Menu Close

The Other Side of ‘Metu Saka Grup WA’

0Shares

“Booss ojo dikunci stang ya booss…” kata tukang parkir di halaman Diamond Convention Centre Solo.

Istri memaksa saya untuk berkunjung ke sebuah pameran komputer beserta ubo rampenya. Termasuk printer, mouse, screenguard dan mbak-mbak penjaga loket. Istri saya yang super sangat pengertian memiliki beberapa alasan yang akhirnya saya tidak kuasa untuk menolak ajakannya. Yang pertama, saya harus punya laptop sendiri untuk kebutuhan menulis saya. Termasuk impian dan rencana mendirikan penerbitan untuk mengakomodir tulisan-tulisan teman-teman beserta handai taulan yang menurut saya unik dan memang layak untuk disebarluaskan. Saya pikir, setiap orang memiliki pemikiran dengan sudut, jarak, cara, serta resolusi pandang yang unik. Hasrat untuk memfasilitasi ide-ide liar manusia-manusia yang semacam itu masih menyala-nyala. Until now…

Sayangnya, di rumah hanya ada satu nettbook jadul miliki istri. Saya, tidak punya apa-apa. Meski jidat saya pernah dilabeli ‘penulis best seller’, sejujurnya saya baru memiliki laptop setelah dipaksa istri saya untuk beli atau lebih tepatnya dibelikan istri di pameran tahun 2017 ini. Memang dulu menulis pakai apa? Daun lontar? Sabak? Memahat di gua-gua? Ini yang sering saya bingung menjalani hidup menjadi manusia yang berkoloni di Bumi. Semua fasilitas itu saya dapatkan begitu saja. Akal saya tak mungkin sampai kalau disuruh menganalisis. Tiba-tiba saja ada orang yang memberikan kamar 3×3 meternya beserta isinya secara cuma-cuma. Di kamar itu tersedia komputer, almari, kasur, seprei, bantal, guling, rak, hanger, bendera Indonesia, sampai free wi-fi pemirsa. Mereka tidak meminta apa-apa dari saya. Bayaran sepeser pun tidak. Yang mereka minta, gunakan fasilitas yang ada sebaik mungkin. Dari situlah hasrat menulis saya terjaga sampai sekarang.

Saya dibelikan istri laptop dengan merk ASU*. Ora penak nyensore ya? Oke saya ganti. Laptop merk AS*S. Laptop yang saya gadang-gadang mampu menghantarkan saya ke gerbang Penerbitan Buku yang saya kelola sendiri. Untuk menunjang kelancaran pencapaian impian tersebut, maka saya batasi penggunaannya biar awet. Tak ada game. Tak ada koneksi internet. Pokoke hanya microsoft word seorang. Kurang setia piye coba? Hanya mengetik dan mengetik saja. Ya sesekali refreshing membuat video. Tapi yang pasti saya harus disiplin untuk membatasi penggunaannya. Godaan selalu datang. PES ngawe-ngawe. Apalagi di bulan puasa seperti ini. Menunggu buka puasa sambil main PES adalah kenikmatan yang luar biasa. Rasane pengen nginstal PES wae.

Namun, saya tak pernah lupa kisah-kisah saya dengan kemajuan teknologi dalam peradaban manusia di Bumi ini. Saya tidak begitu update dengan penggunaan, khususnya komputer, smartphone, dan sebangsanya. Untuk game komputer, saya sudah cukup bahagia bisa menamatkan game Zuma dan Air Strike. Ini yang sering berkecimpung di dunia perkomputeran pasti pahamlah ya kalau dua game itu pernah tersohor, pada masa dahulu kala. Pada zaman Dinosaurus masih bergentayangan di muka Bumi. Sampai sekarang saya belum bisa menyelesaikan persoalan Zuma ini sampai tuntas. Selalu kalah di level dua belas. Karena saya selaku penganut prinsip, “selesaikan dulu satu urusan, baru kemudian urusan yang lain”, jadi saya pikir PES, Call OF Duty, DOTA, atau COC sekali pun tidak terlalu menarik minat saya. Ngrampungi Zuma wae ora barbar arep ngurusi liyane.

Memang saya ini gaptek. Gagap teknologi. Banyak tidak tahunya daripada tahunya. Kuliah tahun 2004 saya sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. Menyalakan saja belum tahu caranya. Ini yang dipencet yang mana dulu. Untungnya di kampus mendapatkan pelajaran komputer dasar. Yang materi utamanya adalah bagaimana langkah-langkah menyalakan kemudian bagaimana cara mematikan komputer yang benar. Saya takut ketika itu. Takut kesetrum. Baru tahun 2005 saya memberanikan diri untuk sering main ke rental komputer dekat kosan. Bisa memasang gambar bunga mawar di microsoft word saja malamnya saya tidak bisa tidur. Bahagia sekali rasanya. Tahun 2006 mulai lebih sering pergi ke rental. Baik mengerjakan tugas, maupun mengetik cerita-cerita pendek. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama sama microsoft word. Dan sangat sulit move on sampai sekarang. Jadi kalau sekarang manusia-manusia canggih kekinian membicara mac pro, apple, jeruk, nanas, jellybean, pokoke sing update-update kae, aku mung thola-tholo tok. Pengen sih ikut pembicaraan mereka. Tapi pasti aneh. Wong referensi saya mentok di Air Strike dan Zuma.

