dengan beliau memberikan ijazah tersebut. Setelah mendapat ijazah tersebut saya merasa senang “nganu” saya di jawab oleh Simbah. Mungkin jika ada kesempatan dan di berikan izin oleh Allah, kita akan kembali bertemu kembali melalui tulisan tentang mistisme. See you next time, kisanak… wkwkw

Wahyudi Sutrisno

Tulisan terkait