Menu Close

Ngelmu Vs Pendidikan (Nafsu) Orang Tua

0Shares

Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara.

Demikian petikan bait serat Wedhatama karangan Raja Mangkunegara ke IV. Yang menyiratkan makna bahwa dalam mengais ilmu memang harus menjalani lelaku. Proses ini yang otentik menjadi acuan masyarakat jawa dalam mendidik seseorang. Namun wajah pendidikan kita sepanjang yang saya amati tak lebih dari proses perintah, tugas, dan eksistensi. Sangat minim saya temukan proses lelaku, anak-anak hanya mengalami proses doktrin, tanpa elaborasi lebih lanjut.

Tugas-tugas yang kemudian diberikan tak lebih hanya sebagai pra-syarat sebuah angka. Namun ketika saya mencoba bertanya kembali soal kemungkinan lain dari tugas yang dikerjakan, anak-anak itu seperti buntu, tidak punya pendapat lain selain apa yang kurikulum ajarkan.

Beruntung banyak orang tua minimal masih melanjutkan tradisi jawa, yang terus menerus ngugemi sebuah laku. Sekecil gadis yang disuruh membantu ibunya memasak, akan diberi hal-hal kecil seperti mencicipi masakan, apakah terlalu asin atau kurang pedas. Mencicipi inilah yang merupakan lelaku hingga nanti sampai meracik bumbu sayuran sendiri, bukan karena resep (teori) namun lebih mengedepankan proses nyata dan menemukan hakikat dari ilmu membuat sayuran yang enak. Hal-hal seperti ini pula yang ditulis Jitul sebagai proses penelitian :

“Sejak bayi, manusia menjalani waktu dan kehidupannya, tak lain untuk meneliti “

Yang kelak dari lelaku ini harapannya anak-anak ini akan memiliki kemampuan mengelaborasi tiap masalah, dan menyelesaikannya sendiri dengan penuh perhitungan yang matang sekaligus memetik ilmu dari berbagai ragam peristiwa yang dialaminya.

Masalah yang saya amati berikutnya tentu adalah banyaknya dukungan moril maupun materil terhadap pendidikan anak hanya berupa pemaksaan terhadap anak agar manutdengan keinginan orang tua. Mulai dari sekolah dimana, les dimana, jurusan kuliah sampai pekerjaan yang didambakan harus manut orang tua. Anak-anak ini banyak yang resah, bahkan melawan karena tidak menjadi dirinya sendiri, tak jarang jatuh ke ranah yang sama sekali tidak diinginkan.

Ironisnya, ketika perlawanan anak-anak ini berujung pada kenakalan remaja banyak orang tua tidak merasa itu hasil dari pingitan­­-nya, kebanyakan justru langsung menyalahkan lingkungan, atau sekolah yang tidak mampu mendidik. Lalu penanggulangannya juga sama sekali tidak efektif, memindahkan ke sekolah lain misalnya, atau rupa-rupa kepalsuan lain yang dibawa sang anak hingga dewasanya, tidak mengerti apa yang seharusnya dimengerti.

Anak-anak bukan kendaraan yang dinaiki oleh ambisi orang-orang tua.“

Demikian tulisan Simbah dalam sebuah Daur

Sangat beruntung mereka yang mengenal Maiyah, Simbah seringkali bercerita soal mendidik anak seperti proses angon, bocah iku ditutke mlakune. Bagaimana memperlakukan anak adalah mengenali kecenderungan kesukaan, potensi, bahkan Simbah tak jarang berkata bahwa Anak-anak saya juga adalah guru saya, dari mereka juga saya mempelajari banyak sekali ilmu yang original.

Menjadi manusia yang otentik, itu yang berkali-kali diomongkan oleh Mbah Nun. Karena dari situlah muara ilmu, sumber kesehatan, sumber kewaskitaan, dan banyak kebaikan lainnya untuk tubuh secara jasad maupun psikis. Asal Rohaninya bener, psikis dan fisiknya akan mengikuti, proses mendidik dan mengenali ilmu secara jujur dan tidak mengekang inilah yang membawa pada otentisitas, kondisi dimana yang terbaik yang Tuhan rahmati untuk menjalani kehidupan. Yang kelak ketika mereka dewasa mereka menjadi expert  karena mereka menyukai apa yang mereka kerjakan, mereka terbiasa meneliti sejak kecil, terbiasa berpendapat sejak kecil, dan bertumbuh maksimal sebagai manusia sewajarnya, bukan Ambisi orang tua, bukan nafsu kepentingan, gengsi sekolah atau kepentingan tertentu.

Akhirnya saya tutup dengan kata-kata Pak Roem Topatimasang :

“Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, setiap buku adalah Ilmu”

Mari menyusuri dan mengenalkan lelaku….

Kleco Wetan, 13 Januari 2018

Indra Agusta

Tulisan terkait