Menu Close

Mie Ayam Tanpa Ayam

0Shares

Siang itu tidak ada yang istimewa. Nasi hangat masih ada. Lauk pauk beserta handai taulan-nya tersedia. Air minum, dingin ada, hangat ada, tinggal nanti maunya yang gimana. Cemilan, kerupuk, kudapan ringan, makanan penutup, buah melimpah ruah. Sayang, hanya satu yang belum ada, yaitu mie ayam. Saya punya kemampuan untuk mencari-cari yang tidak ada. Makanan banyak, tapi yang dicari mie ayam. Itu kemampuan yang salah jalan. Mbok yao makan seadanya. Disyukuri. Dinikmati.

Jiwa raga saya masih belum selesai soal makan. Mesti ada saja alasan untuk memakan yang kita harus bersusah payah lagi mendapatkannya. Harus beli lagi. Harus berkorban mengeluarkan uang lagi. Punya istri terampil memasak itu anugerah lho sebenarnya. Istri berkemampuan masak itu poin penting dalam peradaban manusia di dunia. Anak-anak akan tertangani dengan baik kesehatannya. Selain sehat, anak-anak juga diajak untuk hemat, cermat, dan bersahaja. Bukan berarti kalau istri nggak pandai masak terus dikatakan musibah. Ya nggak gitu. Kalau memang kurang bisa masak, ya mau diapakan lagi. Pasti ada kelebihannya.

Istri saya cenderung terampil memasak sekarang. Tapi siang itu seperti ada dorongan kuat dalam diri saya, agak ngeyel, harus makan mie ayam. Konteksnya harus.

“Beli di Bang Luki. Jam sepuluh sudah bukak.”

“Ya udah beli sana. Tapi aku udah masak buat kamu lho. Kalau mau beli mie ayam ya nggak apa-apa. Beli dua sekalian. Makanan yang di rumah buat nanti malam.”

Bang Luki. Warungnya sekitar tiga ratus meter ke arah utara dari kontrakan saya. Bang Luki tergolong masih baru membuka warungnya. Belum ada satu tahun. Menu andalannya adalah bakso dan mie ayam. Padahal kalau ditelaah, bakso dan mie ayam itu agak kurang nyambung dikit lho. Kalau di Pati sana, kalau jual bakso ya bakso aja. Kalau mie ayam ya mie ayam aja. Ini sudah bakso, mie ayam pula dijualnya. Bahkan muncul semacam hibrida baru hasil perkawinan bakso dan mie ayam. Sudah pada akrab kan dengan yang namanya MieSo. Harganya lebih mahal dari bakso ‘murni’ dan mie ayam ‘murni’. Bakso yang banyak dijual kan berbahan dasar daging sapi ‘asli’. Sedang mie ayam bisa dipastikan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen, menggunakan daging ayam. Janin usia tujuh bulan juga tahu itu lah ya. Kan aneh ya? Ada sapi bercampur dengan ayam. Saya bayangkan, ini saya sendiri lho ya, nggak tahu kalau panjenengan, MieSo ada itu karena pada suatu hari ada sapi nekat melamar ayam untuk dinikahi.

“Emoooh…”

“Kukuruyuk?”

“Emoh emoh emooooh….”

“Kukuruyuuuukkk….?”

“Emoh. Emoh.”

“Kuku… kukuruyuk?”

“Emoh. Emoh.”

“Kukuruyuk.”

“Emuuuuoooooohhhhhh…..”

Terjemahan bebasnya seperti ini.

“Ayam…”

“Iya Sapi ada apa?”

“Aku suka kamu.”

“Masak?”

“Serius. Bener.”

“Gimana ya. Serius?”

“Iya. Serius.”

“Baiklah.”

“Alhamdulillaaaaahhhhh….”

Begitu anaknya lahir, namanya MieSo itu.

Tapi pagi menjelang siang itu target saya mie ayam. Bukan bakso apalagi mieso. Mie dengan kuah hangat bertabur sayuran sawi, ayam kecap, ditambah acar begitu menggoda. Mengalahkan semua menu masakan istri yang ada dapur. Dengan cekatan saya menyalakan mesin motor menuju warung Bang Luki. Sampai di warung disambut dengan permohonan maaf dari beliau. Bahwa semua menu baru siap jam sebelas siang. Sedangkan saya sudah datang jam sepuluh. Artinya saya harus memaafkan beliau. Nggak mungkin juga saya paksa Bang Luki memasak khusus untuk saya. Memang Bang Luki istri saya? Yang harus sami’na wa atho’na sama saya.

Pilihan kedua jatuh kepada salah satu warung di daerah selatan. Ada satu warung langganan di sana. Sedikit mondar-mandir sebenarnya. Tapi tak apa. Namanya pengorbanan kan ya. Sampai di warung segera saya pesan dua bungkus mie ayam tanpa micin. Rencananya siang itu saya mau makan siang bareng istri di rumah. Pesanan dengan cepat selesai.

“Saya terima dua bungkus mie ayamnya, dibayar tunai.”

“Sah? Sah?”

“Saahhh…”

Pintu rumah ku ketuk mesra. Istri sumringah. Dua mangkok kosong beserta sendok sumpit sudah tersedia. Dia tahu gimana cara membahagiakan suami. Simpul bungkus mie ayam terbuka. Dari plastik berpindah ke mangkok. Aromanya menyeruak memicu rasa lapar. Satu bungkus lagi terbuka, kali ini untuk istri saya.

“Eh ada yang lupa. Kecap.” Istri bergegas ke dapur. Sementara saya sibuk mengaduk-aduk mie ayam dengan sumpit. Saya aduk perlahan-lahan. Dari dalam ke luar. Dari luar ke dalam. Sampai tiga kali adukan sepertinya ada yang janggal. Saya tidak menemukan satu potong pun daging ayam. ketemunya hanya sawi rebus. Ini ayamnya lagi pada demo apa gimana sih? Mogok nggak mau disembelih? Ayamnya bilang, “Kok kami terus yang disembelih? Nggak ada yang lain? Kami capek tahu!”

Saya aduk-aduk. Begitu istri saya datang langsung saya interogasi.

“Coba lihat mie ayam punyamu?”

“Ada apa?”

“Ini punyaku nggak ada ayamnya.”

“Masak?”

“Coba lihat.” Mie ayam milik istri saya aduk-aduk.

Lha baj… eh nggak boleh berkata kasar ya? Mie ayam istri saya, juga nggak ada ayamnya! Saya pesen mie ayam, dapatnya mie rebus. Tanpa micin lagi. Hambar. Saya mau protes sama Tuhan tapi kok ya gimana. Tapi kalau nggak wadul ya gimana. Ya Allah, ini cuma urusan mie ayam lho. Bukan saya pengen jadi pejabat lho. Bukan saya pengen dianggap. Bukan saya pengen diajeni lho. Saya murka betul siang itu. Melihat saya murka, istri saya malah cekikikan.

“Apa?!” saya bentak istri saya.

“Apa tadi nggak kamu tungguin?” istri saya menahan geli.

“Ya… udah. Udah aku tungguin tadi. Aku berdiri deket penjualnya kok. Aku lihat dia masak mie.”

“Lha apa kamu nggak lihat ayamnya sudah dimasukan apa belum?”

“Ya… perasaan tadi ya sudah sih. Komplit. Wong namanya aja mie ayam. Masak aku tanya ke penjual, mas jangan lupa ayamnya ya. Kan aneh?”

“Aneh? Lha ini buktinya ada. Mie ayam tanpa ayam. Hayo?”

Tolong sampai disini kalau ada yang nemu faedah dari tulisan ini beritahu saya. Karena saya yakin para pembaca disini sudah disangoni ilmu hikmah. Sudah dibekali dengan metode menghubungkan sesuatu yang kelihatannya sama sekali tidak ada keterkaitan antara yang satu dengan yang lain. Tolong temukan barang satu dua hikmah atau faedah dari tulisan ini. Karena saya masih marah. Batin saya keruh. Hati saya belum selesai. Nggak seperti para pembaca yang budiman yang memiliki daya analisis mendalam dan meluas melihat satu peristiwa. Tolong bantu saya. Ini cuma persoalan mie ayam tanpa ayam. Semestaku masih seputar hal-hal kecil seperti ini. Syukur panjenengan bisa datang ke rumah. Kita diskusikan mie ayam tanpa ayam ini.

Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait