Menu Close

Kurang Apa?

0Shares

Minggu pagi, selepas melepas obrolan berat dengan teman dari bogor menyoal khilafah. Menikmati perjalanan dini hari menuju rumah dengan sepeda. Ah, sebuah perjalanan yang menyenangkan untuk lelaki penggangguran seperti saya.

Di sudut emperan toko dekat Masjid Raya menjelang subuh, bapak dan anaknya terlelap berbantal lengan. Sepeda butut berisi sampah sisa gegap gempita malam minggu, di depan untuk menutupi rebah mereka.

Sang Anak tidur beralaskan kresek bekas,  sang Ayah terlihat begitu nyaman dengan udara dan keramik yang tak kalah dinginnya.

Manusia kadang seperti belantara, terseok-seok oleh keadaan, tergilas pedang jaman, namun  dibalik rimbunnya seperti ada keteduhan yang menenangkan, lelap.

Lantas siapa yang melelapkannya? Yang tertangkap dalam batin adalah manifestasi Cinta Tuhan terasa begitu mesra membuai semua ciptaan-Nya, dalam tidur dilupakannya sejenak berat beban dalam mengayuh umur yang dititipkan.

Saya sama sekali tidak merasa lebih baik dari bapak tadi, karena cuma dari melihat tidurnya saja cukup untuk mengantarkan diri saya pada kehebatan ilmunya, ilmu yang berasal dari-Nya.

Ilmu yang nyata soal kewajaran, kesederhanaan, cinta, juga perjuangan bertahan di negeri Ironi.

Negeri yang sedemikian kaya namun rakyatnya mengais sampah demi menyambung nafas. Hanya nafas, bukan persoalan jabatan, bukan persoalan melanjutkan jenjang periode kekuasan, hanya nafas dan tenaga untuk mengais sampah lagi.

Ah, pagi menjelang nampak semakin nikmat karena ilmu yang tercurah, juga betapa lebih rendahnya saya yang masih tidur di kamar nyaman. Sementara ketika saya bergegas pejam, mungkin bapak tadi sudah mengais nafas lagi, atau saking lelapnya tidur akan dibentaki manusia-manusia yang menganggap bapak tadi tak lebih seperti apa yang dicarinya.

Demikiankah?

Lalu kurang apa manusia diberi semua karunia, namun tak mampu menikmati cumbu cinta-Nya pada mahkluk ciptaan yang begitu disayanginya.

Fajar memerah, Mari, bergegas…..

 

Tulisan untuk kekasih Allah dijalanan

Sragen, 28 Januari 2018

INDRA AGUSTA

 

Tulisan terkait