Menu Close

Belajar Memanusiakan Manusia

0Shares

Dari sekian banyak hal yang di taddaburi dalam berbagai acara dan kesempatan yang sempat saya ikuti, tidak banyak yang benar – benar bisa saya pahami. tapi ada satu hal yang menancap kuat dan menghujam dalam di hati dan fikiran saya,  yang butuh waktu lama bagi saya untuk benar benar memahami  tentang pola guru saya ini dalam berkomunikasi dan  berinteraksi dengan siapa saja yang ia jumpai.

Satu – satunya yang saya bisa berusaha meniru dan ikuti adalah sikap  ” memanusiakan manusia ” yang dalam istilah bahasa jawanya ” nguwongke uwong “.  Untuk satu hal ini saja saya merasa sering lalai  yang dalam istilah pembelaan diri biasa disebut ” khilaf “.  Betapa sulitnya bagi saya setiap saat berusaha belajar menjalani sikap  ” nguwongke uwong ” ini dan lalu bersembunyi dibalik kata khilaf itu tadi.

Tidak jarang saya menyaksikan bahasa tubuh serta tutur sapa yang begitu tepat disampaikan kepada siapapun saja orang atau kelompok atau golongan dari kalangan apapun yang ada di hadapannya dan berinteraksi dengannya. Sama sekali tidak terlihat akting ataupun kepura – puraan dari setiap  gerak maupun perkataannya.

Seakan – akan sikap ” nguwongke uwong ” itu sudah melekat erat sebagai kebiasaan atau bahkan mungkin bisa dibilang (nyuwun sewu) gawan bayi atau bawaan dari lahir, karena  begitu natural dan jauh dari kesan basa – basi.

Sebenarnya ada hal lain yang nyantol dalam benak saya, dari begitu banyak tetesan – tetesan ilmu yang terus menerus merangsang setiap sel otak ini untuk menyimpannya ke dalam memori. Seperti salah satunya adalah dalam istilah saya ” Menanam, menanam dan menanam “. Yang setahu saya, untuk hal apapun dalam hidup ini yang paling pantas dan paling maksimal yang bisa kita lakukan hanyalah “Menanam”. Menanam benih – benih kebaikan, sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Hanya menanam, karena untuk urusan tumbuh, berkembang sampai menghasilkan bukan kita yang menentukan. Tumbuh, kembang apalagi hasil adalah efek otomatis yang pasti terjadi  sepanjang yang kita tanam adalah benih kebaikan dengan cara menanam yang baik pula.

Namun untuk seukuran saya masih jauh dari urusan tanam menanam ini,  bisa menanam sedikit saja sudah gembedhe sombong saya nanti.  makanya saya tidak berani merasa sudah menanam. Lha wong untuk belajar ” nguwongke uwong ” itu tadi saja saya masih tingkat preschool. jauh dari contoh apalagi  sampai bisa benar benar murni tanpa basa basi. untuk menghibur diri saya selalu ingat kata orang “lebih baik terlambat daripada tidak berangkat”.

Sebagai penutup saya mengucapakan ” selamat belajar ” untuk diri saya sendiri, dan untuk kita semua yang mau untuk terus belajar.

Ariyanto

Tulisan terkait