Menu Close

Orang Tinggi Adalah Mereka Yang Rendah Hati

0Shares

Hari Jumat 27 Oktober 2017, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin sowan ke Kadipiro. Sudah cukup lama sebenarnya Pak Menteri ingin silaturahmi kepada Mbah Nun dan baru bisa terealisasi beberapa waktu lalu. Mbah Nun selaku shohibul bait menerima pak Menteri di ruang dalam yang biasa digunakan untuk pertemuan terbatas. Tentu pak Menteri sowan ke Kadipiro tak sebatas silaturahmi biasa. Ada hal-hal yang ingin disampaikan oleh pak Menteri dan sebagai orang yang dituakan, Mbah Nun diminta untuk urun pendapat, ilmu, pandangan, kiat, gagasan maupun solusi-solusi dalam menyikapi pelbagai permasalahan, gesekan, intoleransi, konflik-konflik sosial yang tengah terjadi di masyarakat akhir-akhir ini.

Saya yang awam ini jelas tidak tahu dan juga tidak mau sok tahu tentang apa sebenarnya yang dibicarakan oleh beliau berdua. Sekali lagi maafkan. Saya disini hanya ingin sedikit menuturkan bahwa ada pendaran-pendaran cinta dan hikmah yang bisa kita tangkap dalam foto-foto kebersamaan mereka berdua yang berhasil diabadikan lensa kamera. (Silakan cek gambar di caknun.com)

Sebelumnya, apresiasi tinggi layak disematkan kepada mas Adin. Sang fotografer yang telah sukses membidik gambar-gambar brilian. Foto adalah gambar yang bercerita. Melalui foto kita bisa menangkap aura, atmosfer, dan pesan yang tersirat. Dan setiap hasil jepretan mas Adin selalu menampilkan angle yang epic, ciamik, dan artistik. Sangat menarik.

Kalau mas Helmi, mas Jamal Progress biasa bertugas mencatat reportase acara atau peristiwa melalui huruf-huruf tulisan. Maka mas Adin bertugas memaniskan tulisan-tulisan tersebut dengan gambar hasil bidikan-nya. Menarik kayaknya, kalau sekali waktu mas Adin diundang naik ke panggung Maiyahan, (Mocopat Syafaat atau Suluk Surakartan) untuk berbagi ilmu dan pengalaman selama bergelut dengan piranti kamera.

***

Pada foto yang diambil di ruang perjamuan tamu, nampak Simbah dan Menteri Lukman berbincang akrab dan hangat. Pak menteri yang mengenakan kemeja merah muda lengan panjang terlihat segar dan elegan. Sedangkan Mbah Nun memakai kemeja warna putih tanpa peci. Sehingga nampaklah sebagian rambut beliau yang memutih. Sangat pas dan pantas untuk dipanggil Simbah.

Masih dalam foto diruang terbatas, pak Menteri terlihat khidmat menyimak pemaparan yang disampaikan oleh Simbah. Dan tak lupa pula sang menteri Agama menyunggingkan senyum tanda hatinya gembira. Berbincang akrab dengan sahabat sekaligus guru juga penasihat sungguh mengasyikkan. Terlebih lagi ditemani kudapan kecil dan kopi. Nikmatnya tak tertandingi.

Selanjutnya foto yang diambil mas Adin di ruang tengah. Terdapat tiga orang disana. Mbah Nun, pak Lukman dan satunya mohon maaf saya kurang mengenalinya. Ini murni ke-katrok-an saya. Bukan salah bapaknya. Teman-teman mungkin ada yang bisa membantu saya untuk memberitahu ihwal namanya.

Lanjut. Kalau kita amati dengan saksama, foto diruang tengah tersebut memiliki kesan dan makna yang sangat mendalam. Dimana sebelum pak Menteri berpamitan, Mbah Nun memberikan buah tangan kepada beliau berupa buku. Kalau tidak salah ada 4 buah buku. Tebakan saya buku yang dihadiah-kan Simbah kepada pak Lukman tersebut adalah buku seri DAUR yang baru saja diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Yang paling mengejutkan dan bikin trenyuh ati adalah melihat gesturnya Simbah. Coba perhatikan baik-baik. Bagaimana Simbah dengan badan menunduk memberikan tumpukan buku itu kepada pak menteri Agama. Memberi kok menunduk. Apa tidak salah. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?? Begitu kira-kira kata pepatah. Dan saat itu posisi Simbah adalah memberi. Bukan yang diberi. Kalau kita yang diberi kemudian menunduk itu wajar. Sudah sepantasnya. Tapi kalau kita yang memberi, mosok kita yang menunduk. Aneh kan??

Iya aneh, kalau kita melihatnya pakai kacamata awam dan sumbu pendek. Tapi tidak akan terasa aneh jika kita mau menilainya dengan menggunakan sudut pandang, cara pandang, jarak pandang yang luas dan jembar.

Secara tidak langsung Mbah Nun telah mengajarkan kita satu pelajaran berharga melalui bahasa tubuhnya. Bahwa dalam posisi apapun, berhadapan dengan siapapun kita mesti bersikap rendah hati. Sekali pun itu memberi. Membungkukkan badan, menundukkan pandangan. Senada dengan petuah bijak Ali bin Abi Thalib :

“Berendah hatilah, sampai tidak ada satu pun orang yang berhasil merendahkanmu.”

Dan Mbah Nun telah membuktikan itu. Tersohor dimana-mana, saban hari jutaan orang mencium tangan-nya, tak terhitung lagi jumlah karya-nya, tapi Simbah tetap istiqomah. Stay cool dalam sunyi. Senantiasa berendah hati. Ibarat padi. Semakin berisi semakin menundukkan diri.

***

Allah SWT berfirman:

“Fa bimaa rohmatim minallohi linta lahum, walau kunta fazhzhon gholiizhol-qolbi lanfadhdhuu min haulika fa’fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syaawir-hum fil-amr, fa izaa ‘azamta fa tawakkal ‘alalloh, innalloha yuhibbul-mutawakkiliin”

Artinya :

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” – (QS. Ali ‘Imran : Ayat 159)

Rahmat kelembutan dan kerendah hatian dari Allah kepada kekasih-Nya Muhammad itulah yang sepertinya nyiprat ke diri Simbah. Bayangkan. Ribuan orang setiap hari berkumpul, duduk lesehan, melingkar dalam cinta-kasih dan persaudaraan. Mereka semua gembira, bersuka cita kala dapat bermuwajahah dengan Simbah. Enggan rasanya menjauhkan diri dari orang yang mereka cintai. Mereka tak ingin pisah. Betah. Berjam-jam lamanya. Memesra. Merangkai segitiga cinta (Allah, Rasulullah, hamba).

Tidak mungkin mereka tidak cinta Simbah. Tidak rindu bermaiyah. Mereka rela meninggalkan keluarga. Meluangkan tenaga, waktu, rupiah dan apa saja demi bisa hadir ber-Mauidlotil Hasanah. Karena berkah Maiyah, yang jauh jadi dekat. Berat jadi ringan. Mahal jadi murah. Susah jadi mudah. Dan seterusnya. Jika boleh berasumsi, mungkin perilaku kehidupan Simbah hari ini semacam bentuk ‘reinkarnasi’ Baginda Nabi. Wallahu’alam bis showab.

**
Perlu kita garis-bawahi, bahwa sikap rendah hati Simbah ini tidak hanya berlaku kepada pak Menteri. Dimanapun, kapanpun dan kepada siapa pun Simbah pun bersikap demikian. Baik itu kepada seorang pengamen, tukang becak, tukang parkir, penjual angkringan, petugas bandara dll. Mbah Nun sangat mudah bergaul. Bisa membaur dengan orang model apapun.

Pertanyaan-nya sekarang adalah, apakah kita bisa dan mau mencontoh perangai mulia Simbah? Mencontoh sikap kerendah hatian-nya. Sangat berat rasanya. Rasa-rasanya jarang sekali saya melihat orang yang memberi dengan cara menundukkan diri. Agaknya sebagian besar dari kita, terutama saya, sedikit saja bisa memberi sudah merasa gagah, bangga setengah mati. Bisa memberi uang kepada pengemis saja langsung besar kepala. Masukin koin di kotak amal masjid lantas pamrih mendapat rezeki balik selangit. Bisa memberi sumbangan kepada anak yatim, dhuafa, fakir, miskin, janda-janda tua, lantas diposting disosial media. Dengan harapan untuk meraup sanjungan dan puja-puji orang. Kalau sampai mendapat like sepuluh ribu maka bakal masuk sorga. Sorgané mbahmu. (Haha)

Berendah hati itu susah. Berat. Tidak instan. Butuh proses panjang dan melelahkan. Kita sebagai Jamaah Maiyah, anak-cucu Simbah seyogianya mampu mendalami, meresapi dan meneladani sikap rendah hati yang melekat kuat pada diri Simbah.

Endingnya, sebuah foto merekam dimana pak Menteri di dalam mobil New Camry mewah berplat merah, melambaikan tangan kepada Simbah. Tanda terimakasih dan sampai jumpa. Tanpa menggunakan alas kaki, Mbah Nun pun membalas lambaian mesra pak Menteri dengan acungan dua ibu jari. Yang mewakili rasa cinta, ucapan selamat jalan dan hati-hati. Menariknya, lagi-lagi Simbah menundukkan diri.

Tuhan, tidak ada lagi yang sanggup diucapkan, selain salim dan salam takdzim kami.

Gemolong, 30 Januari 2018

Muhammadona Setiawan

Tulisan terkait