Menu Close

Pelit Pada Diri Sendiri

0Shares

Irit dan romantis itu beda-beda tipis. Seperti yang sedang saya rasakan saat ini. Semenjak punya buntut (baca. istri), kami berdua selalu setia untuk makan bersama. Untuk makan, satu orang satu porsi. Tapi untuk minum beda. Tidak demikian. Kita berdua sepakat, tanpa hitam diatas putih untuk membudayakan satu gelas minuman untuk berdua. Kalau istri sedang pengin mimik es teh, ya suaminya ngikut. Giliran suami pengin lemon tea hangat, istrinya genti yang ngalah. Indah. Sungguh-sungguh indah.

Asyiknya, kebiasaan ini pun berlaku ketika kita njajan diluar. Mau makan di warteg, angkringan, warung soto, bakso, nasi padang, tenda lesehan sampai resto dipusat perbelanjaan tetap saja kami memesan satu gelas minuman. Ya satu saja. Satu untuk berdua. Ameh di grenengi porah. Hora masalah. (Hehe)

Buat kami, satu gelas diminum berdua itu super romantis. Bukan sekedar ngirit. Yo jane ngirit sih tapi ada sisi romantisnya. Jika kita mau menelisik, melihat dari angle  berbeda, ada kedahsyatan disana. Bahwa meminum satu gelas berdua itu termasuk sunah Kanjeng Nabi. Pernah diriwayatkan suatu ketika Aisyah Ra meminum air digelas. Melihat air dalam gelas itu tidak habis, maka Rasulullah lantas meminum air tersebut tepat dibagian bekas bibir sang istri saat mereguknya. Oh so sweet. Itu romantis banget men. Beneran. Mungkin apa yang dilakukan Rasulullah tersebut sepele. Namun aslinya jero. Memuat cinta yang mendalam. Bahwa memanjakan dan memperlakukan mesra seorang istri itu mulia. Mendatangkan pahala. Membukakan pintu rizki. Dan tentunya menambah keharmonisan hidup berumah tangga. Luar biasa.

Selain alibi ngirit, berkat perlakuan mulia Kanjeng Nabi itulah saya coba meng-ittiba’inya.

“Ngirit itu boleh, yang ndak boleh itu pelit. Tapi kalau pelit kepada diri sendiri itu ilmu tingkat tinggi”. – ungkap Mbah Nun suatu waktu.

Irit, ngirit, hemat, tidak boros itu sebagian dari iman. Tidak boros disini berlaku dalam segala hal. Banyak sekali contohnya. Saat berwudhu gunakan air secukupnya. Matikan lampu jika tidak digunakan. Makan ketika lapar, berhenti sebelum kenyang. Kalau sudah punya satu istri tidak usah nambah lagi. Tapi kan boleh poligami. Kalau ente sekelas Nabi silakan. Tapi kalau iman masih abal-abal mending jangan. Ujung-ujungnya bisa berantakan. Kok malah bahas poligami sih. Piyitikih.

Kembali ke tema. Kalau ngirit sudah berhasil diterapkan, selanjutnya kita menuju level pelit. Ini lebih sulit. Maksudnya disini pelit kepada diri sendiri. Kalau ngirit, misal kita makan diwarung ada banyak pilihan lauk ; ayam, bandeng, kikil, tempe, rendang, telur, dan kita hanya memilih ambil tempe sebagai lauknya. Cukup.

Tapi kalau pelit, maksud hati ingin beli baju baru, tapi njuk kelingan kalau dirumah masih ada baju layak pakai. Ya sudahlah ndak usah beli dulu. Mungkin bisa lain waktu.

