Menu Close

Menikah, Cinta Manusia, atau Ambisi Keluarga?

0Shares

Memasuki usia 27 tahun pemuda seperti saya pasti mengalami ‘turbulensi’ alam berpikir sebagai seorang manusia otentik juga sebagai bagian dari keluarga.

Menikah, adalah part yang harus dilalui setiap manusia jawa, yang tak jarang di usia yang demikian krusial ada banyak tekanan yang dialami manusia supaya segera mengalaminya.

Saya sendiri mengamati berbagai banyak pokal manusia soal ruwetnya proses perjodohan. Bagi saya pribadi pernikahan adalah perjalanan satu kali jalan yang tidak ada tiket kembali. Saking demikian seriusnya hingga harus benar-benar memilih mana yang bisa saya ajak “piknik selamanya”. Dan pernikahan harus merupakan proses saling mengenal yang mendalam hingga terciptalah keyakinan dan komitmen untuk bersama.

Selain umur yang menuju tua, tak jarang dalam berbagai pengamatan saya adalah terlalu ikut campurnya orang tua dalam menentukan siapa “jodoh yang layak” untuk kita. Yang hasilnya kebanyakan standar yang diberikan oleh orang tua hanya berhenti pada standar Material.

Orang tua hanya akan setuju bila kita mencari jodoh yang kaya (secara material), pangkat (secara kekuasaan, punya jabatan, punya gelar, punya power) ,sisanya adalah euforia orde Baru, cari jodoh harus PNS, jodoh PNS ini masih seperti berhala baru yang dipuja kalangan keluarga feodal (maupun yang ingin menjadi feodal).

Di pengamatan yang lain, cari jodoh harus yang punya usaha mapan (perusahaan, toko, atau bisnis lainnya. Materialistis. Itu pointnya. Soal un-material seperti akhlak, kelakuan, tingkat penguasaan ilmu, cinta-kasih, kedekatan emosional, hingga sekedar teman sharing seumur hidup. Hal-hal ini sedikit sekali yang dipertimbangkan sebagai landasan inti sebuah perjodohan.

Lebih edan lagi, ada pernikahan-pernikahan tertentu yang hanya menjadi pemanis ikatan bisnis keluarga, mempertahankan feodalisme, hingga pernikahan politis untuk kelangsungan dinasti politik tertentu.

Jadi kembali ke esensi pernikahan, Apa yang menjadi inti dari sebuah pernikahan, orang-orang dahulu akan menyebut “Nambut silaning Akrama” yang sekarang menjadi “akrami” dibeberapa undangan pernikahan.

Nambut adalah nampani (proses menerima dengan tangan terbuka, seperti memegang nampan), Silaning adalah duduk bersila, Akrama/Palakrama inilah pernikahan.

Diterjemahkan bebas sebagai proses penerimaan Sang Lelaki oleh orang tua Wanita, untuk sila (duduk bersila) lalu melangsungkan ikatan janji pernikahan mereka yang sudah saling mencintai.

Itu saja tanpa tendensi apapun, tanpa kepentingan apapun, tresna. Titik. Proses sederhana menjadi manusia yang sewajarnya tanpa bedak polesan keglamoran semata.

Dalam bahasa yang lebih radikal, saya akan bilang mending anak-anak yang pacaran saking cintanya + tanpa kontrol lalu hamil, dinikahkan plus mendapat cacian masyarakat lebih baik. Karena mereka menjalani hidupnya jujur, berani mengambil keputusan, berani bertanggung jawab.

Daripada mereka yang memperlakukan cinta kasih dan bahkan nafsu seksual sebagai tumpangan, tunggangan keleanggengan dan kemapanan eksistensi keluarga. Mengaku cinta tulus namun syarat kepentingan, pernikahan sangat megah namun pelaku pernikahan bahkan sama sekali tidak kenal baik dengan calonnya. Ambisi keluarga.

Kalau meminjam tetes mbah Nun :

“Jauh lebih tinggi derajat para perampok yang ia sendiri dan semua orang melihatnya sebagai perampok, dibanding para perampok lain yang orang-orang dan diri mereka sendiri melihatnya sebagai pemimpin bangsa dan kyai masyarakat.”

Akhirnya kejujuran, ketulusan, kemurnian itu menjadi barang langka dalam sebuah hubungan. Keseimbangan untuk tetap menjadi diri sendiri menjadi nilai yang sangat sulit ditemukan di kehidupan sehari-hari

Dan anak-anak yang diperjodohkan seringkali dalam kesesatan berpikir karena ditabrak juga oleh usia dan tekanan keluarga, akhirnya mengalah atau mencari jodoh ” seadanya, seketemunya “.

Yang dalam pengamatan berikutnya ada rentetan masalah yang panjang didalam keluarga mereka, mereka yang beruntung akan stress dan merasa tersiksa karena perjalanan hidupnya penuh topeng gula pemanis keadaan.

Sisanya hanya merekalah yang meneruskan proses feodalistik ini, menikmati keuntungan, kekuasaan, proyek, hasil lacur korupsi dari apa yang direncanangan oleh keluarganya.

Lalu kembali ke pertanyaan awal

Menikah itu karena ketulusan cinta?

Atau ambisi keluarga?

Mari meneliti…

Kleco Wetan, 6 Februari 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait