Menu Close

Sunyi Membawamu Lebih Cepat Bertemu Tuhan

0Shares

“Sunyi, membawamu lebih cepat bertemu Tuhan.”

Penggalan puisi gubahan Mbah Nun di atas masih jelas membekas. Dalam benak, urat nadi, menep didasar lubuk hati. Manusia di dunia sejatinya hidup sendiri. Ijen. Tak berteman. Tak berpasangan. Ia hidup sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Teman hanya menemani sebentar. Keluarga, saudara, tetangga hanya ada sementara. Pun pasangan hanya mendampingi selama batas waktu yang telah ditentukan. Selebihnya manusia adalah sendiri.

Manusia awalnya tidak ada. Lalu diadakan. Ditiadakan lagi. Untuk kemudian diadakan (dibangkitkan) lagi. Menuju abadi. Akhirat. Kholidina fiha abada. Satu-satunya yang Maha Ada adalah Allah. Selain Allah tidak ada. Hanya diada-adakan. Akan punah. Lenyap. Musnah.

“Sunyi, membawamu lebih cepat bertemu Tuhan.”

Dunia hanya senda gurau. Sandiwara belaka. Serba sementara. Apa yang tidak sementara didunia ini??

Makan steak itu enak. Enak ketika dilidah. Ada rasa gurihnya, sedap, crunchy, dlsb. Namun setelah makanan dikunyah lembut dan masuk tenggorokan, enak itu mendadak hilang. Tak terasa lagi enaknya. Hilang begitu saja. Enaknya makan sangat-sangat sebentar.

Memenangkan suatu perlombaan jelas membanggakan. Dapat piala, medali, piagam, hadiah dan uang pembinaan. Rasa bangga itu muncul sesaat nama kita diumumkan sebagai pemenang lewat pengeras suara. Dan kebanggaan memuncak tatkala kita berdiri di podium. Menerima medali atau trofi lalu kemudian kita mengangkatnya tinggi-tinggi. Applause menggema. Menggemakan nama kita. Namun setelah riuh rendah reda, kita turun dari podium, kebanggaan itu berangsur pudar-sirna. Semua kembali seperti semula.

Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Ketika kita sedang naksir seseorang maka otak-hati ini isinya cuma dia. Berbagai cara dilakukan untuk merebut simpatinya. Membuat hatinya kepincut. Bertekuk lutut. Mulai dari kirim kata mesra, perhatian, ngasih hadiah, ngajak jalan, nonton, makan dll. Pokoknya selama bersama dia hati ini bahagia. Sampai hari itu tiba. Rasa cinta itu diungkapkan. Meminjam istilah kids zaman now ditembak. Bila pernyataan cinta itu diterima, surga dihadapan-nya. Hati berbunga-bunga. Jiwa melayang ke angkasa. Namun setelah beberapa hari, semua jadi biasa-biasa saja. Justru asyiknya orang jatuh cinta itu ketika sedang ngoyak-oyak gebetan. Ada gairah dan semangat membara disana. Namun setelah jadian-cinta diterima, tiba-tiba gairah itu kendur. Semangat meluntur. Tidak tahu lagi apa yang hendak diperjuangkan. Kesenangan jatuh cinta ternyata tak berumur lama.

Kita pasti setuju berjima’ itu nikmat. Berjima’ di sini tentu dengan istri sendiri. Jangan sama istri tetangga. BAHAYA! Nikmatnya adalah ketika proses foreplay (pemanasan) sampai mencapai klimaks. Setelah ‘cairan’ itu, maaf muncrat, maka seketika nikmat itu lenyap. Langsung terkapar. Terkulai lemas. Dan kenikmatan bercinta itu paling lama berkisar 15 – 30 menit. Kalau bisa tahan berjam-jam, berarti anda hebat. Jagoan. Dan khusus ‘urusan ranjang’, saya sama sekali tidak punya pertahanan yang kuat untuk ‘tempur’ berlama-lama. Tidak apa-apa. Sungguh, nikmat bercinta hanya sementara saja.

Yang namanya enak, kebanggaan, kesenangan, kenikmatan dan apa saja yang bersifat ke-dunia-an, semua hanya berlaku sesaat. Sebentar. Sementara. Tak bertahan lama.

***

“Sunyi, membawamu lebih cepat bertemu Tuhan.”

Kawan, mari menepi. Menyendiri dalam sunyi. Kita asingkan diri dari keramaian. Kita menjauh dari ingar-bingar. Kita mengurung diri dari sorak-sorai, dan kita porah-kan segala gegap gempita, gemerlap dunia.

Menepi, menyendiri, dapat ditempuh banyak cara. Sesuai kemampuan dan kepekaan diri kita.  Kalau simbah-simbah (wali, kiai, sesepuh) kita dulu, punya kebiasaan bersemedi. Alias berdiam diri. Topo broto–Nglenggono. Bahasa kekinian-nya meditasi. Dengan posisi duduk, bersila, tenang, khusyuk, tak gerak, tak bersuara. Mereka dapat merasakan getaran. Mampu mendengar, mengenali dan mengerti yang sejati. Suara alam, suara Tuhan dapat jelas diperdengarkan.

Namun bila itu dirasa berat untuk dijalani. Cobalah lelaku yang lain. Yang mudah dan sederhana adalah sholat malam dirikanlah, dzikir malam perpanjanglah. Kemudian ‘berdialoglah’ langsung dengan Tuhan.

Kalau itu pun tak sanggup dilakukan. Cobalah keluar ditengah malam. Tengoklah langit, bulan, bintang. Rasakan sapuan angin, udara, gelombang, yang menerpa badan dan dedaunan. Siapakah gerangan yang menciptakan dan menggerakkan. Disaat kebanyakan manusia sedang terlelap, Dzat Allah tetap terjaga. Ia tak pernah tidur. Terus menerus mengurus seluruh makhluk-Nya.

“Allohu laaa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qoyyuum, laa ta`khuzuhuu sinatuw wa laa na`uum”

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. -(Al Baqarah : 255)

Sejenak sepi sendirilah. Sunyi, akan membawaku—membawamu lebih cepat bertemu Tuhan.

Gemolong, Jumat dinihari (O8 Des 2017)

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait