Menu Close

Belajar dari sang Istri

0Shares

“Kapaaan ya, bisa maiyahan bareng pasangan.”

Pertanyaan ini kerap melintas dalam benak saya. Berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun lamanya. Dan akhirnya kemarin (20 Des) pecah telur. Ketika Allah kenankan saya dan istri pergi maiyahan di lapangan Pura Mangkunegaran. Acara yang bertajuk Sinau bareng Cak Nun dan Pura Mangkunegaran tersebut diselenggarakan oleh penggiat Majelis Maiyah Suluk Surakartan.

Hari Rabu 20 Desember 2017 langit tampak mendung sedari pagi. Tanda hujan akan membasahi bumi. Benar saja. Bakda ashar, rintik gerimis mulai menerpa wilayah Gemolong dan sekitar. Menganggap hujan adalah berkah dari Tuhan, saya dan istri kompak, sepakat berangkat ke Solo pukul lima tepat. Berkostum jas hujan, kami memacu kuda besi dengan kecepatan standar. Ora wani ngasak, wedi nak ngglasar.

Di tengah perjalanan terdengar adzan maghrib berkumandang. Kami mlipir sejenak untuk menunaikan kewajiban. Sholat maghrib 3 rakaat di Masjid terdekat. Usai sholat kami lanjutkan perjalanan menuju Mangkunegaran.

Cuaca kota Solo tak jauh beda dengan wilayah utara (baca. Gemolong). Hujan sedang masih terus berjatuhan. Biar sinau barengnya ndak diganggu rasa lapar, kami pun mampir sebentar ke Swalayan. Beli kue, snack, kacang, air mineral dan tentu saja sebungkus rokok Gudang Garam. (Maaf, menyebutkan merk).

Pukul tujuh malam kami telah sampai di Lokasi. Selanjutnya kami mencari Musholla untuk sholat Isya’ bersama. Tampak dari kejauhan, panggung untuk sinau bareng kali ini tidak berukuran besar. Namun tetap terlihat cantik dan menarik. Diatas panggung terlihat sekerumunan orang beserta seperangkat gamelan. Satu per satu jamaah mulai berdatangan. Merapat, mendekat ke bibir panggung sembari menggelar tikar.

***

Buat saya entah ini maiyahan yang ke berapa kalinya. Sudah nggak keitung lagi pokoknya. Namun bagi sang istri, ini adalah pengalaman pertama dia ikut maiyahan. Dan segala sesuatu yang pertama selalu gugup. Menggebu. Bikin penasaran dan bertanya-tanya. Kepo istilah kids zaman now.

Ketika istri, saya ajak duduk dibelakang panggung, ia terus-terusan bertanya.

“Mbah Nun nanti datangnya jam berapa?”

“Nanti Mbah Nun lewatnya mana? Sini atau sana?”

“Mas Nonot itu yang mana? Terus kalau pak Munir orangnya yang mana?”

“Terus nanti Mbah Nun ceramah sampai jam berapa?”

Dan seterusnya dan seterusnya. Ada saja yang istri tanyakan kepada saya. Penting nggak penting. Baginya semua jadi penting. Dan saya maklum itu. Sebab sebelumnya ia sama sekali tidak tahu Maiyahan itu apa, Mbah Nun itu siapa. Dengan pelan dan sabar saya coba menjawab segala pertanyaan yang dia ajukan.

Sepuluh menit duduk di belakang panggung (teras kavalerri), ada seseorang yang mengantarkan segelas wedang jahe pada saya. Tidak tahu siapa namanya, namun ada ID Card menggantung di lehernya. Jelas dia panitia. Alhamdulillah. Terimakasih. Rezeki anak sholeh ini mah.

***

Jarum jam berputar. Jam delapan sampai jam sembilan. Belum ada tanda-tanda Simbah akan datang. Istri mulai nglentruk. Mripatnya ngantuk.

“Udah ngantuk?”

“Udah, tapi pengin liat Mbah Nun.”

“Sabar sebentar sayang.”

Istri saya memang orangnya ngantukan. Dia bukan tipe manusia malam. Beda jauh dengan suaminya (haha). Kalau sudah jam delapan malam matanya reflek pengin memejam. Tapi malam itu ia coba tegar, berjuang keras melawan kantuknya.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh, dan Simbah belum juga rawuh. Mata istri saya semakin memerah. Mimiknya sayu gelisah, badannya lesu lungkrah.

“Tidur saja dulu. Nanti kalau Mbah Nun datang¬†tak¬†bangunkan.”

“Nggak mau.”

Rasa penasaran dan keingin-tahuannya jauh lebih besar dari apapun. “Pokoknya pengin lihat langsung Mbah Nun.” – ungkapnya.

Akhirnya yang ditunggu tiba. Menjelang pukul sebelas malam, shalawat badar menggema menyambut kehadiran Mbah Nun beserta Kanjeng Gusti Putri dan rombongan priayi Pura Mangkunegaran naik ke panggung. Istri saya sontak berdiri, sambil jinjit-jinjit mengamati. Tak puas melihat dari kejauhan, ia pun merangsek maju ke depan. Ngematke wajah Simbah dalam-dalam, yang telah lama ia nantikan hampir empat jam (19.00 – 23.00).

Pandangannya belum beranjak dari tengah panggung. Sesekali ia pun menengok ke layar besar yang menampilkan gambar Simbah. Merasa cukup, ia lalu mundur teratur dari keramununan. Sorot matanya lega, raut wajahnya gembira meski lelah dan ngantuk jelas menggelayutinya.

Ia menghampiri saya yang sedari tadi memilih duduk lesehan dibelakang sembari shalawatan tatkala rombongan Simbah datang. Tubuhnya langsung rubuh ke pangkuan saya. Merem seketika. Tak ada suara. Tak lagi berdaya.

Ya Allah
Ya Rahman…

Entah apa yang terdapat dalam benak istri saya. Setelah melihat Mbah Nun rawuh dan lenggah di panggung ia langsung tertidur. Artinya ia tak sempat menyimak wedaran, ular-ular, buah tutur dan pendaran hikmah yang disampaikan oleh Simbah. Tapi tak apa. Sebagai calon ‘mahasiswa’ baru di Universitas Maiyah, dia (istri saya) telah menunjukkan ghirrah yang melebihi kemampuannya. Niat suci dalam dirinya untuk bersua Simbah dan menemani suami ngaji patut diapresiasi. Rasa cintanya mengalahkan lelah, letih yang mendera. Rasa bungahnya memunculkan energi yang luar biasa. Ia telah berani menyelam ke dalam maiyah. Dan maiyah telah membasuh jiwa, raga dan pikiran-nya.

Alhamdulillah. Melalui maiyah saya diajarkan kembali tentang arti sabar dan kesetiaan.

I love u honey…

Solo – Gemolong, 20 Desember 2017

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait