Menu Close

Rumah Tanpa Sekam

0Shares

Di ujung padi yang menghijau, ada gugusan-gugusan bintang menjelang malam. Anak manusia masih duduk-duduk di pematang membayangkan masa depan negeri yang semakin kelu seperti masa depan jasadiyahnya.

Angin datang membawa Air, saudara yang dari kandungan semesta, yang berhembus menghampiri nusa. Ada geliat  embun yang makin menusuk di pagi menjelang, juga dekapan-dekapan membeku di kala resah memandang sisa terakhir susu anaknya yang masih terhutang.

Di jalanan jutaan manusia bergerak, memperjuangkan dirinya, mengaktualisasi dirinya, menjadi meja,kursi, lemari, TV, dipan bahkan kompor supaya dilihat orang bahwa mereka ada memenuhi seisi rumah.

Lalu mereka menghamba pada pilihan-pilihan, pada keputusan-keputusan. Keputusan yang membuat petani tertawa girang beserta katak di penghujan, sementara semalam ratusan rumah terendam pesan murah, dimana air mulai menghujam.

Cacing-cacing menggelepar ketika surut gelombang, para alim ulama dan sufi meneriakkan lantang, Siapa yang akan menghalau perang?

Perabot-perabot mengklaim dirinya yang paling berguna, sebagai alat masak, sebagai alat transportasi, sebagai pengisi kursi sang tuan, berebutan mereka mengambil langkah menuju gagasan “Menjadi Panglima”.

Emas-emas digali dari seisi rumah, di sepanjang jalan tanah, tawar-menawar dalam gelap begitu rapat, memikat sekaligus mengikat.

Ada apa di rumahku?

Tampak merah warnanya, berbau darah, berebut bilah. 

Semua kembali pada nyala, namun si La Nyalla dihilang kan atau menghilang

Rayap-rayap dikonsepsi, diagitasi, diintimidasi, direkayasa cintanya, dimanipulasi batinnya, hingga lupa kepada siapa yang layak meraja?

Aku duduk diam dipinggir kolam, melihat mereka yang layak menjadi imam dihitamkan, mereka yang layak jadi guru malah diburu, mereka yang jadi cendekia dirayu dibuatkan sanggar petapa.

Apa ini yang terjadi?

Arus mana yang akan mendominasi?

Sementara bau hadap-hadapan kian tegang,

Siapa yang mau merindukan “Rumah tanpa sekam”?

arus banjir masuk dari belakang rumah, sementara seberapa siap, manusia mengkhalifah?

laron-laron itu bergerak menuju cahaya, dan Waspada….

Sungai Mungkung, 21 Januari 2017

 Indra Agusta.

Tulisan terkait