Menu Close

It’s About “Kentut”

0Shares

Tut tut tut metuo
Ning njero dadi loro
Ning njobo roh padhang howo…

Paragaf diatas adalah sebuah tembang, yang kerap didendangkan Ibu saat saya kecil dulu. Tembang tersebut dinyanyikan bilamana perut saya sedang sakit. Kembung, mual, begah atau mulas. Perut rasanya kruwel-kruwel tapi susah kentut. Melilitnya setengah mati. Dan saya yakin, kita semua pernah mengalami. Jadi, translate dari tembang diatas adalah berikut ini ;

Tut tut tut keluarlah
Didalam jadi penyakit
Diluar bisa merasakan hawa segar

Tut tut itu maksudnya entut (jawa) alias kentut. Dulu, setiap perut saya mules dan ndak bisa kentut, maka Ibu seketika mengelus-elus perut saya sembari mendendangkan lagu tersebut. Hebatnya, tak lama kemudian gas-gas yang bau itu keluar berhamburan. Makbruulll. Lega saudara-saudara.

***

Sepekan terakhir ini, pekerjaan saya di Sekolah menumpuk. Diluar jadwal rutin mengajar sebanyak 25 jam dalam seminggu, saya juga diamanahi tugas untuk menghandle tiga kegiatan sekaligus. Pertama, menjadi koordinator tim publikasi PPDB (Pendaftaran Peserta Didik Baru) tahun ajaran baru 2018/19. Kedua, ditunjuk sebagai seksi acara Lomba Kreatifitas Anak (LKA), dalam rangka memeriahkan proses penjaringan siswa didik baru. Dan yang ketiga, dipasrahi langsung oleh Ibu Kepala Sekolah untuk melengkapi sarana dan prasarana Perpustakaan sekolah yang rencananya pada bulan April 2018 mendatang akan diikutkan lomba Perpustakaan tingkat kabupaten. Beban tapi tertantang. Lelah tapi ini amanah. Dengan segala daya-upaya, satu persatu tugas saya jalankan bergantian. Satu selesai, lanjut yang berikutnya.

Bekerja ekstra dalam seminggu nyatanya sangat melelahkan. Menguras keringat, pikiran dan tenaga. Dan karena saya bukan robot made in Japan, akhirnya tumbang juga. Seluruh badan pegal-pegal, meriang, ngilu, lungkrah. Masuk angin sudah. Puncaknya pada hari Sabtu lalu (27-1-2018).

Sepulang dari rumah teman, saya langsung ambruk dikasur dan tepar. Kepala nggliyeng, pinggang cekat-cekot dan perut kembung ndak karuan. Oleh istri, saya dikeroki (kerikin). Dipijit-pijit, dielus-elus. Yang paling saya keluhkan adalah perut. Perut rasanya begah, seperti penuh banyak angin. Istri saya mengoleskan minyak angin diperut suaminya. Banyak dan rata.
Namun seperti tak bereaksi. Saya ubah posisi. Yang tadinya mlumah telentang, sekarang gantian miring ke kiri dan ke kanan. Tidak ada perubahan. Saya akhirnya ndhodog alias duduk jongkok. Tetap tidak mau keluar itu angin sialan. Setengah frustasi, saya coba dengan posisi njengking ; pantat diatas, kepala dibawah. Persis ketika kita sedang sujud sholat. Sial, si gas brengsek (baca.kentut) tetap ngeyel nggak mau minggat dari sarangnya. Apa boleh buat, saya terkulai lemah dan kembali ke posisi awal mlumah. Istri saya masih setia mengelus-elus perut saya. Sambil umak-umik, mulutnya seperti merapal doa-doa. Atau malah mungkin mbatin (bicara dalam hati) ;
“Dasar kentut tidak tahu diri. Enyah kau dari perut suami.” – Entahlah!

***

Tapi entah kenapa, tiba-tiba ada sekelebat wajah Ibu saya. Makclap. Melintas dalam benak. Jelas. Sangat jelas. Oh Tuhan, ada apa gerangan…
Saya terperanjat. Lantas teringat akan jurus maut yang pernah diajarkan Ibu untuk mengusir kentut. Ya, tembang itu. Tembang legendaris. Ampuh dan sakti. Telah teruji. Sudah terbukti. Diawali dengan Bismillah, saya lantunkan tembang sakti itu lirih. Penuh penghayatan dan harapan. Sembari mengelus perut sendiri. Tak lupa saya turut membayangkan wajah sang Ibu tercinta.

Tut tut tut metuo
Ning njero dadi loro
Ning njobo roh padhang howo…

(Tut tut tut keluarlah
Didalam jadi penyakit
Diluar bisa merasakan hawa segar)

Pelan-pelan. Berulang-ulang. Lagu itu saya senandungkan. Dan Subhanallah, ajaibnya tak berselang lama gas-gas karbondioksida itu keluar dan menimbulkan aroma yang tak sedap. Berdentum berkali-kali.

€=€×€°€={
{€©{©}{{}}}£}}}}….
{££™©™℅[©=¢{{{{£{{£……

Alhamdulillah. Lega. Perut plong. Lubang dibawah rasanya kembali bolong.
***

Soal kentut saja kok ditulis. Diceritakan. Apa hebatnya? Nggak ada menarik-menariknya. Loh, ini bukan soal hebat-hebatan. Bukan urusan menarik atau tidak menarik. Bukan!

Ini soal keyakinan. Yakin bahwa ucapan Ibu adalah doa. Doa sakti mandraguna. Tidak percaya, boleh dicoba. Menembangkan lagu pengusir kentut adalah salah satu cara seorang Ibu berdoa. Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan doa seorang Ibu hampir 99% didengar Tuhan. Lantas dikabulkan. Hal semacam ini memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Cukup dengan yakin dan Bismillah.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan penting. Bahwa peran Ibu sangat vital bagi anak-anaknya. Sejak dulu sampai kapanpun. Cinta Ibu sepanjang jalan. Tak berujung. Ibu bisa berperan sebagai guru, dokter, dukun, polisi, sopir, bodyguard dan apa saja untuk anak-anaknya. Semua yang ada pada Ibu adalah doa kebaikan dan keselamatan bagi sang buah hatinya. Ya kata-katanya, nasihatnya, gesturnya, perlakuan sikapnya dll. Sampai-sampai Rasulullah Muhammad Saw bersabda ;

“Surga itu ada ditelapak kaki Ibu.”

Maksudnya, surga (kebahagiaan) atau neraka (kesengsaraan) seorang anak tergantung ridho sang Ibu. Kalau anak patuh-Ibu ridho maka InsyaAllah ‘surga’ yang didapat. Namun bila anak durhaka-Ibu murka maka ‘neraka’ yang diperolehnya. Entah didunia maupun akherat. Sebagai seorang anak tak ada pilihan lain selain sami’na wa atho’na (kami dengar, kami taat) kepada orang tua.
***
Kembali ke kentut. Eh, ke tema awal maksud saya. Kentut memang hal sepele. Remeh dan tidak penting. Tidak banyak orang yang mau membahas atau menulis babakan kentut. Namun jangan salah. Meski terkesan sepele, kentut sungguh sangat bermakna dalam keberlangsungan hidup kita. Bayangkan, jika dalam beberapa jam saja kita tidak bisa kentut. Pasti kita sudah bingung. Sambat kemana-mana. Tersiksa luar biasa. Apalagi nggak kentut seharian. Bisa kacau ini perut. Parahnya, kalau kentut tidak mau keluar, bisa jadi kita mesti dilarikan ke Rumah Sakit. Dirawat, disuntik, diopname bahkan mungkin dioperasi. Jangan sampai itu terjadi.

Dari hal sepele yang bernama kentut, sejatinya kita bisa belajar hikmah. Bahwa kentut itu nikmat. Rezeki. Anugerah dari Tuhan. Bisa kentut itu Alhamdulillah. Pertanda bahwa tubuh kita ini sehat. Harus disyukuri dan syukuri. Bagaimana mungkin kita akan mensyukuri nikmat yang besar, kalau nikmat yang kecil-remeh-sepele (kentut) saja kita abaikan. Jangan dikira yang kecil itu tidak ada. Jangan dianggap yang tak tampak itu tidak berarti apa-apa. Kentut salah satunya.

Kentut itu abstrak, kasat mata, tetapi ada bunyi dan getaran-nya. Kentut itu tidak kelihatan. Tak berwujud, tak berbentuk. Namun tercium aromanya. Dengan kata lain kentut adalah sesuatu yang ghaib.

“Allaziina yu`minuuna bil-ghoibi wa yuqiimuunash-sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquun”
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” – (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 3)

Salah satu ciri orang bertakwa ialah percaya kepada yang ghaib. Firman Allah yang tertuang dalam surah Al- Baqarah. Dan kentut itu ghaib. Tak terlihat, tak tersentuh, tak terjamah. Lalu bagaimana dengan Allah? Bukankah Allah juga sang Maha ghaib. Adakah korelasi antara kentut dengan Allah?? Silakan cari jawabannya sendiri.

Buat saya sederhana saja. Setiap kali kita kentut, hendaknya dapat membawa diri kita untuk lebih dekat dan bersyukur kepada-Nya.

Bruuttt….., ups maaf (Alhamdulillah).

Gemolong, 5 Februari (dinihari) 2018
Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait