Menu Close

Barokah Day Jilid 3

0Shares

Pasca menikah, banyak sekali hal-hal tak terduga menghampiri saya. Bahkan mengejutkan. Aneh tapi nyata. Nyleneh tetapi fakta.

Sebentar, kita semua yakin dan sepakat bahwa namanya jodoh, rezeki, pati ada di Tangan Allah Swt. Itu tak bisa lagi ditawar, ditunda, diubah, maupun dinegosiasikan. Itu mutlak, hak prerogatif Tuhan.

Saya membayangkan, andai saat ini juga saya bisa melihat adegan reka ulang kejadian demi kejadian yang dulu pernah saya alami. Khususnya ketika masa SMP dulu. Kenapa? Karena diam-diam, di masa SMP itulah Allah telah mengatur satu dari sekian banyak skenario tentang siapa jodoh saya.

Gejala atau tanda tersebut seolah ‘terbongkar’, beberapa waktu lalu. Semua berawal ketika saya dan istri mengikuti acara Jalan Sehat dalam rangka HUT PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Kecamatan Gemolong yang ke-65 (28-11-2017).

Jalan Sehat dimulai pukul 07.00 pagi. Dimana pendopo Kecamatan Gemolong menjadi titik kumpul peserta, sekaligus start dan finishnya. Usai menyampaikan sambutan singkat, bapak Camat mengangkat bendera tanda Jalan Sehat dimulai.

Rute Jalan Sehat sepanjang 3 Km. Mengelilingi pusat kota Gemolong dan sekitarnya. Di tengah jalan, panitia membagikan kupon undian kepada seluruh peserta Jalan Sehat. Katanya sih, hadiah utamanya ada mesin cuci dan sepeda gunung. Mendengar selentingan begitu, saya cuma mesem sendiri. Asli, saya pribadi sama sekali tidak tertarik, model bagi-bagi hadiah dengan cara diundi. Yang begitu itu hanya faktor lucky. Bejo-bejonan thok. Nak bejo yo oleh, nak ora yo modaro. (Hehe)

Selang satu setengah jam, satu persatu peserta tiba digaris finish. Disambut alunan musik dangdut oleh biduan lokal yang manis kinyis-kinyis. Panitia membagikan snack kepada peserta yang duduk lesehan, leyeh-leyeh sembari menyeka keringat dan meregangkan otot-otot kaki.

Tak lama kemudian, sesi undian kupon dimulai. Saya cuek, ngeloyor  mengajak teman mencari panggonan yang bisa buat duduk dan ngudud. Sedangkan istri saya dengan setia menunggu di dekat sumber suara, berharap akan dapat satu hadiah utama. (Haha). Namanya juga ngarep, boleh kan ya…

Satu jam, dua jam berjalan. Namun sesi undian belum juga kelar. Mendadak perut saya lapar. Setelah tengok kiri, tengok kanan, Alhamdulillah ada penjual siomay langganan saya sejak SMP dulu sedang mangkal ditepi jalan. Namanya pakde Karman.

“Assalamualaikum pakde?”

“Walaikumsalaaam, ndherek Jalan Sehat mas?”

“Njeh pakde. Iseng-iseng berhadiah.” (hehe)

“Njenengan sakniki ngasto pundi tho mas?”

“Mriku, SD kidul pasar.”

Obrolan demi obrolan seketika buncah diantara kita. Perlu diketahui, bahwa pakde Karman ini penjual siomay yang sudah saya kenal sejak SMP. Siomay-nya legend. Enak, khas dan murah. Ditambah orangnya yang ramah, grapyak, lucu dan lomö (tidak pelit). Jadi setiap beli, saya selalu minta imboh-bonus/ tambahan. Dengan senang hati pakde Karman pun memberikan-nya.

Tidak ada yang berubah pada diri pakde Karman maupun siomay-nya. Menu dan rasanya sejak dulu sampai sekarang tetap sama. Nikmat. Sambalnya juga. Lezat dan bikin ketagihan. Menunya macem-macem, ada siomay, kentang, kol, pare, tahu dan telur. Selain menu dan cita rasa yang masih sama, bentuk wajah dan model dandanan pakde Karman juga nggak ada yang berubah. Perasaan, dari dulu wajahnya ya begitu itu. Ora maleh blas. Awet muda pokoknya. Pun atribut yang dikenakannya. Seperti biasa, memakai kaos lengan pendek, handuk kecil melingkar dileher dan topi yang dibalut dengan helm bathök hitam. (Bulat, menyerupai bathök kelapa). Oh ya, hanya satu yang berubah. Jika dulu pakde Karman berjualan keliling kampung dengan mengayuh sepeda onthel. Kini beliau tampak lebih gagah menggunakan motor merk Honda.

Belum selesai makan, tiba-tiba HP saya berbunyi. Istri WA saya. Menanyakan saya sedang ada dimana.

“Lagi maem siomay, sinio.” – balas saya.

Drama pun terjadi. Tak disangka, istri saya langsung menyalami pakde Karman dan mereka pun terlibat perbincangan hangat.

“Pakde, pripun kabaré?”

“Alhamdulillah, wehh.., wis lulus tho, kerjo ngendi sakniki mbak?”

“Teng SD pakde. Nembe kok.”

(Saya mlongo dan bertanya-tanya)

Lho….lho….lho…..lho…..

Sik…..sik…sik……

Sebentar…..sebentar……

“Pakde, jenengan kenal ini?” (menunjuk ke istri saya)

“Yaa kenal, wong mbaké ini sering jajan siomay ket SMP. Ning les-lesanNing ndalanNing endi wae nak weruh mesti jajan.”

Tenane dhe??”

“Iyo mas, senengane podo sampeyan, kol karo kentang.”

“Iki bojoku dheeeeeee……” (Spontan, kita bertiga kaget lalu ngguyu terpingkal-pingkal)

Aneh tapi nyata. Nyleneh tetapi fakta. Tibaknya alias ternyata, istri saya juga pelanggan setia siomay pakde Karman. Kehebohan kala itu benar-benar mengejutkan. Surprise, lucu, cair, tak terduga, pecah, pokoknya nggak bisa diekspresikan dengan kata-kata. Sebagai bonus, atau mungkin kado buat kita berdua, pakde Karman menggratiskan dua porsi siomay yang tadi kita makan. Kenyang. Gembira. Alhamduillah, menikah membawa berkah.

***

Benar jodoh di Tangan Tuhan. Sudah diatur disana sedemikian rupa. Yang namanya jodoh pasti berpasangan. Berkaitan satu sama lain. Ada kecenderungan yang sama dalam berbagai hal. Sebagai contoh, kejadian yang telah saya dan istri alami berdua. Kita punya selera makanan yang sama, pada penjual yang sama pula. Dan itu terjadi lama sebelum kita dipertemukan (baca.nikah). Sudah barang tentu itu bukan kreasi manusia. Melainkan murni kuasa Tuhan Yang Maha Esa.

Jodoh itu misteri, sakral, tapi lucu kadang. Gimana nggak lucu, suami-istri terbukti sama-sama suka siomay pada pedagang yang sama. Bertahun-tahun. Sampai akhirnya Tuhan membongkarnya. Pada tempat dan waktu yang tak terduga. Siomay telah menjadi satu ‘saksi’, dalam sejarah perjalanan cinta kami.

Mohon maaf, kalau saja diizinkan, saya ingin sekali datang ke meja Redaksi Tuhan. Mengusulkan satu nama lagi Asmaul Husna. Yakni Allah Maha Humor. Eitts, jangan sembarangan kalau ngomong. Emange Gusti Allah pelawak? atau komedian?? Lohh, bukankah banyak sekali kelucuan-kelucuan yang tersaji disekitar kita. Setiap hari. Setiap saat. Setiap jam, menit, terjadi silih berganti. Entah berasal dari diri kita sendiri maupun orang lain. Allah menciptakan manusia-manusia Srimulat, Benyamin Sueb, Kirun-Kholik-Bagio, Dono-Kasino-Indro, dan sebagainya itu kan dengan tujuan. Yakni untuk melucu, menghibur, berhumor ria, agar siapa yang melihat dan mendengarnya tertawa. Sehingga hatinya gembira. Bukankah itu pekerjaan yang mulia. Logikanya, kalau ada manusia-manusia ‘lucu’ macam diatas, itu artinya Allah sendiri pasti lebih ‘lucu’ dibanding mereka. Sebab Allah yang menciptakan mereka. Pencipta pasti lebih hebat dari ciptaan-Nya. Lebih jago, lebih mahir, lebih unggul dan lebih segalanya.

Mbok menowo usul saya ini diterima, atau malah mungkin sebaliknya. Tuhan menempeleng kepala saya.

***

Tuhan, maafkan kebodohan dan kelancangan saya. Saya berbicara seperti ini tidak lain atas dasar cinta. Cinta pada keagunganMu, cinta pada skenarioMu, cinta pada kejutan-kejutanMu, cinta pada kasih-sayang dan cintaMu. Sungguh sangat gembira saya menyaksikan itu semua. Dan terimakasih atas nikmat, karunia jodoh serta rizki yang Barokah ini.

Bukankah dunia ini tak ubahnya permainan dan sendau gurau belaka. Maka izinkan saya ‘bergurau’ mesra denganMu, dengan sepenuh cinta.

Gemolong, 10 Januari 2018

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait