Menu Close

Ora Penting Menang-Kalah, Berjuang!

0Shares

Seorang anak manusia, umpamanya lahir dan dibesarkan di sebuah pelosok kampung, ditakdirkan oleh Allah untuk memiliki kecerdasan dan kepastian intelegensi melebihi anak lainnya yang lahir dan tumbuh di sebuah Istana.

Pada suatu hari si cerdas itu berdiri di tepi pintu gerbang sebagai satpam, dilewati oleh ‘si tak cerdas yang dengan gagah berjalan -misalnya- sebagai Gubernur, Siapakah yang salah dalam hal demikian?”

Demikian sebuah petikan dari Markesot Bertutur sembari duduk-duduk sore diteras. Fokus saya mendadak teralihkan ketika ada rentetan migrasi semut yang berbondong-bondong pindah ke tempat lebih tinggi. Meskipun langit masih cerah, namun peristiwa ini merupakan wisik, bahwa segera turun hujan lebat, bahkan banjir. Memang tak bisa dipungkiri hujan datang demikian lebatnya, seharian penuh, hingga luapan bengawan maupun sungai kecil sontak meluber sampai belakang rumah saya.

Lalu timbullah berbagai pertanyaan soal semut, siapa yang menggerakkan perpindahan semut? Teknologi apa yang ditanamkan Tuhan ke makhluk mungil itu, hingga mampu digerakkan sampai tataran Reti sakdurunge Winarah. Lalu bagaimana dengan waktunya? Kok bisa pas, kecepatan semut yang lambat, migrasi total pasukannya, hingga hujan lebat menjelang? Siapakah yang menciptakan momentum tersebut? Atau kalau Nabi Sulaiman mampu berbicara dengan binatang, siapakah diantara kita yang mengamati semut, atau hal-hal kecil yang sebenarnya sangat banyak ilmunya jika mau menelisik lebih dalam.

“Manusia dewasa ini seperti terseret ombak, bahwa segala sesuatunya harus besar, segala sesuatunya harus mewah, segala sesuatunya harus Glamor jika ingin mendapatkan “cap sukses” lalu semut-semut tadi terpinggirkan, padahal dari sanalah sebenarnya muara Ilmu juga bisa mengalir.”

Perjalanan sunyi terus mengalun, sesudah hujan lebat malamnya masih gerimis, lewatlah Penjual Bakso di depan rumah, dengan berbekal wisik semut tadi sore, untuk memulai nyari ilmu, pesanlah saya satu mangkuk Bakso.

Sambil duduk di teras bapak penjual menunggu saya selesai makan, terciptalah obrolan-obrolan ringan yang bagi saya pribadi adalah Ilmu tingkat Dewa. Bagaimana tidak bapak penjual ini Imannya terhadap rejeki Gusti Allah sudah seperti momentum semut tadi. Berangkat sore, tanpa kepastian laba apapun di depan mata, mendapat laba 1000-2000 per mangkuk, Niatnya berjualan selesai ketika berangkat dari rumah, segala sesuatunya siap, takarannya siap, harganya jelas. Tinggal menelusuri jalan sunyinya, Memasrahkan laku-tidaknya bakso, Rejekinya mutlak pada Sang Khalik.

Penjual Bakso ini dari caranya berbicara, caranya menerangkan hidupnya, juga level keimanannya mungkin adalah salah satu dari ‘si Cerdas’ tadi, meski nasib kaya secara material belum berpihak padanya. Dan di sepanjang perjalanan jualan baksonya, sangat mungkin bapak ini ketemu “si tak cerdas – tak cerdas itu dalam berbagai versi. Kalau  meminjam istilahnya Markesot “Tapi siapa yang harus disalahkan? Siapa yang mengatur peran?”

Cerita lain adalah mas-mas ojek online, yang berangkat pagi-pagi buta hingga menyandarkan bahunya ketika malam menjelang. Mas Ojek online ini bukan tidak berpendidikan, dalam beberapa hal saya berguru pada beliau, tapi siapa yang mengijinkan dia harus mengitari jalanan demi makan? Siapa yang menciptakan kondisi Hidup yang demikian? Atau bertanya siapa yang disalahkan? Bukankah semua ini tidak lepas dari tangan Sang Khalik, tapi kenapa seakan tidak adil menurut kacamata dunia?

Kembali ke “ilmu” tadi, soal Manajemen mas ojek online ini jangan diremehkan, diapun sangat cerdas memahami pola jalanan, menentukan waktu, tempat, dandan rapi dan wangi, Memetakan jalan tikus supaya cepat sampai tujuan dan segala persiapan lainnya. Sisanya biar Tuhan berkehendak menentukan ramai tidaknya orderan, cukup tidaknya untuk makan dan kebutuhan perhari, kadang berlebih kadang nyaris sepi.

Tapi apa yang didapatkan si pelaku Lakon ini? di penghujung obrolan setidaknya bisa saya tangkap bahwa, dialektika hidup terus mengalir Hingga segala sesuatunya terus terasah. Ini mungkin yang disebut-sebut kalangan akademisi sebagai “Intuisi”.

Akhirnya Pak Tukang bakso ini jadi tahu di desa tertentu, di rumah siapa saja dan titik mana saja yang baksonya laris keras, Atau mas Ojek online tahu kalau pagi harus di titik ini, dimana tempat yang menjadi langganan, dan seperti digerakkan untuk terus efisien, sisanya tentu waktu untuk menemani istri dan anaknya di rumah, atau mengembangkan diri menjajal kemampuan yang lain, mencari ilmu dari buku-buku atau bertemu bersilaturahmi ke rumah teman dan saudara. Lalu hidup tidak melulu soal pencapaian, namun Menjalani lakon yang digariskan, tentunya juga memaknai sebuah perjuangan.

Seperti Markesot memberi kunci :

“Sejarah dan Tuhan tidak mencatat kemenangan dan kekalahan, tapi yang dicatat adalah perjuangan itu sendiri”

(Markesot Bertutur, Hal.136)

Selamat menikmati perjuangan, perjalanan, perpindahan, sebagaimana semut tadi di tengah jalan pasti akan menemui Momentum, entah rejeki, jodoh, karir, ilmu, dan tentu adalah Kematian sebagai puncaknya.

Kleco Wetan, 10 Desember 2017

Indra Agusta

Tulisan terkait