Termasuk kedekatan saya dengan smartphone. Atau mobilephone. Atau handphone. Terserah penyebutannya apa yang jelas itu bukan buatan Indonesia. Tahun 2008 saya diperkenalkan dengan dunia online shop, mau tidak mau saya harus menambah prosentase pengetahuan saya soal gawai. Ngerti gawai? Bahasa Indonesiane gadget kuwi gawaiBasa Jawane gaweDadi gadget yaiku, barang sing gunane kanggo gawe-gawe.

Dunia perniagaan online tidak hanya cukup menggunakan komputer/laptop saja. Tetapi harus ditunjang dengan keberadaan smartphone. Begitu teorinya kira-kira. Awalnya saya berkomunikasi dengan klien cukup melalui telpon dan pesan singkat. Ternyata banyak klien yang menyarankan agar saya beralih ke komunikasi chat. Alasannya kebaruan berita barang dagangan bisa dengan cepat diterima. Dan kepercayaan klien semakin meningkat manakala saya memiliki ‘PIN BB’.

“Mas, ada pin BB?” pertanyaan itu semakin sering saya dapatkan. Kemudian di suatu ramadhan kira-kira tujuh tahun yang lalu, saya pergi memberanikan diri ke Pasar Singosaren Solo untuk membeli Blackberry. Larang lek! Jaman itu cukup sayang sebenarnya kalau harus dibelikan barang yang besarnya sama dengan tempe mendoan karena menuruti perkembangan jaman. Buat saya rasanya seperti menggelar pesta pernikahan di gedungnya Pak Jokowi. Tapi mau bagaimana lagi ternyata benar bahwa kepercayaan klien meningkat. Dan pembeli semakin banyak. Itu dulu.

Kemudian ada salah satu makhluk bernama ‘android’ (penggemar Dragon Ball sudah tidak asing dengan istilah android, Bezita dkk) mendominasi kehidupan manusia di Bumi ini. Blackberry harus rela hanya menjadi aplikasi digital dan menghilangkan jasadiyahnya. Saya, misuh-misuh lagi. Karena dulu pertanyaannya cukup begini.

“Ada pin BB?”

Sekarang tambah lagi, “Ada WA?”

Satu, saya harus punya andorid. Baru kemudian saya bisa memiliki WA. Bisa saja Blackberry diinstal WA tetapi efeknya baterainya akan hamil. Paling aman memang memakai android. Di tengah kegalauan saya ketika itu, tiba-tiba ada manusia menghampiri meja kerja saya.

“Pak, mau ganti hape?

“Nggak. Sayang kalau beli.”

“Saya belikan. Besok saya beri uangnya.”

Saya melongo dong. Tak ada angin hujan badai puting beliung, tahu-tahu ada orang menawarkan diri membelikan hape. Saya pikir pasti ada pamrihnya. Pasti ada maunya. Ternyata begitu saya diberi uang dan uang itu saya gunakan untuk beli hape android, dia biasa saja. Ealah. Model apa meneh iki Gusti? Dan sejak tiga tahun yang lalu Blackberry saya pensiunkan. Rusak? Nggak. Masih bagus? Masih. Mau dijual lagi? Emang ada yang beli? Sekarang dipakai istri.

Pun dengan penggunaan hape android merk *A*SU** ini. Ora penak meneh nyensore? Dipenake wae ya. Sejak beli sampai sekarang tidak pernah terbesit untuk ganti yang baru. Karena ukuran tiga tahun tren hape android itu memiliki kecepatan dan perhitungan yang menurut saya tidak bisa dimasukkan ke nalar. Kok tiga tahun, wongsebulan saja sudah keluar yang baru lagi. Lebih canggih. Lebih jelas. Lebih jernih. Lebih tipis. Tapi sayangnya tidak lebih murah. Lak ndligik to kuwi?

Bisa dibayangkan tertinggal tiga tahun kan? Maka yang terjadi adalah karena tidak adanya pembaharuan, yang bisa saya lakukan demi kelangsungan hidup hape saya adalah, saya membatasai penggunaannya. Sebagaimana saya membatasi penggunaan laptop saya. Beberapa aplikasi di hape sudah saya hapus. Dulu aplikasi BB jumlahnya saya kloning sampai tiga biji demi keperluan promosi. Sekarang aplikasi BB dan game Onet kesayangan harus rela pergi. Grup WA juga saya batasi karena sering muncul peringatan,

“Kapasitas rendah.” Padahal tidak dipakai buat apa-apa.

Maka dari itu para hadirin yang dimuliakan Allah, kalau saya keluar dari grup WA, karena semata-mata memang gawai saya. Kalau ada broadcast atau perbincangan massal, ditambah pengiriman gambar-gambar, atau file-file tertentu yang cukup masif, gawai saya meronta-ronta kisanak.

“Uwes mas uwes. Ojo mbok dileboni meneh. Uwes kakehan iki mas. Uweeeesss…..”

………………

“Pak, istrimu ada WA?”

“Nggak ada. Pakai punya saya.”

“Kenapa?”

“Saya selalu menganggap komunikasi dengan istri adalah hal yang sangat istimewa dan penting. Maka cukup dengan SMS saja atau telpon.”

“Apa hubungannya hal yang penting dengan SMS?”

“Pernah dengar pernyataan seperti ini, Maaf sementara BBM dan WA off dulu. Kalau penting SMS aja. Berarti selama ini pakai BBM dan WA-nan nggak penting-penting amat kan?”

“Karepmu Pak. Ngomong wae lagi ngirit.”

 

Oleh: Didik W. Kurniawan

Tulisan terkait