Jelas sekarang bahwa pelit itu ilmu tingkat tinggi. Memerlukan latihan, pengorbanan dan ‘rem cakram’. Sebab hidup kita ini banyak sekali diliputi keinginan. Pengin ini, pengin itu, pengin itu-ini. Kalau cuma pengin, tidak dipenuhi itu tidak apa-apa. Semisal siang hari cuaca terik, sumuk, haus, tenggorokan kering kerontang dan paling enak minum es degan. Kalau bisa beli dan keturutan Alhamdulillah. Tidak pun ya tetep Alhamdulillah. Karena masih bisa diganti dengan minum air putih. Es degan dan air putih berfungsi sama. Sama-sama menghilangkan rasa haus. Begitulah keinginan. Dituruti tak apa-apa. Tidak dituruti yo gak pethekén. Tidak menimbulkan kerugian/ permasalahan. Beda dengan yang namanya kebutuhan. Makan itu kebutuhan. Jika sudah waktunya makan ya harus makan. Perutnya segera di isi. Kalau sampai tidak makan maka akan menimbulkan kerugian. Badan lemas, perut melilit, sakit, kelaparan, parahnya lagi bisa modar. Naudzubillah min dzalik. Seyogianya kita semua paham, mampu untuk membedakan dan memetakan mana keinginan, mana kebutuhan.

Ada satu yang mesti digaris bawahi. Sikap pelit ini hanya berlaku untuk diri kita sendiri. Tidak kepada yang lain. Kepada orang lain dilarang pelit. Kita harus lomö alias suka memberi. Apalagi kepada istri sendiri. Juga kepada orangtua, kerabat dan sanak saudara. Istri pengin plesir ke Bali sebisa mungkin dituruti. Syukur bisa dinego. Gimana kalau plesirnya ke Paris (maksudnya : Parangtritis), kayaknya disana lebih romantis. Ini strategi. Managemen cinta ala suami. (Hihi)

Pun ketika sowan ke tempat orangtua. Jangan datang dengan tangan hampa. Bawa oleh-oleh yang disukai mereka. Saat pulang ojo lali ngamplopi. Sebagai tanda cinta dan bhakti. Berikutnya jika ada teman, saudara atau tetangga yang sedang kesusahan segera ulurkan tangan. Mungkin bantu tenaga, uang, barang dan apa saja yang sekiranya dibutuhkan. Kalau ada pengamen, pengemis meminta-minta ya dikasih aja. Dan seterusnya.

Lha wong Gusti Alloh saja Maha Pemberi. Masak kita nggak. Mana yang bukan pemberian Tuhan?? Nyawa, akal, indera, jantung, udara dan semua yang kita miliki saat ini tidak lain adalah kado kemurahan hati sang Illahi.

Allah dikenal memiliki 99 nama mulia. Asmaul Husna. Dari 99 sifat mulia tersebut sejatinya Allah mengabarkan kepada kita bahwa Allah adalah sebaik-baik Pemberi. Dan Ar Rahman – Ar Rahim menjadi ikon-nya. Ar Rahman berarti Maha Pengasih. Allah memberi kasih secara luas. Global. Universal. Diperuntukkan siapa saja. Manusia, hewan, tumbuhan, sampai makhluk yang paling mikro pun semua mendapatkan cipratan Rahman-Nya Tuhan. Sedangkan Ar Rahim Maha Penyayang. Allah memberikan cinta dan sayangnya secara mendalam. Hanya kepada orang-orang pilihan. Orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tentu sebagai hamba Allah, makhluk ciptaan Tuhan, sudah sewajarnya kita menduplikat sifat Pemurah, Pemberi, Pengasih dan Penyayang yang diajarkan oleh Tuhan. Intine OJO PELIT. Silakan pelit pada diri sendiri. Belajar mem-puasa-kan diri dari segala keinginan duniawi. Pelit dalam nyandang, pangan, papan. Hemat secara tepat, cermat pada tempatnya.

Sedang kepada yang lain, kita harus senang berbagi. Gemar memberi. Memberi tidak harus materi. Bisa ilmu, saran, nasihat, pengalaman, persaudaraan, solusi, peluang, ketrampilan atau minimal senyuman. Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah. Memberilah seperti kita membuang sampah. Lupakan. Tinggalkan. Jangan disebut, dibahas apalagi diungkit-ungkit lagi. Percayalah Malaikat tak akan alpa mencatat. Semakin kita hobi berbagi, ndak itung-itungan dalam memberi. Maka kepada kita, Allah akan jauuuuuh nggak itung-itungan lagi dalam memberi. Wow ngeriii.

(Tuulijul-laila fin-nahaari wa tuulijun-nahaaro fil-laili wa tukhrijul-hayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-hayyi wa tarzuqu man tasyaaa`u bighoiri hisaab)

Artinya :

“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan (hisab).”
(QS. Ali ‘Imran : 27)

Gemolong, 25 November 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait