Menu Close

Catatan Penghujung Tahun

0Shares

Orang Indonesia itu nggumunan, mudah tergoda (termasuk saya), latah, dan gampang dibikin mabuk. Jadi cukup diserbu dengan iming-iming yang menggiurkan maka mabuklah semuanya. Segala macam pernik yang aduhai, gosip yang menarik, link informasi yang berseliweran di sosial media ditelan mentah-mentah oleh sebagian besar masyarakat kita. Tanpa filter. Tanpa reserve. Padahal apa saja yang hendak kita makan baiknya kita olah dulu. Digigit, dikunyah sampai lembut, baru kita telan masuk perut. Sebab kalau kita makan yang masih gelondongan, akibatnya kita akan kloloten/ tersedak lalu muntah berserakan.

Ibarat kata kalau kita mau makan nasi, maka kita harus mengidentifikasi proses terjadinya nasi. Mempelajari secara urut dan continue, mulai dari tahap nandur padi di sawah. Setelah padi menua lantas di panen. Dierek, dimasukkan ke dalam mesin perontok padi yang kemudian akan menjadi biji gabah. Selanjutnya gabah di jemur di bawah sengatan matahari, untuk kemudian dikupas pada mesin penggiling dan jadilah beras. Beras belumlah enak untuk dimakan. Maka beras mesti diayak, dibersihkan dari kerikil dan kotoran-kotoran atau ditapeni istilah orang Jawa. Sesudah itu beras dibersihkan dengan air barulah diliwet, dinanak hingga jadilah nasi yang setiap hari kita konsumsi. Jangan protes kalau kita belum tahu proses apalagi progres.

Dalam mengolah makanan atau ilmu, berita, informasi dan apapun saja, manusia telah di bekali Tuhan akal sehat. Yang namanya akal sudah pasti sehat. Sebab tidak ada akal sakit. Jadi akal manusia sudah pasti sehat jangan lagi ditawar. Ketika akal masih gamang dalam mencermati suatu hal, Tuhan lantas memberi manusia hati-rasa-feel-intuisi untuk membantu mempertimbangkan segala sesuatu yang hendak masuk dalam diri. Akal dan hati harus bersinergi. Saling bahu-membahu setiap menangkap berbagai jenis kabar dan informasi.

Jangan langsung percaya setiap kali membaca atau mendengar sebuah informasi atau berita. Baik berita yang berupa foto, gambar, tulisan atau video. Untuk membuktikan kevalidan berita tersebut, maka kita harus jeli dan detail menelusuri asal-muasal berita tersebut. Sumbernya dari mana. Terpercaya atau tidak. Penerbit dan redaksinya kredibel atau abal-abal. Berkompeten atau kelas emperan dlsb. Untuk itu dibutuhkan filterisasi dan referensi yang luas untuk mengetahui sebuah kemurnian dan kebenaran suatu berita.

***

Dua tahun terakhir ini (2016-17), Republik kita dihantam air bah polemik. Banjir fitnah. Pro dan kontra, silang sengkarut antara opini dan fakta. Muncul anti-antian. Boikot-boikotan. Hingga mencuat petisi disana-sini. Parah sekali!

Di zaman yang serba ultra modern ini justru nalar, pikiran dan sikap bangsa kita mengalami kemunduran luar biasa. Terjadi degradasi mental, dehidrasi moral, disharmonisasi keragaman sosial.

Dulu berteman tapi karena beda pendapat kemudian bertengkar. Sebelumnya adalah kawan akrab tapi karena pemahaman-nya berseberangan akhirnya saling hujat. Saling menyalahkan lalu putus hubungan. Di unfriend-unfollow lewat media sosial. Silaturahmi putus, persaudaraan hangus, perpecahan dan permusuhan kian kencang berhembus.

Teman, kawan, sahabat dan saudara sebangsa. Mari kita menepi sejenak. Meleremkan hati, menjernihkan pikiran. Men-set ulang mindset diri kita.

Mas Sabrang pernah memberikan analogi sederhana seperti ini : Semisal ada setangkai bunga, kemudian ada 10 orang yang mengerumuninya, lalu ke-10 orang itu disuruh menggambar bunga tersebut. Maka apakah hasil gambaran-nya pasti sama?? 100% kita yakin bahwa tidak ada yang sama. Bunganya cuma satu tapi hasil gambaran-nya bermacam-macam. Itulah perbedaan. Beda orang beda cara pandang. Itulah yang disebut Bhinneka. Jika kita bisa menghargai serta menikmati perbedaan itu, maka kemesraan yang terasa, Bhinneka Tunggal Ika terwujud nyata.

***

Alhamdulillah saya seorang muslim. Agama saya mengajarkan satu konsep dasar yang disebut Rahmatan Lil’alamin. Sebenarnya apa yang dimaksud konsep Rahmatan Lil’alamin itu? Dan bagaimana cara meng-implementasikan-nya??

Perlu kita mafhumi bersama bahwa Islam bukan agama teori. Melainkan praktek (output) yang keluar dalam kehidupan sehari-hari. Karena saya masih bodoh, awam ilmu agama, maka saya tidak akan berbicara memakai dalil, ayat atau hadits. Saya hanya mengajak untuk murni berfikir menggunakan logika sederhana dalam memahami konsep dasar Rahmatan lil’alamin.

Di forum Maiyahan Mbah Nun pernah menjelaskan secara gamblang tentang konsep Rahmatan lil’alamin. Bahwa orang Islam itu mengharapkan, mengupayakan dan mendoakan agar semua yang ada di muka bumi ini mendapatkan ridho Allah. Perkenan Allah. Rizki dan Rahmat-Nya Allah. Jadi kalau kita tidak mengharapkan orang lain mendapat rahmat dari Allah maka kita bisa disebut bukan orang Islam/ muslim.

“Kalau misalnya saya mengutuk anda kafir, terus saya bilang anda bakal masuk neraka dan saya gembira dengan pengetahuan saya bahwa anda akan masuk neraka maka saya bukan-lah penggiat/pejuang Rahmatan lil’alamin. Dan saya tidak mau itu.” – jelas Mbah Nun tegas.

***

Islam agama sempurna. Demikian  pula agama yang lain. Sempurna menurut pemeluk agama masing-masing. Islam dan agama lain-nya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pelaku/ pemeluknya. Alloh atau Allah tidak ada masalah. Muhammad atau Mahmed tidak masalah. Jibril atau Gabriel tidak ada masalah. Musa atau Moses, Daud atau David, Sulaiman atau Salomon, Ibrahim atau Abraham, Isa atau Yesus juga tidak ada masalah. Itu hanya sebutan berdasarkan keyakinan dan pengetahuan masing-masing orang/ agama. Kita hargai. Kita maklumi karena hakikatnya Allah sendiri tidak bernama. Allah menginformasikan kepada makhluk ciptaan-Nya dengan nama Allah, semata-mata bertujuan agar hamba/makhluk merasa mudah dalam menyebut dan mengenal siapa Pencipta-Nya.

Barangsiapa diantara kita yang telah mencapai tataran makrifat. Level iman tingkat tinggi. Maka sejatinya yang mereka sembah bukanlah nama melainkan Dzat. Allah bukan nama. Allah adalah Dzat. Tak berwujud tapi ada. Tak berbentuk tapi terasa-nyata. Wallahu’alam bisshowab.

***

Akhirnya, di penghujung tahun ini mari kita melihat ke dalam diri. Bermuhasabah. Meng-introspeksi diri sendiri. Stop fitnah, adu domba dan saling melecehkan. Kita bentangkan luas cakrawala untuk menghargai perbedaan.

Kita hapus ujaran kebencian. Kita pupus rasa dendam. Kita berangus sikap benar sendiri, intoleransi, dis-komunikasi, dis-harmoni dll. Sama-sama kita menyambut lembar tahun baru dengan goresan tinta kebaikan. Menebar inspirasi di wajah media sosial dengan prestasi, kerukunan dan kasih-sayang.

Gemolong, Penghujung Desember 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait